Inflasi Hantui Pasar Obligasi AS, Yield US Treasury 10-Tahun Melejit Dekati 5%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil US Treasury melonjak setelah harga minyak mentah Amerika Serikat kembali menembus US$100 per barel dan minyak Brent mendekati US$110 per barel. Lonjakan harga energi memperkuat kekhawatiran investor bahwa inflasi akan kembali meningkat dan membuat Federal Reserve lebih sulit menurunkan suku bunga.
Imbal hasil Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi biaya hipotek, kredit kendaraan dan kartu kredit, naik lebih dari 11 basis poin menjadi 4,954% pada Kamis (10/9/2026). Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 26 Oktober 2023, ketika yield Treasury 10 tahun sempat mencapai 4,989%.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Sentuh 4,85%, Buyback US$ 6 Miliar Tak Mampu Redam Gejolak Pasar
Sementara itu, yield Treasury 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve, naik lebih dari 13 basis poin hingga mencapai 4,56%. Ini merupakan level perdagangan tertinggi sejak Juli 2024.
Yield obligasi Treasury 30 tahun juga naik lebih dari 8 basis poin menjadi 5,368%, mencerminkan meningkatnya premi risiko jangka panjang akibat ketidakpastian geopolitik dan inflasi.
Kenaikan yield terjadi ketika harga minyak melonjak akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 6,7% dan ditutup pada US$102,48 per barel, sedangkan Brent naik 5,9% menjadi US$107,63 per barel.
Lonjakan minyak tersebut membuat investor mengabaikan data inflasi produsen Amerika Serikat yang relatif terkendali. Indeks Harga Produsen (PPI) naik 0,4% pada Agustus secara bulanan, sesuai dengan konsensus Dow Jones.
Jika tidak memasukkan komponen pangan dan energi, inflasi inti produsen hanya naik 0,2%, lebih rendah dari perkiraan kenaikan 0,3%.
Namun, tekanan dari energi membuat pasar kembali fokus pada risiko inflasi di masa mendatang. Secara tahunan, PPI Agustus mencapai 5,4%, masih jauh di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2%.
"Lonjakan harga WTI kembali di atas US$100 dan kenaikan yield Treasury ke level tertinggi baru jelas meningkatkan taruhan bagi investor menjelang laporan CPI yang sangat penting," kata Stephen Coltman, head of macro di 21Shares, sebagaimana dikutip CNBC.
Peluang Kenaikan Bunga Fed
Investor kini mengalihkan perhatian ke data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) yang akan dirilis Jumat. Data CPI menjadi salah satu indikator penting yang akan dipertimbangkan Federal Reserve sebelum mengambil keputusan suku bunga pada 16 September.
Data PPI dan CPI juga menjadi bagian dari rangkaian indikator yang memengaruhi ukuran inflasi pilihan The Fed, yakni Personal Consumption Expenditures (PCE). Namun, data PCE baru akan dirilis setelah keputusan suku bunga The Fed pada 16 September.
Di pasar berjangka, Fed funds futures terakhir menunjukkan peluang sekitar 73% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan.
Baca Juga
Redam Inflasi, Presiden The Fed Minneapolis Dorong Kenaikan Suku Bunga Bertahap
Perubahan ekspektasi tersebut menunjukkan bagaimana lonjakan harga energi dapat mengubah kalkulasi kebijakan moneter. Sebelumnya, investor berharap pelemahan ekonomi dan pasar tenaga kerja akan membuka ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga.
Namun, perang AS-Iran dan kenaikan harga minyak menciptakan risiko baru. Harga energi yang lebih mahal dapat meningkatkan biaya transportasi, manufaktur dan konsumsi, sekaligus memperbesar tekanan inflasi.
Di sisi lain, Departemen Keuangan AS tetap menjalankan program pembelian kembali obligasi pemerintah atau buyback. Pada Kamis, Treasury membeli sekitar US$5,19 miliar obligasi tenor 10 tahun dan 20 tahun yang sudah beredar, dari sekitar US$10,5 miliar yang ditawarkan investor.
Pembelian tersebut merupakan bagian dari program untuk menjaga likuiditas dan membantu memperlancar fungsi pasar obligasi, bukan program pembelian utang pemerintah secara besar-besaran.
Program buyback sebelumnya diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dengan nilai hingga US$6 miliar untuk obligasi pemerintah bertenor panjang. Nilai tersebut sekitar tiga kali lipat dari operasi normal sekitar US$2 miliar.
Meski demikian, langkah Treasury tersebut belum mampu menahan kenaikan yield. Bahkan, yield Treasury tetap tinggi setelah lelang obligasi 30 tahun menunjukkan permintaan yang kuat.
BMO Capital Markets menilai lelang tersebut sangat solid, dengan tingkat permintaan non-dealer mencapai 97,8%, dibandingkan rata-rata 88,5% pada enam lelang sebelumnya.
Bagi investor, persoalan utama kini adalah apakah lonjakan harga minyak hanya bersifat sementara atau akan menjadi sumber inflasi yang bertahan lama.
Jika perang AS-Iran berlanjut dan gangguan pasokan melalui Timur Tengah semakin parah, tekanan terhadap harga energi berpotensi semakin besar. Kondisi itu dapat membuat inflasi AS lebih sulit turun dan mempersempit ruang The Fed untuk melakukan pelonggaran moneter.
Karena itu, data CPI yang akan dirilis Jumat menjadi sangat penting. Angka inflasi konsumen tersebut dapat menentukan apakah kenaikan yield Treasury akan berlanjut sekaligus mengubah ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed pekan depan.
