The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id – Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), mengakhiri periode lebih dari tiga tahun tanpa kenaikan suku bunga. The Fed juga mengisyaratkan masih terbuka kemungkinan menaikkan suku bunga tahun ini untuk menghadapi inflasi yang kembali meningkat akibat lonjakan harga energi.
Pertemuan dua hari FOMC (Federal Open Market Committee) yang berakhir Rabu (16/9/2026) waktu AS mengambil keputusan secara bulat dengan suara 12-0 untuk menaikkan suku bunga acuan seperempat poin persentase. Dengan keputusan tersebut, suku bunga federal funds kini berada dalam target 3,75%-4%, naik dari kisaran sebelumnya 3,5%-3,75%.
Keputusan tersebut sebenarnya telah diperkirakan luas oleh pasar. Kontrak federal funds sebelumnya menunjukkan probabilitas lebih dari 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga.
Baca Juga
Pejabat The Fed Dorong Kenaikan Suku Bunga ‘Moderat’, Lorie Logan: Inflasi Belum Terkendali
FOMC menyebut “Inflasi masih tinggi” dalam pernyataan pascarapat. “Tindakan kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih tepat waktu menuju target 2% Komite,” bunyi pernyataan FOMC.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan inflasi telah berada terlalu tinggi dalam waktu yang terlalu lama. “Kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju sasaran kita secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Keputusan FOMC hari ini menunjukkan bahwa standar tersebut belum terpenuhi,” katanya.
Warsh menyebut sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perekonomian AS, termasuk pasar tenaga kerja, masih kuat. Namun, inflasi tetap berada di atas target The Fed.
Ketegangan di Timur Tengah juga menjadi bagian dari pertimbangan kebijakan. Kenaikan harga minyak yang dipicu eskalasi konflik AS-Iran menjadi tantangan baru bagi bank sentral. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi sekaligus mendorong ekspektasi inflasi. "Ketiga hal tersebut mengarah pada keputusan bulat yang tegas hari ini," ujar Warsh, dikutip CNBC.
Proyeksi Kenaikan Suku Bunga
Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan mayoritas pejabat masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya pada tahun ini.
Dari 18 peserta proyeksi, 16 memperkirakan masih akan ada kenaikan suku bunga. Namun, empat di antaranya melihat kemungkinan dua kali kenaikan tambahan. Dua pejabat memperkirakan The Fed berhenti setelah kenaikan kali ini.
Warsh tidak memasukkan proyeksi suku bunganya sendiri ke dalam dot plot setelah menjabat sebagai ketua.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa meskipun kenaikan suku bunga telah dilakukan, perdebatan mengenai langkah berikutnya masih terbuka.
Untuk tahun-tahun setelah 2026, proyeksi tidak menunjukkan kenaikan tambahan. Proyeksi tersebut justru mengindikasikan satu kali penurunan pada 2028 dan setidaknya satu kali penurunan pada 2029.
The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi tahun ini. Inflasi berdasarkan indeks personal consumption expenditures (PCE) diperkirakan mencapai 3,7%, sedangkan inflasi inti PCE yang tidak memasukkan makanan dan energi diproyeksikan sebesar 3,4%. Keduanya masing-masing naik 0,1 poin persentase dibandingkan proyeksi Juni.
The Fed memang tidak memperkirakan inflasi kembali mencapai target 2% hingga 2029. Namun, bank sentral memperkirakan tekanan inflasi mulai berkurang pada 2027, dengan inflasi PCE utama diproyeksikan turun menjadi 2,3% dan inflasi inti menjadi 2,5%.
Dilema Harga Energi
Keputusan The Fed kali ini memiliki karakter berbeda karena sebagian tekanan inflasi berasal dari kenaikan harga energi akibat perang AS-Iran dan dampak tarif.
Biasanya, bank sentral cenderung tidak bereaksi berlebihan terhadap kenaikan harga yang dianggap bersifat sementara. Namun, para pejabat The Fed kini menghadapi pertanyaan mengenai berapa lama harga energi akan tetap tinggi dan apakah kenaikan tersebut mulai memengaruhi ekspektasi inflasi masyarakat serta dunia usaha.
Kekhawatiran tersebut semakin besar karena pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda-tanda stabil.
The Fed menurunkan proyeksi tingkat pengangguran menjadi 4,1%, atau 0,2 poin persentase lebih rendah dibandingkan proyeksi Juni.
Para ekonom juga melihat peningkatan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu faktor yang berpotensi memberikan tekanan inflasi.
Pengalaman inflasi setelah pandemi Covid-19 turut menjadi pelajaran bagi para pembuat kebijakan. Saat itu, pejabat The Fed sempat memperkirakan tekanan akibat gangguan pasokan dan permintaan akan mereda dengan sendirinya. Namun, inflasi kemudian mencapai level tertinggi dalam 40 tahun sebelum bank sentral mengambil tindakan agresif.
Perdebatan mengenai kebijakan The Fed juga semakin tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juli, tiga anggota FOMC memilih kenaikan 25 basis poin ketika mayoritas anggota memilih mempertahankan suku bunga.
Sementara untuk 2027, proyeksi pejabat The Fed relatif terbelah: delapan melihat kemungkinan kenaikan lagi, enam memperkirakan suku bunga bertahan, dan empat mengantisipasi penurunan.
