Yield Treasury AS 10-Y Turun Usai Sentuh Level Tertinggi dalam 24 Tahun
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury turun setelah mencatatkan lonjakan tajam. Yield US Treasury tenor 10 tahun (10-Y) sempat menembus level tertinggi sejak April 2002, sebelum akhirnya turun lebih dari 4 basis poin menjadi 5,251% pada Kamis (1/10/2026). Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun juga menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun sebelum terkoreksi ke 5,61%.
Baca Juga
Pasar Abaikan Data Inflasi AS, Yield Treasury 10-Tahun Naik Mendekati 5,3%
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun menjadi acuan penting bagi suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), pinjaman kendaraan bermotor, dan utang kartu kredit. Pergerakan imbal hasil dan harga obligasi berbanding terbalik. Satu basis poin setara dengan 0,01%.
CEO KKM Financial Jeff Kilburg menilai penurunan imbal hasil tersebut mencerminkan mulai munculnya kejenuhan di pasar obligasi setelah terjadi kenaikan yang sangat cepat.
"Menurut saya, ada sedikit kelelahan di pasar obligasi. Imbal hasil bergerak naik 50 basis poin dalam 18 hari perdagangan setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan sinyal di Jackson Hole bahwa kenaikan suku bunga memang akan terjadi," kata Kilburg, dikutip CNBC.
Ia juga melihat adanya optimisme bahwa kenaikan imbal hasil hingga menembus 5% hanya akan berlangsung sementara. Namun, optimisme tersebut sangat bergantung pada penyelesaian konflik antara AS dan Iran.
Kilburg memperkirakan imbal hasil Treasury 10 tahun berpotensi kembali ke kisaran 4,5%-4,75% apabila Washington dan Teheran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Sebaliknya, jika AS terus terlibat dalam konflik di Iran, tekanan terhadap imbal hasil obligasi jangka panjang diperkirakan tetap besar.
Tekanan Fiskal Global
Kenaikan biaya pinjaman pemerintah tidak hanya terjadi di AS. Imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara utama dunia juga terus meningkat pada Kamis, melanjutkan tren yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 30-Tahun Tembus 5,6%, Level Tertinggi dalam 2 Dekade
Investor semakin khawatir terhadap lemahnya komitmen pemerintah dalam mengatasi defisit anggaran, sementara inflasi masih bertahan di atas target dan sejumlah bank sentral mulai mendorong suku bunga lebih tinggi.
Institute of International Finance (IIF) pekan lalu memperingatkan bahwa negara-negara ekonomi utama kini menghadapi defisit anggaran yang terus membesar dan beban pembayaran bunga yang meningkat. Kondisi tersebut selama ini lebih sering dikaitkan dengan negara berkembang yang mengalami tekanan utang.
Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun atau Japanese Government Bond (JGB) tercatat sebesar 3,126%, level tertinggi sejak pertengahan 1990-an.
Tekanan terhadap pasar obligasi Jepang dipicu oleh pelemahan yen dan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ).
Di Eropa, imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun yang menjadi acuan kawasan euro sempat menembus 3,6%, tertinggi sejak 2008, sebelum turun kembali ke 3,58%.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun melonjak 8 basis poin menjadi 4,925%. Imbal hasil obligasi Italia naik 10 basis poin menjadi 4,706%, sedangkan imbal hasil obligasi Inggris meningkat 5 basis poin menjadi 5,483%.
Mantan Managing Director Wells Fargo Michael Schumacher menilai perbedaan imbal hasil obligasi antara Jerman, Prancis, dan Italia memang perlu diperhatikan. Namun, menurut dia, kondisi tersebut belum tentu menandakan krisis.
Ia justru menyoroti Inggris yang dinilai memiliki persoalan struktural fiskal lebih besar. Perkembangan imbal hasil obligasi Inggris, menurut Schumacher, dapat menjadi salah satu indikator untuk mengukur kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal global.
Minyak dan Inflasi Jadi Penentu
Pergerakan pasar obligasi dalam beberapa waktu terakhir juga sejalan dengan fluktuasi harga minyak dunia. Konflik AS-Israel dengan Iran telah menghambat ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan meningkatkan ketidakpastian pasokan energi global. Pada Kamis, harga minyak mentah kembali menguat. Brent, yang menjadi acuan internasional, kembali menembus US$100 per barel.
Baca Juga
AS Disebut Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Minyak Brent Melonjak Lebih dari 4%
Pendiri Prinsights Global Nomi Prins mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi menarik minat pembeli yang ingin memanfaatkan tingkat imbal hasil tinggi. “Masuknya pembeli dapat mendorong harga obligasi naik dan imbal hasil turun,” katanya kepada CNBC.
Namun, ia menilai volatilitas obligasi jangka panjang masih sangat dipengaruhi perkembangan harga minyak dan inflasi. Prins juga memperkirakan bank sentral dan dana kekayaan negara, yang selama ini menjadi pemegang utama surat utang pemerintah AS dalam jangka panjang, belum tentu langsung meningkatkan pembelian obligasi.
Menurut dia, penurunan imbal hasil Treasury dapat terjadi apabila harga minyak turun signifikan dan konflik di Timur Tengah menemukan jalan penyelesaian.
Arah pasar obligasi global dalam beberapa waktu ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan moneter, disiplin fiskal pemerintah, serta perkembangan geopolitik yang menentukan prospek inflasi dan harga energi.
