Penjualan Tesla Anjlok, BYD Malah Makin Berkibar
JAKARTA, investortrust.id – Produsen mobil listrik AS Tesla mencatat penurunan penjualan, sementara pesaingnya dari China, BYD, justru makin berkibar.
Laporan terbaru menyebutkan, penjualan mobil listrik Tesla turun tajam di lima negara Eropa pada Januari, seiring dengan meningkatnya persaingan dari produsen mobil yang menawarkan model terbaru.
Baca Juga
Persaingan di Pasar Mobil Listrik Makin Brutal, Saham Tesla 'Nyungsep'
Di sisi lain, jajak pendapat menunjukkan opini publik terhadap CEO Elon Musk semakin memburuk.
Musk semakin terlibat dalam politik, dengan sebagian besar tahun 2024 diwarnai oleh dukungan finansialnya terhadap Donald Trump. CEO miliarder ini menggelontorkan $250 juta untuk kampanye Trump, yang akhirnya berhasil kembali ke Gedung Putih. Ia juga menuai kontroversi dengan dukungannya terhadap partai-partai sayap kanan di Inggris dan Jerman melalui platform media sosialnya, X.
Pada Januari, penjualan mobil Tesla anjlok 63% di Prancis, Sebanyak 405 unit Tesla baru terdaftar di Swedia bulan lalu, turun 44% dibandingkan Januari 2024. Pendaftaran di Norwegia turun menjadi 689 unit, mengalami penurunan 38% dalam periode yang sama, meskipun permintaan mobil secara keseluruhan di kedua negara tersebut meningkat tajam. Di Belanda, penjualan Tesla merosot 42%.
Selain dukungannya yang kuat terhadap mantan Presiden AS Donald Trump, Musk juga mengungkapkan pandangan politik yang kontroversial di Eropa dan wilayah lainnya. Hal ini menuai kritik dari sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Perdana Menteri Norwegia dan Kanselir Jerman.
Di Jerman, pada Januari, Tesla menjual hampir 60% lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Data dari badan lalu lintas jalan raya Jerman (KBA), seperti dikutip Reuters, Rabu (05/02/2025), menunjukkan jumlah pendaftaran mobil Tesla yang baru turun 59,5% menjadi 1.277 unit pada Januari.
Sebagai perbandingan, pasar otomotif Jerman secara keseluruhan hanya turun 2,8% dengan lebih dari 207.000 kendaraan terjual dalam bulan tersebut.
Namun, segmen kendaraan listrik berbasis baterai, tempat Tesla bersaing, justru semakin populer di Januari, dengan peningkatan penjualan sebesar 53,5% menjadi hampir 34.500 unit di seluruh merek.
Di California, pasar mobil terbesar di AS dengan lebih dari 1,7 juta registrasi kendaraan pada tahun 2024, penjualan Tesla turun hingga 12%.
Gebrakan BYD
Sementara itu, pesaing Tesla, BYD menjual 300.538 kendaraan listrik pada bulan Januari, naik 47,5 dari bulan yang sama tahun lalu. Ekspor BYD melonjak menjadi 66.336 unit, naik 83,3 persen dari tahun lalu, menjadikannya rekor bulanan baru.
Awal tahun 2025, BYD mencetak rekor baru dalam penjualan kendaraan listrik komersial. Setelah meraih penjualan cukup baik pada 2024, BYD kembali membuat kejutan, dengan penjualan kendaraan listrik komersial melonjak hingga 763% dibandingkan Januari 2024. Hal ini menandai kuatnya dominasi BYD di pasar kendaraan listrik global.
Penjualan bus listrik BYD sedikit menurun di Januari 2025, dari 325 unit menjadi 286 unit. Meski turun 12%, angka ini dinilai masih wajar karena pasar kendaraan komersial cenderung fluktuatif setiap bulannya.
Namun, penjualan kendaraan listrik komersial BYD di luar kategori bus, melonjak. Dari hanya 149 unit yang terjual pada Januari 2024, kini angka tersebut melejit hingga 3.806 unit pada Januari 2025.
