Pager dan Walkie Talkie Memang Punya Potensi Meledak, Tetapi...
JAKARTA, investortrust.id - Konflik Israel dan kelompok milisi Lebanon, Hizbullah memasuki babak baru setelah ledakan ribuan penyeranta (pager), serta protofon (walkie talkie) di hampir seluruh wilayah Lebanon. Israel dituding menjadi otak dari insiden tersebut.
Sebanyak 37 orang tewas dan lebih dari 3 ribu terluka akibat ledakan tersebut, tidak hanya milisi Hizbullah, tetapi juga warga sipil termasuk anak-anak hingga petugas medis.
Tentu saja, menjadi pertanyaan bagaimana penyeranta dan protofon bisa berubah menjadi senjata mematikan yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Apalagi perangkat tersebut boleh dikatakan cukup sederhana, tidak tersambung dengan jaringan internet seperti halnya ponsel pintar.
Menurut Chairman Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha, penyeranta dan protofon pada dasarnya punya potensi untuk meledak karena memiliki baterai. Ledakan tersebut dapat terjadi karena hubungan arus pendek pada rangkaian listrik yang ada di dalamnya.
Baca Juga
Serangan Pager dan Walkie Talkie Israel Ternyata Sudah Lama Direncanakan
"Namun, tentu saja efek ledakan yang terjadi tidak parah dan tidak menimbulkan korban jiwa secara langsung. Ledakan yang terjadi juga tidak akan terjadi secara bersamaan seperti yang terjadi di Lebanon," katanya kepada Investortrust, dikutip Senin (23/9/2024).
Lebih lanjut, Pratama menyebut untuk membuat ledakan dengan skala besar menggunakan penyeranta dan protofon memerlukan operasi intelijen yang rumit dan panjang. Sebab, perangkat yang disiapkan sebagai senjata itu harus dimodifikasi terlebih dahulu dengan memasukkan bahan peledak beserta detonatornya.
"Seperti yang diberitakan, perangkat yang meledak tersebut bukanlah perangkat yang baru dibeli dan dipergunakan namun sudah dipergunakan hampir setengah tahun sebelumnya, dimana bahkan bisa saja selain disusupi bahan peledak, perangkat tersebut juga disusupi perangkat penyadap yang dipergunakan untuk mendapatkan berbagai informasi rahasia," tuturnya.
Mengutip ABC News pada Jumat (20/9/2024), seorang sumber intelijen Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa Israel kemungkinan telah merencanakan misi untuk menanamkan bahan peledak ke perangkat komunikasi Hizbullah selama 15 tahun.
Baca Juga
Israel Disebut Pasang Peledak di Ribuan 'Gadget' Hizbullah, Ribuan Terluka
Misi tersebut dilakukan dengan melibatkan perusahaan cangkang yang disusupi agen intelijen Israel atau Mossad untuk memanipulasi operasi mereka. Pekerja perusahaan tersebut, termasuk beberapa petingginya tidak mengetahui bahwa agen Mossad telah menyusup.
Selain Mossad, serangan ke Hizbullah melalui pager juga dikaitkan dengan Unit Perang Siber 8200 Israel atau 8200 Cyber Warfare Unit yang kerap melakukan serangan siber, peretasan data, hingga blokade teknologi. Unit ini juga diketahui bertugas untuk memata-matai warga Palestina yang ada di Tepi Barat dan di Gaza.
Namun, Israel sampai dengan saat ini tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait dengan serangan tersebut. Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Yoav Gallant hanya menyatakan bahwa pihaknya perlu menyesuaikan diri karena berada di awal era baru peperangan sembari memuji kinerja Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defence Forces), agensi kontra spionase Shin Bet, dan Mossad.

