Aktivitas Manufaktur Jepang Turun ke Level Terendah dalam 19 Bulan, Tertekan Sektor Otomotif dan Semikonduktor
Poin Penting
• Indeks manufaktur Jepang (PMI) turun ke 48,2 di Oktober, level terendah sejak Maret 2024, menandakan kontraksi empat bulan beruntun.
• Permintaan baru merosot paling tajam dalam 20 bulan, sementara ekspor turun untuk bulan ke-44, terutama ke Asia, Eropa, dan AS.
• Inflasi biaya input naik ke tertinggi empat bulan, dengan harga output juga meningkat untuk melindungi margin keuntungan.
• Produsen tetap optimistis pada prospek jangka menengah, berharap pada peluncuran produk baru, adopsi AI, dan pemulihan sektor otomotif serta semikonduktor.
TOKYO, investortrust.id - Aktivitas manufaktur Jepang menyusut pada Oktober dengan laju tercepat dalam 19 bulan terakhir, tertekan oleh lemahnya permintaan di sektor otomotif dan semikonduktor utama. Hal itu terungkap berdasarkan survei sektor swasta, yang dirilis Selasa (4/11/2025).
Baca Juga
Inflasi Jepang Naik Pertama Kali Sejak Mei, Ujian Awal bagi PM Baru Takaichi
Indeks S&P Global Japan Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) turun ke level 48,2 pada Oktober dari 48,5 di September, lebih rendah dari pembacaan awal (flash) sebesar 49,3, dan menjadi titik terendah sejak Maret 2024.
Indeks utama tersebut telah berada di bawah ambang batas 50,0 — yang memisahkan ekspansi dari kontraksi — selama empat bulan berturut-turut.
Pesanan baru turun dengan laju tercepat dalam 20 bulan, terdampak oleh keterbatasan anggaran klien dan lemahnya permintaan, sementara pesanan ekspor merosot untuk bulan ke-44 berturut-turut, khususnya dari Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Meski begitu, laju kontraksi ekspor tercatat paling lambat sejak Maret.
“Pelemahan permintaan, terutama di sektor otomotif dan semikonduktor, memberikan tekanan besar pada industri manufaktur Jepang,” beber Pollyanna De Lima, Associate Director of Economics di S&P Global Market Intelligence, dikutip dari Reuters.
Kendati permintaan menurun, penurunan output produksi tidak sedalam bulan sebelumnya karena produsen mulai menyesuaikan kapasitas dengan berkurangnya pesanan baru.
Baca Juga
Optimisme Perdagangan AS-Jepang Dorong Nikkei 225 Tembus Rekor di Atas 51.000
Inflasi biaya input meningkat ke level tertinggi dalam empat bulan, didorong kenaikan biaya tenaga kerja, bahan baku, dan transportasi. Harga output produsen juga naik ke level tertinggi dalam tiga bulan karena perusahaan berupaya mempertahankan margin keuntungan.
Inflasi konsumen Jepang terus meningkat, sebagaimana ditunjukkan oleh data harga di Tokyo pada Jumat lalu, menambah tekanan terhadap Bank of Japan yang masih mempertahankan suku bunga acuan di 0,5% dalam pertemuan kebijakan pekan lalu.
Meskipun situasi saat ini menantang, prospek manufaktur Jepang membaik pada Oktober, didukung harapan terhadap peluncuran produk baru, peningkatan adopsi AI, serta pemulihan sektor otomotif dan semikonduktor seiring normalisasi perdagangan global.
“Mereka umumnya berharap peluncuran produk baru akan sukses dan dampak negatif tarif AS akan memudar,” ujar De Lima.

