Wall Street Bangkit, Investor Kembali Borong Saham Teknologi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat bangkit pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (18/9/2026) WIB, setelah mengalami tekanan sehari sebelumnya akibat kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak membantu meredakan tekanan terhadap Wall Street.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 316,14 poin atau 0,61% menjadi 51.778,04. S&P 500 menguat 1,14% menjadi 7.637,76, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,69% ke level 26.418,30.
Baca Juga
Wall Street Tumbang setelah The Fed Kerek Suku Bunga, Dow Anjlok Lebih 600 Poin
Penguatan saham teknologi menjadi salah satu penopang utama pasar.Saham Nvidia dan Amazon, dua anggota kelompok “Magnificent Seven”, masing-masing naik lebih dari 2%. Microsoft menguat 1,5%.
Saham yang terkait dengan perdagangan kecerdasan buatan juga mencatat kenaikan. Qualcomm naik sekitar 2%, sementara Intel melonjak 7%.
Pergerakan tersebut terjadi sehari setelah pasar saham mengalami tekanan menyusul keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Yield Treasury di Bawah 5%
Tekanan di pasar obligasi juga mereda. Imbal hasil atau yield Treasury AS 10 tahun turun lebih dari 7 basis poin menjadi 4,93%, kembali berada di bawah level psikologis 5%.
Sehari sebelumnya, yield Treasury 10 tahun sempat kembali menembus 5% setelah keputusan The Fed.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Merosot di Bawah 5%, Pasar Cerna Kebijakan The Fed
Pergerakan yield menjadi perhatian investor karena kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan menekan valuasi saham, terutama saham teknologi yang memiliki valuasi tinggi.
Pemulihan pada Kamis menunjukkan investor mulai kembali masuk ke aset berisiko setelah mencerna keputusan bank sentral.
Robert Conzo, CEO The Wealth Alliance, menggambarkan reaksi pasar sebagai “kelegaan”.
“Reaksi pasar dapat dirangkum dalam satu kata: kelegaan,” kata Conzo, dikutip CNBC. Menurut dia, terdapat rasa lega di pasar karena The Fed mengambil langkah untuk menghadapi persoalan inflasi yang masih sulit turun.
Harga Minyak Turun
Harga minyak juga memberikan ruang bagi pasar saham untuk menguat.
Minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) turun 0,51% menjadi US$101,91 per barel. Sementara harga minyak Brent turun 0,95% menjadi US$104,82 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan sedikit mereda. Arab Saudi dilaporkan memutuskan menyediakan lebih banyak kargo minyak mentah bagi kilang-kilang di Asia melalui transfer antarkapal di dekat Pelabuhan Sohar, Oman.
Namun, harga minyak masih berada di atas US$100 per barel. Kondisi ini membuat investor tetap memperhatikan risiko inflasi, terutama jika harga energi bertahan tinggi dalam waktu lama.
Conzo memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah masih menjadi sumber volatilitas bagi pasar.
Jika harga minyak tetap tinggi, kenaikan biaya energi dapat diteruskan oleh perusahaan ritel kepada konsumen. Kondisi tersebut berpotensi membuat inflasi lebih sulit ditekan.
“Jika harga minyak tetap tinggi, Anda dapat melihat masalah tersebut semakin besar, yang membuat inflasi semakin sulit dan semakin sulit untuk diperlambat,” ujar Conzo.
Cermati Langkah The Fed
Kenaikan suku bunga terbaru The Fed sebesar 25 basis poin menandai dimulainya kembali siklus pengetatan setelah periode panjang tanpa kenaikan.
Para pembuat kebijakan juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan tahun ini. Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan inflasi masih terlalu tinggi.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Karena itu, meskipun saham AS berhasil rebound, investor masih menghadapi kombinasi risiko yang cukup kompleks: suku bunga yang lebih tinggi, inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, harga minyak di atas US$100 per barel, serta ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah.
Pergerakan pasar berikutnya akan sangat bergantung pada apakah penurunan harga minyak dan yield Treasury berlanjut atau hanya menjadi jeda sementara setelah aksi jual sehari sebelumnya.
