Saham Chip Melonjak di Tengah Penguatan Pasar Eropa
LONDON, investortrust.id - Pasar Eropa ditutup menguat pada Senin (06/1/2025), setelah sebelumnya turun dari level tertinggi harian. Presiden-terpilih AS Donald Trump membantah laporan media yang menyebutkan rencana tarifnya mungkin tidak seketat yang dikhawatirkan.
Baca Juga
Pasar Eropa Melemah, Saham Stellantis Tergerus Hampir 4% Gegara Penurunan Produksi
Dikutip dari CNBC, indeks regional Stoxx 600 berakhir naik 0,94%, sementara sektor otomotif kehilangan momentum, ditutup naik 3% setelah sebelumnya sempat menguat hampir 5%.
The Washington Post pada Senin melaporkan bahwa tim Trump sedang mempertimbangkan rencana untuk memberlakukan tarif pada semua negara, tetapi hanya pada "impor penting." Laporan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik produk apa saja yang akan tercakup, tetapi saham perusahaan seperti Daimler Truck asal Jerman dan Stellantis asal Italia-Amerika — yang memiliki pasar utama di AS — naik sekitar 4,5%.
Namun, Trump menulis di media sosialnya pada Senin malam:
“Cerita di Washington Post, yang mengutip sumber anonim yang sebenarnya tidak ada, secara keliru menyatakan bahwa kebijakan tarif saya akan dilonggarkan. Itu salah. Washington Post tahu itu salah. Ini hanyalah contoh lain dari Berita Palsu.”
Seorang juru bicara The Washington Post mengonfirmasi kepada CNBC bahwa publikasi tersebut “berpegang pada laporannya.”
Kinerja Saham Chip
Perusahaan chip asal Belanda menjadi pemain terbaik pada Senin, dengan ASML ditutup naik 8,7%, ASM International naik 6,2%, dan BE Semiconductor Industries naik 5,4%. Sementara itu, produsen chip yang banyak diperhatikan, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), juga mencatatkan kinerja kuat dalam perdagangan Asia, dengan sahamnya yang terdaftar di Taiwan naik 4,65% ke rekor tertinggi.
Pergerakan ini terjadi setelah raksasa elektronik Taiwan, Foxconn — pelanggan utamanya termasuk Apple dan Nvidia — melaporkan pendapatan kuartal keempat yang mencetak rekor pada hari Minggu, mendorong sahamnya naik hampir 2% pada Senin.
Inflasi Jerman naik lebih tinggi dari yang diharapkan menjadi 2,9% pada bulan Desember, menurut kantor statistik Destatis. Analis yang disurvei oleh Reuters sebelumnya memperkirakan angka 2,6%.
Inflasi yang tinggi bersama dengan laporan tarif mendorong euro naik 0,83% terhadap dolar AS menjadi $1,039. Sementara itu, pound sterling naik 0,81% terhadap dolar.
Pasar Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada Senin ketika investor menganalisis data aktivitas bisnis dari China dan Hong Kong.
Di AS, saham diperdagangkan lebih tinggi karena investor menantikan laporan pekerjaan bulan Desember pada hari Jumat. Data ini menjadi salah satu bagian penting terakhir sebelum pertemuan Federal Reserve di akhir bulan.
Investor AS juga akan memperhatikan laporan Job Openings and Labor Turnover Survey pada hari Selasa serta laporan ADP Employment untuk Desember pada hari Rabu.
Baca Juga
Penghormatan untuk Mendiang Jimmy Carter, NYSE Tutup pada 9 Januari 2025
Minggu perdagangan di AS akan lebih pendek minggu ini, karena Bursa Efek New York akan tutup pada hari Kamis untuk menghormati wafatnya mantan Presiden Jimmy Carter.

