Yield Obligasi 10 Tahun Jepang Melonjak ke Level Tertinggi dalam Hampir 16 Tahun
JAKARTA, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang melonjak pada hari Kamis (06/03/2025), dengan imbal hasil JGB 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2009. Para ahli menunjuk tekanan dari aksi jual obligasi secara global sebagai penyebabnya.
Baca Juga
Imbal hasil obligasi JGB 10 tahun naik hampir 8 basis poin, menembus angka 1,5% untuk pertama kalinya sejak 2009, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun juga naik 13 basis poin, melampaui 2,5% untuk pertama kalinya sejak 2008.
Menurut Masahiko Loo, ahli strategi pendapatan tetap senior di State Street Global Advisors, aksi jual JGB ini terjadi bersamaan dengan tekanan kenaikan imbal hasil global. Imbal hasil obligasi 10 tahun AS naik 5 basis poin menjadi 4,317%.
Yujiro Goto, kepala strategi valas untuk Jepang di Nomura, mengatakan kepada CNBC bahwa kondisi penawaran dan permintaan saat ini tidak mendukung pasar JGB, sambil menyoroti kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah Eropa.
"Investor kini memperkirakan pemerintah Uni Eropa dan Jerman akan meningkatkan pengeluaran fiskal, yang menambah tekanan naik pada imbal hasil obligasi global," katanya.
Baca Juga
Inflasi Jepang Januari Melonjak 4% YoY, Isyarat BOJ Dongkrak Suku Bunga Acuan
Komentar dari Wakil Gubernur Bank of Japan (BOJ) Shinichi Uchida juga berkontribusi pada aksi jual tersebut. Uchida dilaporkan mengatakan bahwa bank sentral kemungkinan akan "menaikkan suku bunga dengan kecepatan yang sejalan dengan pandangan dominan di pasar keuangan dan di kalangan ekonom."
“Investor seperti bank-bank Jepang tetap berhati-hati dengan selera risiko yang terbatas menjelang akhir tahun keuangan pada Maret, ditambah dengan ekspektasi berlanjutnya siklus kenaikan suku bunga BOJ,” urai Loo.
Baca Juga
Ekonomi Jepang Q4 Lampaui Ekspektasi, tapi Pertumbuhan PDB 2024 Merosot
Pekan lalu, Uchida juga mengatakan bahwa BOJ akan terus mengurangi pembelian obligasi pemerintah meskipun ada kenaikan imbal hasil baru-baru ini.
Sejak mulai menormalisasi kebijakan moneter ultra-longgarnya tahun lalu, BOJ menyatakan akan mengurangi pembelian JGB sekitar 400 miliar yen setiap kuartal kalender.
Mitul Kotecha, kepala strategi valas dan suku bunga Asia di Barclays, dalam siaran acara CNBC mengatakan bahwa aksi jual ini sebagian didorong oleh kenaikan inflasi Jepang.
"Banyak orang mengatakan bahwa inflasi riil bahkan lebih tinggi dari ukuran resmi yang ada. Jadi saya pikir sebagian dari ini adalah pergerakan inflasi yang mendorong imbal hasil lebih tinggi," bebernya.
Inflasi utama Jepang telah berada di atas target 2% BOJ selama 34 bulan berturut-turut, dengan angka terbaru pada Januari mencapai level tertinggi dalam dua tahun sebesar 4%.
Sementara itu, tingkat inflasi core-core, yang tidak memasukkan harga makanan segar dan energi serta dipantau ketat oleh BOJ, naik sedikit menjadi 2,5% pada Januari, level tertinggi sejak Maret 2024.
Tingkat inflasi yang lebih tinggi meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh BOJ, yang mendorong naiknya imbal hasil obligasi.

