Wall Street Bergerak ‘Mixed’ Menanti Hasil Pemilu Sela AS, S&P 500 Bangkit, Dow Jeblok Gara-Gara Apple
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengakhiri perdagangan dengan beragam pada Selasa waktu AS atau Rabu (4/11/2026). Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite berhasil bangkit setelah mengalami tekanan selama tiga sesi berturut-turut, ditopang penguatan saham-saham semikonduktor.
Baca Juga
Saham Teknologi di Wall Street Berguguran, Nasdaq Merosot 1%, tapi Dow Justru Melonjak 200 Poin
Investor juga mencermati hasil pemilu sela AS yang akan menentukan partai penguasa di Kongres mulai Januari mendatang. Ketidakpastian politik tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar, di tengah kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi dan besarnya kebutuhan pendanaan investasi kecerdasan buatan (AI).
Nasdaq Composite, yang didominasi saham teknologi, naik 0,83% dan ditutup pada 25.372,01. Nasdaq-100 menguat 0,7% menjadi 28.180,26, meskipun masih berada dalam wilayah koreksi dengan posisi sekitar 10% di bawah level tertinggi terbarunya.
Indeks S&P 500 bertambah 0,36% ke posisi 7.568,92. Kenaikan ini sekaligus memutus tren penurunan selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 197,26 poin atau 0,38% menjadi 51.786,72. Penurunan indeks yang berisi 30 saham unggulan tersebut terutama terbebani oleh pelemahan saham Apple.
Saham Apple turun hampir 2% setelah perusahaan teknologi tersebut menyampaikan proyeksi margin keuntungan yang mengecewakan pada Senin malam. Penjualan iPad pada kuartal fiskal keempat juga tidak memenuhi ekspektasi analis.
Saham Semikonduktor Jadi Penopang
Di tengah tekanan terhadap Apple, saham-saham produsen chip justru bergerak menguat. Investor kembali memburu saham teknologi setelah aksi jual dalam beberapa sesi sebelumnya.
Advanced Micro Devices (AMD) naik lebih dari 3% menjelang pengumuman kinerja keuangan kuartal ketiga setelah penutupan perdagangan. Broadcom menguat 3%, sedangkan Micron Technology dan Nvidia masing-masing bertambah lebih dari 2%.
Penguatan saham semikonduktor menjadi sinyal pemulihan sementara bagi sektor teknologi, khususnya perusahaan yang terkait dengan pengembangan infrastruktur AI.
Pada perdagangan Senin, Nasdaq Composite turun lebih dari 1%, memperpanjang tekanan yang sebelumnya juga menimpa S&P 500. Rebound pada Selasa menunjukkan sebagian investor mulai kembali mengambil posisi di saham-saham teknologi setelah koreksi harga.
Meski demikian, pemulihan tersebut belum tentu menandai berakhirnya tekanan pasar.
“Kekhawatiran mengenai biaya modal dan besarnya pembiayaan utang yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur AI masih akan membayangi pasar dalam waktu cukup lama,” kata Shawn Snyder dari Potomac Fund Management kepada CNBC.
Menurut dia, perdagangan saham yang bertumpu pada ekspansi AI mungkin mulai mendekati kondisi jenuh jual. Namun, pasar masih berpotensi mengalami koreksi tambahan sekitar 4% hingga 5%. Snyder menilai tekanan tersebut biasanya mulai mereda apabila penurunan pasar tidak berkembang menjadi resesi ekonomi.
Investor Tunggu Hasil Pemilu Sela
Selain perkembangan sektor teknologi, perhatian investor tertuju pada pemilu sela AS yang digelar Selasa. Pemilu tersebut menentukan partai yang akan menguasai DPR dan Senat mulai Januari 2027.
Baca Juga
Pelaku pasar juga mencermati peluang Partai Demokrat merebut kendali Senat. Berdasarkan perdagangan di pasar prediksi yang dikutip CNBC, peluang Demokrat memenangkan mayoritas Senat diperkirakan mendekati 75%.
Jika Demokrat berhasil menguasai DPR dan Senat sekaligus, pasar saham berpotensi menghadapi tekanan pada perdagangan berikutnya. Kondisi tersebut terutama dapat memengaruhi saham-saham AI apabila investor belum memperhitungkan kemungkinan perubahan keseimbangan politik di Washington.
Sebaliknya, apabila Partai Republik mampu mempertahankan kendali Senat atau kedua kamar Kongres, pasar berpeluang memperoleh dorongan positif dalam jangka pendek.
JPMorgan memperkirakan hasil pemilu dapat memengaruhi sentimen pasar, terutama terkait ekspektasi kebijakan fiskal dan arah regulasi pemerintah.
Kemenangan Demokrat di salah satu kamar Kongres juga berpotensi mengubah dinamika pengawasan terhadap pemerintahan Trump. DPR maupun Senat dapat meningkatkan penyelidikan dan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah, termasuk sektor pertahanan, AI, dan layanan kesehatan.
Bagi investor, perubahan komposisi Kongres bukan sekadar persoalan politik. Hasil pemilu dapat memengaruhi prospek kebijakan anggaran, perpajakan, regulasi industri, dan belanja pemerintah yang berpengaruh terhadap kinerja sejumlah sektor saham.
Peluang Reli Pemulihan Tetap Terbuka
Meski hasil pemilu berpotensi memicu volatilitas, Snyder menilai pasar masih memiliki peluang melanjutkan penguatan setelah tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut dia, saham-saham yang terkait dengan AI sudah mengalami koreksi cukup besar. Jika ketidakpastian pemilu mereda, kombinasi kedua faktor tersebut dapat membuka ruang bagi reli pemulihan, terlepas dari partai yang keluar sebagai pemenang.
Sementara itu, harga minyak mentah turut bergerak melemah seiring munculnya harapan kemajuan perundingan antara AS dan Iran.
Minyak Brent turun 1,12% menjadi US$103,60 per barel, sedangkan WTI terkoreksi 0,38% ke US$96,09 per barel.
Pergerakan harga energi tersebut ikut menjadi perhatian investor karena tingginya harga minyak dapat memperbesar tekanan inflasi dan memengaruhi prospek kebijakan moneter Federal Reserve.
Dengan demikian, arah bursa saham AS dalam beberapa sesi mendatang akan ditentukan oleh kombinasi hasil pemilu sela, perkembangan saham teknologi, prospek investasi AI, serta dinamika inflasi dan suku bunga.
