Iran Bahas Syarat Akhiri Perang, Harga Minyak Turun Hampir 2%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia turun seiring meningkatnya upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Pelaku pasar mencermati kemungkinan berakhirnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meskipun risiko gangguan pasokan energi global masih tinggi.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent, patokan internasional, turun 1,7% dan ditutup pada US$113,88 per barel pada Selasa (27/10/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 1,8% menjadi US$99,90 per barel.
Baca Juga
Harga Minyak Turun setelah Pertemuan Arab Saudi-Iran, tapi Gangguan Pasokan Tetap Membayangi
Sentimen pasar membaik setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bertemu dengan pejabat tinggi keamanan nasional Mohsen Rezaei untuk membahas persyaratan Iran dalam mengakhiri perang dengan AS.
Dalam unggahan berbahasa Inggris di akun media sosialnya pada Selasa, Khamenei menyatakan situasi yang disebutnya sebagai kondisi “bukan perang maupun damai” perlu diakhiri. Ia juga membahas upaya menjaga keamanan nasional dan regional dengan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.
Pada saat yang sama, Arab Saudi dan Iran meningkatkan komunikasi langsung untuk mengurangi ketegangan kawasan.
Menteri Pertahanan Arab Saudi bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran pada Senin. Pertemuan tersebut juga melibatkan pejabat senior militer dan intelijen dari Pakistan dan Turki, dua negara yang memiliki hubungan dekat dengan Arab Saudi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut pertemuan tersebut sebagai langkah menuju kerja sama keamanan regional. Menurut laporan media pemerintah Iran, Tasnim, konsultasi lanjutan masih dimungkinkan.
Upaya diplomasi ini berlangsung ketika Arab Saudi menghadapi serangkaian serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dalam beberapa pekan terakhir. Serangan tersebut menyasar infrastruktur energi dan fasilitas sipil, termasuk bandara.
Serangan Houthi menimbulkan risiko terhadap ekspor minyak Arab Saudi, yang sejauh ini relatif mampu bertahan di tengah konflik kawasan selama delapan bulan terakhir.
Pasar minyak masih dibayangi keputusan Presiden AS Donald Trump mengenai arah konflik berikutnya. Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, Trump mengatakan dirinya semakin dekat untuk memutuskan apakah akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau meningkatkan operasi militer. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan serangan tambahan masih terbuka.
Masih Tinggi
Di tengah pelemahan harga dalam dua sesi terakhir, analis UBS Giovanni Staunovo memperkirakan harga Brent masih akan berada di sekitar US$110 per barel hingga akhir tahun.
Menurut Staunovo, pasar minyak belum kembali normal meskipun ekspor dari Timur Tengah telah meningkat dibandingkan tahap-tahap sebelumnya dalam perang..
Baca Juga
Brent Bertahan di Atas US$108, Biaya Angkut Minyak Melonjak 7 Kali Lipat Gegara Perang
“Risiko keamanan pelayaran, kenaikan biaya asuransi dan pengangkutan, serta meningkatnya kebutuhan pemindahan minyak antarkapal untuk melewati Selat Hormuz masih membebani rantai pasokan,” beber Staunovo dalam catatannya, seperti dikutip CNBC. Kondisi tersebut juga menyerap kapasitas kapal tanker sehingga distribusi minyak menjadi lebih mahal dan kompleks.
Tekanan terhadap pasokan turut tercermin dari penurunan persediaan minyak dunia.
Staunovo memperkirakan persediaan minyak global telah berkurang sekitar 500 juta barel sejak Februari. Sementara itu, pelepasan cadangan strategis oleh pemerintah berbagai negara sebagian besar telah berakhir.
Jika kondisi keamanan tidak membaik, persediaan komersial diperkirakan turun lebih tajam dalam beberapa bulan mendatang.
Rendahnya persediaan minyak yang tersedia di pasar membuat ruang untuk mengantisipasi gangguan pasokan semakin terbatas. Setelah konflik berakhir pun, pemulihan persediaan membutuhkan waktu sehingga harga minyak berpotensi bertahan tinggi lebih lama.
Dengan demikian, penurunan harga dalam dua sesi perdagangan belum cukup untuk menandai berakhirnya tekanan di pasar energi. Perkembangan diplomasi Iran-AS, keamanan Selat Hormuz, dan keberlanjutan ekspor minyak Timur Tengah masih akan menjadi faktor utama penentu arah harga.
