Pasar Asia Mayoritas Menguat Didukung Rencana Stimulus China
JAKARTA, investortrust.id - Pasar Asia-Pasifik dibuka mayoritas menguat pada Selasa (10/12/2024), menyusul pelemahan di Wall Street menjelang rilis data inflasi utama.
Baca Juga
Pelaku pasar di Asia menilai pengumuman Beijing tentang langkah fiskal yang “lebih proaktif” dan kebijakan moneter yang “secara moderat” lebih longgar untuk tahun depan, dapat meningkatkan konsumsi domestik.
Pengumuman ini, yang dirilis resmi pada Selasa malam setelah pasar China daratan tutup, mendorong indeks Hang Seng Hong Kong naik hampir 3%.
Dikutip dari CNBC, indeks futures Hang Seng berada di 21.359, lebih tinggi dibandingkan penutupan terakhir HSI di 20.414,09.
Investor juga menantikan keputusan suku bunga dari Australia yang akan diumumkan kemudian pada hari ini. Survei Reuters memperkirakan Reserve Bank of Australia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35% untuk ke-10 kalinya secara berturut-turut.
Indeks S&P/ASX 200 Australia tercatat turun 0,4%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 0,3% pada awal perdagangan, sementara Topix menguat 0,35%.
Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak 1,9%, sedangkan indeks Kosdaq yang berbasis saham kecil naik 4%, seiring investor terus memantau situasi politik negara tersebut.
Di Amerika Serikat pada Senin, saham teknologi melemah karena investor bersiap untuk data inflasi utama yang akan dirilis minggu ini.
Baca Juga
Wall Street Rontok Tertekan Saham Teknologi, Dow Jones Anjlok Lebih dari 200 Poin
Indeks pasar luas S&P 500 turun 0,61% menjadi 6.052,85, sedangkan Nasdaq yang berfokus pada teknologi turun 0,62% menjadi 19.736,69. Dow Jones Industrial Average kehilangan 240,59 poin, atau 0,54%, dan berakhir di 44.401,93.
Saham Nvidia, yang menjadi penanda tren AI, turun sekitar 2,6% setelah regulator Cina mengumumkan penyelidikan terhadap perusahaan chip tersebut atas dugaan pelanggaran undang-undang antimonopoli.
Saham Advanced Micro Devices (AMD) juga melemah 5,6%, sementara raksasa teknologi seperti Meta Platforms dan Netflix turut mengalami penurunan.
Harga bitcoin juga melemah setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas $100.000 untuk pertama kalinya pekan lalu, menandakan bahwa investor mungkin mulai menghindari aset berisiko.

