Timur Tengah Masih Membara, Harga Minyak Melonjak Lebih dari 3%
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak melonjak lebih dari 3% pada hari Senin (7/10/2024) di tengah situasi Timur Tengah yang masih membara. Minyak Brent sempat melampaui $80 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus dipicu meningkatnya risiko perang.
Baca Juga
Konflik Israel-Iran Bisa Membuat Harga Minyak Terus Meroket, Ini Prediksi Goldman Sachs
Minyak mentah berjangka Brent sempat melonjak sebesar $2,82, atau 3,6%, menjadi $80,87 per barel. Sedangkan, West Texas Intermediate (WTI) berjangka AS naik sebesar $2,75, atau 3,6%, menjadi $77,13 per barel.
Pekan lalu, Brent naik lebih dari 8% dan WTI melonjak lebih dari 9% sepekan, peningkatan terbesar dalam lebih dari setahun. Serangan rudal Iran terhadap Israel pada 1 Oktober meningkatkan kekhawatiran bahwa Israel akan merespons dengan menargetkan infrastruktur minyak Teheran.
“Jika hal itu terjadi, harga minyak bisa naik lagi $3 hingga $5 per barel,” kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates, seperti dikutip Reuters.
Roket yang ditembakkan oleh kelompok Hizbullah menghantam kota terbesar ketiga Israel, Haifa, pada Senin pagi. Rudal darat-ke-darat dari Yaman menuju Israel tengah pada hari Senin berhasil dicegat, menurut militer Israel.
Sementara itu, Israel tampak bersiap untuk memperluas serangan darat ke Lebanon selatan pada peringatan pertama perang Gaza yang telah memperluas konflik di seluruh Timur Tengah.
"Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa konflik ini mungkin terus meningkat - tidak hanya membahayakan produksi 3,4 juta barel per hari minyak Iran - tetapi juga menyebabkan gangguan lebih lanjut pada pasokan regional," tulis analis di Tudor, Pickering, Holt & Co pada hari Senin.
Baca Juga
Netanyahu Ancam Balas Serangan Iran, Pasar Waspadai Bahaya Eskalasi
Menurut analis UBS Giovanni Staunovo, kenaikan pada hari Senin kemungkinan didorong oleh spekulasi manajer keuangan terkait risiko gangguan pasokan minyak Timur Tengah yang meningkat.
Hedge fund dan manajer keuangan telah mengumpulkan posisi jual pada rekor tertinggi di futures minyak hingga pertengahan September karena prospek permintaan yang berkurang, terutama di China, importir minyak mentah terbesar.
"Sampai seminggu yang lalu, saya berpikir bahwa kita akan menguji harga minyak di kisaran rendah $60," beber Brent Belote, pendiri hedge fund Cayler Capital yang berfokus pada komoditas.
Dari sisi permintaan, kata Belote, situasinya masih lemah, dan ada kapasitas cadangan yang cukup di dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk mengimbangi potensi hilangnya pasokan dari Iran.
Sejumlah analis pasar menilai reli minyak saat ini mungkin terlalu berlebihan.
"Kami melihat serangan langsung terhadap fasilitas minyak Iran sebagai respons paling tidak mungkin di antara pilihan Israel," kata analis ANZ Research. Selain itu, ada buffer yang disediakan OPEC, dengan kapasitas cadangan 7 juta barel per hari.
Baca Juga
OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, akan mulai meningkatkan produksi dari Desember setelah pemotongan selama beberapa tahun untuk mendukung harga karena lemahnya permintaan global.
Dalam perkiraan Lipow, harga minyak mentah Brent harus mendekati $90 atau lebih tinggi agar OPEC+ meningkatkan pasokan.
Jika Israel tidak menyerang fasilitas minyak Iran, harga minyak mentah kemungkinan akan turun kembali sebesar $5 hingga $7 per barel.
Berikut harga penutupan energi hari Senin, dikutip dari CNBC:
• Kontrak November West Texas Intermediate: $77,14 per barel, naik $2,76, atau 3,71%. Sejak awal tahun, minyak mentah AS telah naik lebih dari 7%.
• Kontrak Desember Brent: $80,93 per barel, naik $2,88, atau 3,69%. Sejak awal tahun, benchmark global naik sekitar 5%.
• Kontrak RBOB Gasoline November: $2,1538 per galon, naik 2,77%. Sejak awal tahun, harga bensin naik lebih dari 2%.
• Kontrak Gas Alam November: $2,746 per seribu kaki kubik, turun 3,78%. Sejak awal tahun, harga gas naik lebih dari 9%.

