Inflasi AS Agustus 3,4% YoY, Ekspektasi Kenaikan Bunga Fed Menguat
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Inflasi Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan tekanan pada Agustus 2026. Hal ini meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan pekan depan.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), Jumat (11/9/2026), melaporkan indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) naik 0,4% secara bulanan pada Agustus. Secara tahunan, CPI meningkat 3,4%.
Baca Juga
Inflasi Hantui Pasar Obligasi AS, Yield US Treasury 10-Tahun Melejit Dekati 5%
Kedua angka tersebut sesuai dengan konsensus Dow Jones. Namun, tekanan inflasi terlihat lebih kuat ketika komponen makanan dan energi yang bergejolak dikeluarkan.
CPI inti naik 0,3% secara bulanan, 0,1 poin persentase lebih tinggi dibandingkan perkiraan. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,4%, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Laporan ini menjadi indikator inflasi utama terakhir yang akan diterima The Fed sebelum menggelar pertemuan kebijakan moneter (FOMC) pekan depan. Rapat FOMC akan berakhir Rabu dengan keputusan mengenai suku bunga acuan.
Pasar langsung merespons dengan meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Berdasarkan CME Group FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga melonjak mendekati 90%.
“Tidak ada jaminan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pekan depan, tetapi sulit melihat bagaimana bank sentral dapat membenarkan mempertahankan suku bunga tetap,” kata Chris Zaccarelli, chief investment officer Northlight Asset Management, dikutip CNBC.
Sebelum laporan CPI dirilis, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 70%. Data inflasi terbaru membuat ekspektasi tersebut semakin kuat. Suku bunga acuan saat ini berada pada kisaran 3,5%-3,75% dan telah bertahan pada level tersebut sepanjang 2026.
Tekanan Harga Energi
Tekanan terbesar terhadap inflasi headline berasal dari energi. Harga bensin melonjak 3,9% pada Agustus dan menyumbang lebih dari sepertiga kenaikan keseluruhan CPI.
Indeks energi secara keseluruhan meningkat 2,1% dalam sebulan. Dalam setahun terakhir, indeks energi telah melonjak 16,3%, sementara harga bensin melesat 27,4%.
Harga bahan bakar minyak bahkan melonjak 52% dibandingkan setahun sebelumnya.
Baca Juga
Timur Tengah Membara, Hormuz Makin Sepi, Minyak Brent Tembus US$101
Kenaikan harga energi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak mentah berpotensi menekan harga bensin, transportasi, dan berbagai biaya produksi, sehingga meningkatkan risiko inflasi menyebar ke sektor lain.
Di luar energi, harga makanan hanya naik 0,1% pada Agustus. Namun, indeks makanan masih meningkat 2,7% secara tahunan.
Biaya tempat tinggal atau shelter juga kembali meningkat 0,3% setelah mengalami moderasi selama dua bulan sebelumnya. Sementara itu, harga jasa transportasi naik 0,5%.
Harga mobil dan truk bekas naik 0,4%, sedangkan kendaraan baru meningkat 0,3%. Kenaikan yang relatif luas ini menunjukkan tekanan harga belum sepenuhnya menghilang.
Di sisi lain, harga pakaian yang sensitif terhadap tarif perdagangan tidak berubah, sedangkan asuransi kendaraan bermotor turun 0,8%.
Perbedaan pandangan di internal The Fed sebelumnya membuat arah kebijakan September menjadi tidak begitu jelas. Sejumlah pejabat menginginkan pendekatan lebih sabar, sementara Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmennya membawa inflasi kembali ke target 2%.
Warsh sebelumnya mengatakan bahwa jika angka inflasi tidak membaik, “kita masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan”. Pernyataan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai sinyal bahwa ruang untuk mempertahankan suku bunga tetap semakin terbatas.
Baca Juga
Kevin Warsh Soroti Inflasi, Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed
“Ketua Warsh dan pejabat lainnya memberi sinyal bahwa suku bunga dapat dipertahankan hanya jika proses disinflasi berlanjut, dan laporan Agustus hari ini tidak menunjukkan hal tersebut,” kata Kathy Bostjancic, chief economist Nationwide.
Menurut dia, kenaikan kembali harga minyak, bensin dan diesel juga meningkatkan kekhawatiran bahwa energi yang lebih mahal dapat merembet ke harga barang dan jasa lainnya serta memengaruhi ekspektasi inflasi.
Nationwide kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan.
Jika terealisasi, keputusan tersebut akan menjadi perubahan penting setelah suku bunga AS dipertahankan pada kisaran 3,5%-3,75% sepanjang tahun.
Bagi pasar keuangan global, kenaikan suku bunga AS berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan imbal hasil Treasury, sekaligus menambah tekanan terhadap aset berisiko. Biaya pendanaan yang lebih tinggi juga dapat menjadi tantangan bagi saham, obligasi negara berkembang dan mata uang negara-negara emerging market.
Namun, respons pasar saham pada Jumat justru positif karena investor juga mendapat dorongan dari penurunan harga minyak dalam perdagangan. Imbal hasil Treasury bergerak bervariasi, sementara yield Treasury 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter naik 4,6 basis poin menjadi 4,594%.
Data CPI tersebut menunjukkan dilema yang dihadapi The Fed. Mempertahankan suku bunga berisiko membiarkan inflasi bertahan di atas target, sementara kenaikan suku bunga dapat memperketat kondisi keuangan ketika perekonomian juga menghadapi risiko perlambatan.
