Saham Teknologi di Wall Street Berguguran, Nasdaq Merosot 1%, tapi Dow Justru Melonjak 200 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mayoritas melemah pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (3/11/2026). Investor kembali melepas saham teknologi dan mengalihkan dana ke sektor lain menjelang pemilihan paruh waktu AS serta rilis data ketenagakerjaan.
Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 1,07% menjadi 25.164,32. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,51% ke 7.541,40.
Kedua indeks tersebut sempat menguat pada awal perdagangan, masing-masing mencapai kenaikan hingga 1,4% untuk Nasdaq dan 1,1% untuk S&P 500. Namun, tekanan jual yang kembali muncul membuat keduanya berbalik melemah.
Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average mampu bertahan di zona positif. Indeks tersebut naik 213,67 poin atau 0,41% menjadi 51.983,98.
Baca Juga
Perbedaan kinerja ketiga indeks mencerminkan pergeseran strategi investor. Di tengah kekhawatiran terhadap belanja kecerdasan buatan (AI) dan valuasi saham teknologi, pelaku pasar mulai mencari peluang di sektor-sektor ekonomi tradisional yang dinilai lebih defensif.
Saham Teknologi Tertekan
Sejumlah saham teknologi berkapitalisasi besar mengalami tekanan. Saham Nvidia dan Meta Platforms masing-masing turun sekitar 1%, sedangkan Apple melemah hampir 2% menjelang pengumuman laporan keuangannya setelah penutupan perdagangan.
Tekanan lebih besar terjadi pada Marvell Technology dan Lumentum. Saham Marvell merosot hampir 13%, sementara Lumentum turun 18%, setelah kedua perusahaan mengumumkan kesepakatan akuisisi Lumentum oleh Marvell senilai US$115 miliar.
Investor juga bereaksi negatif terhadap rencana Oracle untuk menghimpun pendanaan guna membiayai ekspansi infrastruktur AI. Saham perusahaan tersebut turun 8% setelah mengumumkan rencana penjualan saham biasa senilai US$10 miliar dan obligasi senilai US$10 miliar.
Langkah tersebut menambah perhatian pasar terhadap besarnya kebutuhan pendanaan perusahaan teknologi untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI.
Sebelumnya, saham teknologi telah mengalami tekanan setelah Alphabet dan Microsoft memberikan proyeksi belanja modal yang lebih rendah daripada perkiraan investor. Amazon juga mempertahankan panduan belanja modal setahun penuh.
Perkembangan itu memunculkan pertanyaan mengenai seberapa cepat investasi AI akan menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan keuntungan yang sepadan.
Meski demikian, pelemahan saham teknologi tidak serta-merta menunjukkan bahwa prospek jangka panjang pasar saham AS telah memburuk.
“Narasi positif jangka panjang pasar saham masih bertahan meskipun mengalami sejumlah tekanan dalam beberapa pekan terakhir,” beber Chris Larkin, direktur pelaksana perdagangan dan investasi di E-Trade dilansir CNBC.
Menurut dia, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga momentum jangka pendek di tengah gangguan dari lonjakan harga minyak, kekhawatiran terhadap belanja AI, inflasi, dan risiko geopolitik.
Saham Sektor Tradisional Topang Dow Jones
Ketika saham teknologi melemah, sejumlah saham perusahaan ekonomi tradisional justru menguat dan menopang kinerja Dow Jones.Saham Sherwin-Williams naik hampir 6%, sedangkan Home Depot menguat 3,6%. Saham Honeywell International, 3M, dan Boeing juga masing-masing mencatat kenaikan lebih dari 2%.
Baca Juga
Pergerakan ini memperpanjang tren peralihan investasi dari saham teknologi ke sektor lain yang telah terlihat sepanjang Oktober.
Pada bulan lalu, Nasdaq dan S&P 500 sama-sama mencatat penurunan di tengah kekhawatiran mengenai besarnya belanja AI. Nasdaq bahkan mengalami penurunan bulanan terdalam sejak Maret 2025.
Sebaliknya, Dow Jones naik hampir 2% sepanjang Oktober, didukung peralihan investasi ke sektor defensif, termasuk layanan kesehatan.
Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa investor masih mempertahankan eksposur di pasar saham, tetapi semakin selektif dalam menentukan sektor dan perusahaan yang menjadi tujuan investasi.
Pemilu dan Data Tenaga Kerja Jadi Katalis
Perhatian pasar kini tertuju pada pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung Selasa (3/11/2026). Partai Demokrat diperkirakan berpeluang mengambil alih kendali Dewan Perwakilan Rakyat, sedangkan persaingan untuk menguasai Senat masih belum pasti.
Hasil pemilu dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan ekonomi, perpajakan, belanja pemerintah, dan regulasi bisnis. Namun, dampak terhadap pasar akan bergantung pada hasil aktual serta kebijakan yang kemudian ditempuh pemerintahan dan Kongres.
Selain pemilu, investor menantikan laporan ketenagakerjaan AS untuk Oktober yang dijadwalkan dirilis Jumat (6/11/2026).
Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan penambahan 55.000 pekerjaan nonpertanian selama Oktober. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja dan prospek perekonomian AS.
Investor juga akan mencermati laporan keuangan Apple serta sejumlah perusahaan besar lainnya untuk menilai ketahanan pendapatan dan prospek pertumbuhan laba.
Di pasar energi, harga minyak justru mengalami penurunan tajam pada Senin. Minyak mentah Brent merosot 7,63% menjadi US$104,77 per barel, sedangkan WTI turun 7,36% menjadi US$96,46 per barel.
Baca Juga
Harapan Perundingan AS-Iran Menguat, Harga Minyak Terjun Lebih dari 7%
Penurunan harga minyak dipicu harapan bahwa AS dan Iran dapat kembali membuka jalur perundingan damai. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Presiden Donald Trump belum memutuskan apakah akan kembali menyerang Iran dan Washington lebih memilih penyelesaian secara damai.
Pelemahan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan inflasi apabila berlangsung berkelanjutan. Namun, perkembangan geopolitik tetap menjadi faktor risiko yang dapat memengaruhi pergerakan pasar.
Pasar saham AS memasuki November dengan sejumlah katalis penting, termasuk pemilu, laporan tenaga kerja, dan hasil keuangan perusahaan. Kemampuan indeks mempertahankan momentum akan bergantung pada apakah data ekonomi dan kinerja korporasi mampu meredakan kekhawatiran investor terhadap inflasi, belanja AI, serta ketidakpastian geopolitik.
