Serangan Pager dan Walkie Talkie Israel Ternyata Sudah Lama Direncanakan
JAKARTA, investortrust.id - Israel diketahui telah merencanakan selama 15 tahun untuk melakukan serangan ke kelompok milisi Lebanon, Hizbullah melalui ledakan penyeranta (pager) dan protofon (walkie talkie) secara bersamaan pada Selasa (17/9/2024) dan Rabu (18/9/2024).
Mengutip ABC News pada Jumat (20/9/2024), seorang sumber intelijen Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa Israel kemungkinan telah merencanakan misi untuk menanamkan bahan peledak ke perangkat komunikasi Hizbullah selama 15 tahun.
Misi tersebut dilakukan dengan melibatkan perusahaan cangkang yang disusupi agen intelijen Israel atau Mossad untuk memanipulasi operasi mereka. Pekerja perusahaan tersebut, termasuk beberapa petingginya tidak mengetahui bahwa agen Mossad telah menyusup.
Baca Juga
Israel Disebut Pasang Peledak di Ribuan 'Gadget' Hizbullah, Ribuan Terluka
Selain Mossad, serangan ke Hizbullah melalui pager juga dikaitkan dengan Unit Perang Siber 8200 Israel atau 8200 Cyber Warfare Unit yang kerap melakukan serangan siber, peretasan data, hingga blokade teknologi. Unit ini juga diketahui bertugas untuk memata-matai warga Palestina yang ada di Tepi Barat dan di Gaza.
Namun, Israel sampai dengan saat ini tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait dengan serangan tersebut. Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Yoav Gallant hanya menyatakan bahwa pihaknya perlu menyesuaikan diri karena berada di awal era baru peperangan sembari memuji kinerja Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defence Forces), agensi kontrasipionase Shin Bet, dan Mossad.
Serangan melalui penyeranta dan protofon yang menyasar Hizbullah menjadi sorotan dunia. Selain membuat penasaran publik bagaimana cara kerjanya, korban dari serangan tersebut tak hanya milisi Hizbullah, tetapi juga warga sipil termasuk anak-anak hingga petugas medis.
Duta Besar Iran untuk Lebanon Motjaba Amani juga turut menjadi korban luka serangan tersebut. Setidaknya 37 orang tewas dan lebih dari 3 ribu terluka ketika penyeranta dan kemudian walkie-talkie yang digunakan oleh para anggota Hizbullah meledak dalam dua gelombang serangan itu.
Baca Juga
Konflik Israel-Hizbullah Memanas, Kemenlu Bersiap Evakuasi WNI di Lebanon
Melanggar Hukum Humaniter Internasional
Serangan yang dilakukan dengan meledakkan ribuan penyeranta dan protofon dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. Menurut Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Volker Turk, serangan tersebut menimbulkan ketakutan yang luar biasa karena terjadi di mana-mana, di rumah, mobil, toko kelontong, dan kafe.
"Penargetan serentak terhadap ribuan orang, baik warga sipil maupun anggota kelompok bersenjata, tanpa mengetahui siapa yang memiliki perangkat yang menjadi target, lokasi mereka, dan lingkungan sekitar mereka pada saat serangan, melanggar hukum hak asasi manusia internasional dan, sejauh berlaku, hukum humaniter internasional," katanya melalui pernyataan resminya.
Guru Besar Hukum dan Studi Perdamaian Internasional di Universitas Notre Dame, Indiana, AS juga menegaskan bahwa serangan melalui penyeranta dan protofon jelas melanggar hukum humaniter. Sebab, perangkat yang diledakkan belum tentu sedang digunakan oleh milisi Hizbullah dan digunakan juga oleh warga sipil.
"Mempersenjatai obyek yang digunakan oleh warga sipil jelas dilarang keras oleh hukum internasional, ujarnya melalui sebuah tulisannya yang dipublikasikan oleh The Conversation, dikutip Jumat (20/9/2024).

