Harga Minyak Melonjak Hampir 2%, Ini yang Jadi Biang Keroknya
NEW YORK, investortrust.id - Minyak mentah berjangka AS naik hampir 2% pada hari Kamis (29/8/2024). Harga minyak rebound setelah penurunan dua hari berturut-turut akibat gangguan besar pada produksi minyak di Libya.
Baca Juga
Produksi di Libya telah turun 1,5 juta barel selama tiga hari terakhir dengan total kerugian sebesar $120 juta, menurut National Oil Corporation milik anggota OPEC.
Perusahaan konsultan Rapidan Energy memperkirakan gangguan produksi di Libya akan mencapai total 900.000 hingga 1 juta barel per hari dan berlangsung selama beberapa minggu.
Sementara itu, Irak berencana mengurangi produksi minyak dari 4,25 juta barel per hari pada bulan Juli menjadi sekitar 3,9 juta barel per hari pada bulan September, sebuah sumber mengatakan kepada Reuters. Irak telah memproduksi lebih dari kuotanya sebesar 4 juta barel per hari berdasarkan perjanjian dengan OPEC dan sekutunya, menurut Reuters.
Berikut harga energi hari Kamis:
• Kontrak West Texas Intermediate Oktober: $75,91 per barel, naik $1,39, atau 1,87%. Minyak mentah AS telah naik 5,9% ytd (year to date).
• Kontrak Brent Oktober: $79,94 per barel, naik $1,29, atau 1,64%. Minyak acuan global berada di atas 3,7% ytd.
• Kontrak RBOB Gasoline bulan September: $2,24 per galon, naik 3 sen, atau 1,49%. Bensin telah naik 6,9% ytd.
• Kontrak Gas Alam bulan September: $2,13 per seribu kaki kubik, naik 4 sen atau 1,9%. Gas telah turun 15% ytd.
“Menurunnya produksi minyak mentah Libya, meningkatnya ancaman perang yang lebih luas di Timur Tengah, dan penyimpanan minyak mentah EIA yang berada pada titik terendah dalam delapan bulan, semuanya menjadi pendorong bagi minyak mentah,” tulis Bob Yawger, direktur eksekutif energi berjangka di Mizuho Securities, dalam sebuah catatan, dikutip CNBC
Namun, menurut dia, kenaikan minyak mentah harus dilakukan dengan hati-hati. “Semakin lama reli minyak mentah, dan semakin tinggi harganya, semakin besar kemungkinan OPEC+ akan menambahkan kembali 500.000 lebih minyak ke pasar mulai bulan Oktober, beber Yawger.
Pemerintahan yang bersaing di Libya terlibat dalam perselisihan politik. Pemerintahan wilayah timur di Benghazi, yang tidak diakui secara internasional, telah mengancam akan menutup semua produksi dan ekspor minyak ketika pemerintah wilayah barat yang didukung PBB di Tripoli berupaya menggantikan kepala bank sentral anggota OPEC tersebut.
Libya memproduksi sekitar 1,2 juta barel per hari, dengan sebagian besar minyak mentahnya diekspor ke pasar global. Matt Smith, analis minyak utama Kpler untuk wilayah Amerika, mengatakan bahwa patokan AS kemungkinan akan mendapat manfaat paling besar dari gangguan ini, karena ini adalah pengganti terbaik bagi pembeli Eropa yang perlu menggantikan pasokan Libya yang hilang.
Minyak mentah AS melonjak lebih dari 3% pada hari Senin karena gangguan di Libya, namun kemudian turun kembali karena tingkat pemadaman yang tidak jelas dan melambatnya permintaan di Tiongkok membebani pasar.
Baca Juga

