Menkeu AS Sebut Trump Tak akan Menekan The Fed Pangkas Suku Bunga
WASHINGTON, investortrust.id - Pemerintahan Trump lebih fokus menjaga imbal hasil obligasi pemerintah (Treasury) tetap rendah daripada memperhatikan kebijakan Federal Reserve. Hal itu dikatakan Menteri Keuangan Scott Bessent, Rabu waktu AS.
Meskipun di masa lalu Presiden Donald Trump pernah mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga acuannya, Bessent mengatakan bahwa strategi saat ini adalah menggunakan kebijakan fiskal untuk menjaga suku bunga tetap rendah. Patokan yang digunakan oleh pemerintahan ini adalah obligasi Treasury 10 tahun, bukan suku bunga dana federal yang dikendalikan oleh bank sentral, tambahnya.
Baca Juga
"Presiden menginginkan suku bunga lebih rendah," kata Bessent dalam wawancara di Fox Business. "Dia dan saya fokus pada obligasi Treasury 10 tahun dan berapa imbal hasilnya," ujarnya.
Per September 2024, The Fed memulai siklus pemotongan suku bunga yang memangkas suku bunga dana federal sebesar satu poin persentase penuh. Suku bunga acuan ini menentukan biaya pinjaman antar bank untuk jangka pendek, tetapi secara historis juga memengaruhi berbagai jenis pinjaman lain, seperti kredit mobil, hipotek, dan kartu kredit.
Namun, imbal hasil obligasi Treasury justru meningkat setelah pemotongan suku bunga oleh The Fed, begitu juga dengan indikator pasar yang mencerminkan ekspektasi inflasi. Sejak Trump menjabat kembali, imbal hasil obligasi 10 tahun sebagian besar mengalami penurunan dan turun sekitar 10 basis poin, atau 0,1 poin persentase, dalam perdagangan hari Rabu.
Bessent mengindikasikan bahwa Trump tidak akan lagi menekan The Fed untuk memangkas suku bunga seperti yang ia lakukan pada masa jabatan pertamanya.
"Dia menginginkan suku bunga lebih rendah. Namun, dia tidak meminta The Fed untuk menurunkannya," kata Bessent. Trump percaya bahwa "jika kita melakukan deregulasi ekonomi, menyelesaikan undang-undang pajak ini, dan menurunkan harga energi, maka suku bunga akan menyesuaikan dengan sendirinya, begitu pula nilai dolar."
Baca Juga
Powell Sebut Bank Sentral Tak Terburu-buru Pangkas Suku Bunga Lagi
Salah satu prioritas pemerintahan ini adalah menjadikan Undang-Undang Pemotongan Pajak dan Pekerjaan (Tax Cuts and Jobs Act) permanen, serta fokus pada eksplorasi energi dan pengurangan defisit.
"Kita memangkas pengeluaran, mengurangi ukuran pemerintahan, meningkatkan efisiensi dalam pemerintahan, dan kita akan memasuki siklus suku bunga yang baik," kata Bessent.
Pernyataan Menteri Keuangan mengenai penargetan imbal hasil obligasi "konsisten dengan pandangan kami bahwa dia pada dasarnya memiliki satu tugas, mencegah imbal hasil obligasi 10 tahun menembus 5%. Jika itu terjadi, kami berpikir bahwa kebijakan ekonomi Trump akan terganggu, menyebabkan pasar saham turun dan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti perumahan, melemah," tulis Krishna Guha, kepala strategi kebijakan global dan bank sentral di Evercore ISI, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Investor Pertimbangkan Dampak Tarif Trump, Yield USTreasury 10-Tahun Turun
Imbal hasil obligasi 10 tahun terakhir diperdagangkan di angka 4,45%, turun dari puncaknya pada pertengahan Januari sebesar 4,8%.
Beberapa hari yang lalu, Trump menyatakan bahwa ia setuju dengan keputusan The Fed pada 29 Januari untuk mempertahankan suku bunga dana federal tetap stabil, yang menurut Guha "meredakan ketegangan" antara kedua pihak dan dapat berdampak positif bagi pasar.

