Kekhawatiran Resesi Mereda, Minyak Menguat
NEW YORK, investortrust.id - Minyak mentah AS naik lebih dari 4% pada minggu ini karena kekhawatiran resesi mereda dan risiko perang yang lebih luas di Timur Tengah yang dapat mengganggu produksi dan transportasi membayangi pasar.
Baca Juga
Antisipasi Serangan Iran ke Israel, Harga Minyak Bergerak Naik
Minyak menguat karena S&P 500 diperdagangkan lebih tinggi pada hari Jumat, menghapus sebagian besar kerugiannya akibat aksi jual tajam di awal minggu.
Berikut harga energi pada hari Jumat (9/8/2024) :
• Kontrak West Texas Intermediate September: $76,84 per barel, naik 65 sen, atau 0,85%. Minyak AS telah naik lebih dari 7% ytd (year to date).
• Kontrak Brent Oktober: $79,66 per barel, naik 50 sen atau 0,63%. Tolok ukur global ini menguat lebih dari 3% ytd.
• Kontrak RBOB Gasoline bulan September: $2,38 per galon, turun sekitar 1 sen, atau 0,52%. Bensin telah naik 13,5% ytd.
• Kontrak Gas Alam bulan September: $2,15 per seribu kaki kubik, naik lebih dari 2 sen, atau 1,18%. Gas turun 14,4% ytd.
Situasi di Timur Tengah masih tegang setelah pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pekan lalu. Israel telah bersiap menghadapi serangan balasan dari Iran dan milisi Hizbullah di Lebanon, meskipun AS telah berupaya melalui saluran diplomatik untuk mencegah peningkatan permusuhan.
“Pemboman yang terus menerus di Jalur Gaza dan penyerangan Hizbullah di Lebanon dalam semalam bukanlah sebuah pernyataan perdamaian. Hal ini kemudian menguatkan gagasan bahwa pada tahap tertentu tindakan pembalasan dari Iran atau proksinya tidak akan lama lagi terjadi,” jelas Tamas Varga, analis di pialang minyak PVM, dalam ulasan kepada kliennya pada hari Jumat, seperti dikutip CNBC.
Amerika, Mesir dan Qatar telah menuntut dalam pernyataan bersama agar Hamas dan Israel kembali ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
“Dorongan baru pemerintahan Biden untuk memulai kembali pembicaraan antara Israel dan Hamas mungkin tidak akan membuahkan hasil,” papar Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group, kepada kliennya.
“Hedge fund tentu saja melonjak pada setiap tenggat waktu perundingan gencatan senjata untuk mendorong harga minyak lebih rendah,” kata Flynn. “Pada titik tertentu mereka mungkin menyadari bahwa perundingan gencatan senjata bukanlah alasan untuk menjual lebih banyak minyak.”
Baca Juga
Antisipasi Eskalasi Konflik Iran-Israel, Jet Tempur F-22 AS Tiba di Timur Tengah

