Pasar Khawatir Eskalasi di Timur Tengah, Harga Minyak Melonjak Lebih dari 5%
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak terus meroket. Pada Kamis (3/10/2024), harga minyak mentah AS melonjak lebih dari 5%. Pasar khawatir Israel akan menyerang instalasi minyak Iran, sebagai pembalasan atas serangan rudal balistik Teheran minggu ini.
Baca Juga
Netanyahu Ancam Balas Serangan Iran, Pasar Waspadai Bahaya Eskalasi
Kenaikan harga minyak juga dipicu komentar Presiden Joe Biden terkait dukungannya pada Israel. Joe Biden, Kamis pagi, ditanya wartawan apakah AS akan mendukung serangan Israel terhadap fasilitas minyak Iran. “Kami sedang mendiskusikan hal itu. Mungkin sedikit,” ujarnya. Tapi, ia meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa hari itu.
Komentar Biden menjadi katalis yang mendorong harga lebih tinggi, kata Daniel Ghali, ahli strategi komoditas senior di TD Securities. “Risiko geopolitik di Timur Tengah mungkin berada pada tingkat tertinggi sejak Perang Teluk,” kata Ghali kepada CNBC.
Patokan minyak AS melonjak 5,5% di awal sesi ke level tertinggi intraday $73,99 per barel. West Texas Intermediate naik sekitar 8% minggu ini, menuju kenaikan mingguan terbaiknya sejak Maret 2023.
Berikut harga energi penutupan hari Kamis:
• Kontrak West Texas Intermediate bulan November: $73,71 per barel, naik $3,61, atau 5,15%. Minyak mentah AS telah naik hampir 3% ytd (year to date).
• Kontrak Brent bulan Desember: $77,62 per barel, naik $3,72, atau 5,03%. Minyak acuan global naik hampir 1% ytd.
• Kontrak RBOB Bensin bulan November: $2,0926 per galon, naik 5,37%. Bensin telah turun kurang dari 1% ytd.
• Kontrak Gas Alam bulan November: $2,97 per seribu kaki kubik, naik 2,91%. Gas telah naik sekitar 18% ytd.
Risiko gangguan pasokan minyak meningkat seiring dengan semakin intensifnya pertikaian di Timur Tengah, namun OPEC+ mempunyai persediaan minyak mentah dalam jumlah besar yang dapat digunakan untuk mengatasi pelanggaran tersebut, menurut Claudio Galimberti, kepala ekonom di Rystad Energy.
“Kapasitas cadangan ini mencegah kenaikan harga di tengah krisis terdalam dan paling parah di Timur Tengah dalam empat dekade terakhir,” kata Galimberti kepada kliennya dalam sebuah catatan pada hari Kamis.
Kapasitas cadangan OPEC+ akan cukup untuk menutupi gangguan terhadap ekspor Iran jika Israel menyerang infrastruktur minyak Republik Islam sebagai pembalasan atas serangan rudal balistik Teheran, kata Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di bank Swedia SEB.
"Namun masalahnya, kapasitas cadangan minyak dunia sangat terkonsentrasi di Timur Tengah, khususnya negara-negara Teluk. Bisa berisiko jika terjadi perang yang lebih luas," beber Ghali dari TD Securities.
Jika Israel menyerang industri minyak Iran, para trader akan mulai khawatir tentang gangguan pasokan di Selat Hormuz, kata Schieldrop. “Hal ini akan menambah premi risiko yang signifikan terhadap minyak,” katanya. Selat ini merupakan salah satu arteri perdagangan minyak terpenting di dunia.
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Lanjut Menguat Dipicu Tensi Geopolitik Timur Tengah

