Powell Sebut Bank Sentral Tak Terburu-buru Pangkas Suku Bunga Lagi
WASHINGTON, investortrust.id - Federal Reserve mempertahankan suku bunga dalam kisaran target 4,25% hingga 4,50% pada pertemuan pertama FOMC tahun ini. Para pembuat kebijakan memperingatkan bahwa inflasi masih "agak tinggi."
Baca Juga
Keputusan ini diambil setelah bank sentral memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut di akhir 2024.
Dalam konferensi persnya, Rabu waktu AS, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa bank sentral tidak terburu-buru untuk menyesuaikan kebijakan, terutama karena ekonomi masih tetap kuat.
Powell menyatakan bahwa ada banyak kemungkinan terkait dampak tarif impor terhadap ekonomi.
"Jangkauan kemungkinannya sangat, sangat luas. Kami tidak tahu seberapa lama atau seberapa besar dampaknya, negara mana yang akan terlibat. Kami juga tidak tahu tentang kemungkinan pembalasan, atau bagaimana tarif ini akan mempengaruhi ekonomi dan konsumen. Itu semua masih harus dilihat," urainya, seperti dikutip CNBC
"Yang terbaik yang bisa kami lakukan adalah yang telah kami lakukan—mempelajari masalah ini, melihat pengalaman historis, membaca literatur, dan mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin berpengaruh," lanjut Powell. "Dan kemudian kita akan melihat bagaimana perkembangannya."
Tak Berkomunikasi dengan Trump
Jerome Powell juga menegaskan kembali bahwa ia tidak memiliki komunikasi dengan Trump sejak presiden mengatakan pekan lalu bahwa ia akan "menuntut agar suku bunga segera diturunkan."
Baca Juga
Berbicara di WEF Davos, Trump Minta Suku Bunga dan Harga Minyak Diturunkan
"Saya tidak akan memberikan tanggapan atau komentar apa pun mengenai apa yang dikatakan presiden," kata Powell dalam konferensi pers pada Rabu. "Tidak pantas bagi saya untuk melakukannya."
"Publik harus yakin bahwa kami akan terus bekerja sebagaimana biasanya, dengan fokus menggunakan alat kebijakan kami untuk mencapai tujuan kami, tetap berkepala dingin, dan menjalankan tugas kami," tambahnya.
Powell menegaskan bahwa The Fed perlu melihat "kemajuan nyata pada inflasi atau pelemahan di pasar tenaga kerja sebelum mempertimbangkan perubahan kebijakan."

