Di WEF Davos, Anindya Bakrie Ungkap Peluang Indonesia Menjadi Pemain Penting Kendaraan Listrik
DAVOS, investortrust.id – Chief Executive Officer (CEO) Bakrie & Brothers yang juga Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, Indonesia berpeluang memiliki ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang lengkap dan menjadi pemain penting dalam rantai pasok EV global.
“Indonesia akan memiliki ekosistem rantai pasok kendaraan listrik karena kami memiliki kemauan dan sumber daya untuk berada di sana sehingga dapat berkontribusi kepada dunia,” kata Anindya Bakrie dalam sesi diskusi bertajuk Getting EV Supply Chains Right yang digelar pada forum tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Senin (20/1/2025) waktu setempat.
Diskusi yang dipandu Pemimpin Redaksi Business Insider Jamie Heller itu menghadirkan Jakob Stausholm (CEO Rio Tinto Group), Anindya Novyan Bakrie (CEO Bakrie & Brothers), Bonginkosi Emmanuel "Blade" Nzimande (Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Inovasi Afrika Selatan), Elizabeth Shuler (President AFL-CIO), dan Pan Jian (Vice Chairman CATL).
Baca Juga
Anindya Bakrie: Kadin Bantu Pemerintah Promosikan Indonesia di WEF Davos
Business Insider menyebutkan, meskipun pertumbuhan penjualan kendaraan listrik di Amerika Serikat (AS) dan Eropa melambat, sedikitnya 30 juta kendaraan listrik baru akan hadir menyesaki jalanan berbagai negara pada 2027. Untuk meningkatkan produksi, produsen EV berlomba-lomba mengamankan rantai pasok yang andal dan berkelanjutan untuk komponen material vital, dari baterai hingga mineral kritis.
Anindya Bakrie mengemukakan, Indonesia bakal memiliki ekosistem EV yang komplit karena punya berbagai jenis mineral kritis, seperti nikel, tembaga, timah, dan bauksit sebagai bahan baku utama komponen EV, khususnya baterai.
“Di bawah tanah, kami memiliki mineral penting seperti nikel. Sekitar 22% cadangan nikel dunia ada di Indonesia. Kami juga berada di peringkat ke-5 sebagai produsen timah, tembaga, dan bauksit terbesar di dunia,” ujar dia.
Baca Juga
WEF 2025 Dibuka, 3.000 Pemimpin dari 130 Negara Fokus Bahas AI, Iklim, dan Tantangan Global
Tak cuma kaya bahan tambang mineral, menurut Anindya, Indonesia juga memiliki potensi yang sangat besar di bidang energi terbarukan, seperti panas bumi, energi hidro, surya, dan angin.
“Dan di atas tanah, kami memiliki potensi energi terbarukan, seperti panas bumi, hidro, surya, dan angin. Pemerintah berencana dalam 15 tahun ke depan membangun pembangkit listrik berkapasitas 100 gigawatt yang 75%-nya berasal dari energi terbarukan,” papar dia.
Anin menambahkan, pemanfaatan mineral untuk EV dan penggunaan energi terbarukan merupakan kombinasi yang ideal, sehingga Indonesia akan menjadi salah satu negara yang berperan penting dalam program pengurangan emisi dunia.
“Kami juga sangat bangga dengan keanekaragaman hayati yang kami miliki, mulai dari hutan, lahan gambut, hutan bakau, hingga terumbu karang. Kami punya potensi 500 gigaton untuk penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage),” tutur dia.
Peran Strategis Indonesia
Anindya Bakrie menegaskan, sebagai negara terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki peran strategis dalam pengurangan emisi global. Dengan populasi 285 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar. Alhasil, transisi penggunaan energi dari energi fosil ke energi terbarukan akan berdampak besar terhadap pengurangan emisi.
Anin menjelaskan, Indonesia harus beralih ke energi bersih yang terjangkau agar subsidi energi bisa dialihkan ke program-program yang krusial, seperti pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran.
“Kami ingin melakukan ini karena kami masih mengimpor minyak, sehingga subsidi masih ada. Jadi,kami ingin menggunakan uang subsidi itu untuk hal lain yang lebih urgent,” tandas dia.
Indonesia, menurut Anindya, tidak hanya ingin memproduksi baterai EV, tetapi juga ingin fokus memproduksi EV. “Saya pikir, dengan segala sumber daya yang kami miliki, Indonesia memiliki kemungkinan itu,” ucap dia.
Baca Juga
Anin mengungkapkan, Indonesia menginginkan hilirisasi mineral untuk pembuatan baterai EV, seperti nikel, bauksit, timah, dan tembaga menggunakan energi hijau. "Jadi, kami bisa menggunakan energi hijau sambil mengurangi emisi karbon,” tutur dia.
Dia mencontohkan, perusahaan-perusahaan Indonesia sudah memasok baterai atau bahan baku baterai tidak hanya ke Tiongkok, tetapi juga ke Eropa dan Amerika, seperti Volkswagen atau Ford.
Indonesia, kata Anindya, telah membuka diri bagi investor yang ingin berinvestasi dalam mata rantai atau ekosistem EV. “Indonesia terbuka untuk bisnis, termauk di industri EV,” tegas Anindya Bakrie.