Kontroversial
Pada tahun 2024, Tesla membukukan penurunan pengiriman tahunan pertamanya, meskipun masih menjadi penjual EV terkemuka di Amerika Serikat. Musk mengatakan bahwa ia akan segera meluncurkan EV murah yang telah lama ditunggu-tunggu pada tahun 2025, dan perusahaan telah meningkatkan fokusnya pada teknologi mengemudi otonom.
Perusahaan tersebut turun dari posisi No. 2 untuk penjualan EV di Inggris pada bulan Januari 2024 ke posisi No. 7 di belakang Volkswagen, Mercedes, dan Stellantis, Peugeot, yang semuanya membukukan penjualan yang lebih tinggi. Tesla tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang penjualannya.
Beberapa jajak pendapat menunjukkan konsumen memiliki pandangan yang beragam tentang Musk. Survei akhir Januari yang dilakukan oleh situs web ulasan kendaraan listrik Electrifying.com menunjukkan bahwa 59% pemilik kendaraan listrik Inggris, dan mereka yang berniat membeli kendaraan semacam itu, mengatakan pengaruh Musk akan menghalangi mereka membeli Tesla.
Baca Juga
Elon Musk Kritik Pemerintah Inggris, Hubungan AS-Inggris Memanas Jelang Pelantikan Trump
Selain dukungannya yang kuat terhadap mantan Presiden AS Donald Trump, Musk juga mengungkapkan pandangan politik yang kontroversial di Eropa dan wilayah lainnya. Hal ini menuai kritik dari sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Perdana Menteri Norwegia dan Kanselir Jerman.
"Pengaruh Musk pada merek tersebut semakin terpolarisasi, mendorong banyak pembeli untuk mencari di tempat lain," kata CEO Electrifying.com Ginny Buckley. Dengan lebih dari 130 model kendaraan listrik arus utama yang sekarang tersedia di Inggris, dibandingkan dengan hanya 25 pada tahun 2020, diyakini Tesla merasakan tekanan dari persaingan yang ketat ini.
Politisi Eropa akhir-akhir ini telah menolak komentar terbaru Musk, yang mencakup amplifikasi komentator sayap kanan di X. Beberapa akun telah keluar dari platform tersebut, dengan alasan penyebaran informasi yang salah. Musk telah menolak kritik terhadapnya sebagai penghinaan terhadap demokrasi dan kebebasan berbicara.
CEO Tesla ini juga menjadi pendukung vokal partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) menjelang pemilu Februari. Baru-baru ini, ia mengatakan kepada audiens AfD - hanya beberapa hari sebelum peringatan 80 tahun pembebasan kamp konsentrasi Auschwitz - bahwa orang Jerman tidak seharusnya merasa bersalah atas dosa kakek buyut mereka.
Di Swedia, citra Tesla juga merosot. Menurut jajak pendapat Novus yang dilakukan setelah pelantikan Donald Trump, hanya 11% orang Swedia yang memiliki pandangan positif terhadap Tesla, turun dari 19% dalam survei yang dilakukan pada 15-17 Januari, menurut laporan kantor berita TT. Sementara itu, jumlah orang dengan pandangan negatif terhadap Tesla melonjak menjadi 63% dari sebelumnya 47%.
Namun, CEO grup riset New AutoMotive, Ben Nelmes, mengatakan bahwa masalah Tesla lebih disebabkan oleh kurangnya inovasi produk dibandingkan kontroversi yang melibatkan Musk.
"Ini bukan soal pandangan Musk atau pendapat pengemudi Inggris tentangnya.Tesla berhenti berinovasi setelah Model Y," katanya, seperti dikutip USA Today.
Baca Juga
TikTok akan Dibeli Elon Musk atau Larry Ellison? Ini Sinyal dari Trump.
Meskipun berbagai tantangan ini, saham Tesla tetap mengungguli pasar. Dalam setahun terakhir, harga sahamnya lebih dari dua kali lipat. Saat ini, saham Tesla diperdagangkan dengan rasio forward price-to-earnings (P/E) lebih dari 131, jauh melampaui produsen mobil konvensional maupun saham teknologi terkemuka yang umumnya memiliki rasio P/E di kisaran 20-an, menurut data LSEG.

