Era Baru Energi Nuklir antara Barat dan China, Bagaimana di Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id - Dunia akan menghasilkan lebih banyak energi nuklir pada 2025 dibandingkan sebelumnya. Sebuah laporan terbaru Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, pasar, teknologi, dan landasan kebijakan sudah siap untuk era baru tenaga nuklir dalam beberapa dekade mendatang.
Sektor publik dan swasta sama-sama menyelaraskan dalam mendukung perluasan energi nuklir untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun karena nuklir menghadirkan solusi menggoda untuk mencukupi kebutuhan energi yang terus meningkat sekaligus memenuhi target dekarbonisasi.
"Kebangkitan energi nuklir yang diprediksi IEA beberapa tahun lalu sedang berlangsung. Nuklir menghasilkan rekor tenaga listrik pada 2025," kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol terkait publikasi dilansir Oil Price, Senin (27/1/2205).
Baca Juga
Pengembangan Pembangkit Nuklir Dipercepat, Sudah Ada Investornya?
Sementara lebih 70 gigawatt kapasitas nuklir baru sedang dibangun di dunia, tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Selain itu, lebih 40 negara memiliki rencana memperluas peran nuklir dalam sistem energi mereka.
Meski kelemahan energi nuklir sudah diketahui, seperti tantangan pengelolaan limbah, biaya awal tinggi, dan beberapa bencana, para pendukungnya berpendapat, kelemahan ini tidak dapat menutupi manfaat energi nuklir.
Mengingat dilema energi global - penyediaan energi yang mencukupi, bersih, dan terjangkau- mengerikan, para pendukung energi nuklir tidak lagi mengabaikan solusi yang ditawarkan.
Akibatnya, investasi global tenaga nuklir meningkat tajam. Investasi di sektor yang direvitalisasi ini diproyeksikan mencapai US$ 75 miliar pada 2030. Selain itu, 63 reaktor saat ini sedang dibangun. Setelah selesai, reaktor-reaktor ini akan menambah kapasitas sebesar 70 gigawatt.
"Pertumbuhan itu sebagian dikaitkan dengan meningkatnya minat sektor swasta, khususnya untuk memenuhi kebutuhan energi sepanjang waktu di pusat data," kantor berita Semafor melaporkan minggu lalu.
Baca Juga
Raksasa Teknologi Ramai-Ramai Jajaki Energi Nuklir, Ini Alasannya
Memang, sektor teknologi telah memberikan dukungan besar terhadap penelitian dan pengembangan nuklir dalam beberapa tahun terakhir karena permintaan energi di Silicon Valley meningkat dan target dekarbonisasi menjadi semakin tidak realistis di era AI.
Namun, sebagian booming energi nuklir tidak berasal dari California atau dunia Barat. Pertumbuhan didorong Tiongkok, dengan dukungan teknologi dan manufaktur Rusia. “Dari 52 reaktor yang mulai dibangun di seluruh dunia sejak 2017, sebanyak 25 adalah rancangan Tiongkok dan 23 di antaranya rancangan Rusia,” lapor IEA.
“Pasar teknologi nuklir yang terkonsentrasi serta produksi uranium, merupakan risiko masa depan dan menggarisbawahi perlunya keragaman dalam rantai pasokan,” kata IEA.
Nuklir di Indonesia
Sementara Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan, pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) bakal dipercepat, mulai 2029. Hal ini bertujuan untuk mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT).
Yuliot memaparkan, dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060 yang telah ditetapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, kapasitas pembangkit listrik pada 2060 ditargetkan mencapai 443 gigawatt (GW), dengan 79% di antaranya berasal dari EBT. Untuk itu, PLTN diharapkan menjadi salah satu penopang.
Baca Juga
Berencana Bangun PLTN Berkapasitas 250 MW, Indonesia Segera Lapor IAEA
“Kan ini harus ada bauran energi, kapasitasnya juga cukup besar. Jadi untuk mengisi target bauran energi itu perlu ada percepatan pengembanganan PLTN dalam kajian kita 2029-2032,” ungkap Yuliot saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Kamis (23/1/2025).

