Xi Jinping Gelar Pertemuan dengan Bos Perusahaan Teknologi China, Bahas Apa?
BEIJING, investortrust.id – Presiden China, Xi Jinping, bertemu dengan sejumlah bos perusahaan teknologi ternama pada Senin (17/2/2025). Mereka yang bertemu dengan Jinping adalah Jack Ma (Alibaba), Ren Zhengfei (Huawei), Liang Wenfeng (DeepSeek), dan Wang Chuanfu (BYD).
Dalam pertemuan tersebut, Jinping menekankan pentingnya mendorong sektor swasta yang sehat dan berkualitas tinggi, sebuah sinyal yang kontras dengan kebijakan sebelumnya yang cenderung membatasi pertumbuhan sektor teknologi.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa (18/2/2025), pernyataan ini menandai perubahan arah kebijakan ekonomi China, setelah Beijing memperketat regulasi terhadap perusahaan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu momen paling kontroversial terjadi pada 2020, ketika pemerintah membatalkan IPO Ant Group, anak perusahaan Alibaba, yang diperkirakan dapat meraih dana US$ 37 miliar.
Kehadiran Jack Ma dalam pertemuan ini menarik perhatian karena ia sempat menghilang dari publik setelah mengkritik otoritas China. Namun, dalam setahun terakhir ia mulai kembali aktif, dan saham Alibaba telah naik 47% sejak awal tahun 2024.
Baca Juga
Selain Alibaba, sektor teknologi China mulai mendapatkan kembali momentumnya. Tencent misalnya, mereka mengumumkan bahwa tengah menguji coba integrasi teknologi DeepSeek ke dalam platform mereka.
Sementara itu, perusahaan mobil listrik BYD terus memperkuat posisinya di pasar global. Meskipun BYD tidak bisa masuk ke pasar AS, namun perusahaan ini telah berhasil menyalip penjualan Tesla sebagai produsen kendaraan listrik terbesar dunia pada akhir 2023, dengan penjualan 526.000 unit kendaraan listrik hanya dalam kuartal keempat tahun itu.
Ekonomi China Masih Tertekan
Meskipun ada optimisme di sektor teknologi dan manufaktur, ekonomi China masih menghadapi tantangan berat. Pertumbuhan ekonomi pada 2023 hanya mencapai 5,2%, lebih rendah dari ekspektasi. Pasar properti yang melemah dan tren demografi yang menurun menjadi dua faktor utama yang memperlambat pemulihan ekonomi.
Namun, pemerintah Negeri Tirai Bambu berusaha mengatasi perlambatan ini dengan berbagai stimulus ekonomi, termasuk pemotongan suku bunga dan insentif untuk perusahaan manufaktur, didorong oleh harapan bahwa pemerintah akan memberikan dukungan lebih besar kepada sektor swasta.
Di tengah ketidakpastian ini, tensi dagang antara China dan AS dilaporkan masih menjadi ancaman. Washington baru-baru ini memberikan sinyal tidak konsisten terkait kebijakan terhadap Taiwan. Selain itu, adanya potensi peningkatan tarif terhadap produk-produk China di AS dapat mempersulit pemulihan ekonomi. (C-13)

