Inflasi PCE AS Juli Masih Tinggi, Peluang Pemangkasan FFR September Makin Terbatas
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id — Indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed) menunjukkan tekanan harga di Amerika Serikat masih bertahan pada level tinggi pada Juli 2026, meskipun kenaikan harga bulanan relatif moderat.
Baca Juga
Inflasi AS Melandai Imbas Penurunan Biaya Energi, Tekanan Kenaikan Bunga Mereda?
Departemen Perdagangan AS pada Rabu (26/8/2026) melaporkan indeks harga personal consumption expenditures (PCE) meningkat 0,2% secara bulanan pada Juli. Secara tahunan, inflasi PCE mencapai 3,7%.
Kedua angka tersebut masing-masing 0,1 poin persentase lebih tinggi dari konsensus Dow Jones.
Namun, jika komponen makanan dan energi yang cenderung bergejolak dikeluarkan, inflasi inti PCE meningkat 0,2% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan pasar.
The Fed memantau kedua ukuran tersebut, tetapi inflasi inti PCE umumnya dianggap lebih mencerminkan kecenderungan tekanan harga dalam jangka panjang.
Data terbaru juga menunjukkan aktivitas konsumen masih cukup kuat. Pendapatan pribadi masyarakat AS meningkat 0,4% pada Juli, sedangkan belanja konsumen naik 0,2%. Keduanya lebih tinggi dari ekspektasi.
Di sisi barang, harga justru turun 0,1% pada Juli. Penurunan terutama dipengaruhi oleh harga bensin dan barang terkait energi yang anjlok 2,7%, serta harga furnitur dan peralatan rumah tangga tahan lama yang turun 0,9%.
Sebaliknya, harga jasa meningkat 0,3%. Kenaikan tersebut antara lain didorong oleh harga jasa keuangan dan asuransi yang naik 1,2%, serta harga perumahan yang meningkat 0,3%.
Data inflasi itu muncul ketika para pejabat The Fed tengah mempertimbangkan langkah kebijakan moneter berikutnya. Meskipun kenaikan harga secara bulanan relatif lunak dalam beberapa bulan terakhir, tingkat inflasi tahunan masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tidak menggelar pertemuan kebijakan pada Agustus. Pertemuan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September.
Dilansir CNBC, pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar satu banding tiga untuk perubahan suku bunga pada September. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga dinilai lebih besar pada Desember.
Baca Juga
Inflasi dan Perang Iran Bikin Pejabat The Fed Terpecah soal Suku Bunga
Perhatian investor kini beralih ke simposium tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming. Gubernur The Fed Kevin Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato kebijakan pada Jumat.
Sejak menjabat pada Mei, Warsh cenderung berhati-hati dalam memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Ia lebih memilih membiarkan perkembangan pasar turut menentukan arah kebijakan.
Di tengah ketidakpastian inflasi, pasar obligasi pemerintah AS juga menjadi sorotan. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun baru-baru ini mencapai level tertinggi sejak 2007, atau menjelang krisis keuangan global.
Kenaikan imbal hasil tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kekhawatiran investor mengenai komitmen The Fed terhadap target inflasi serta persoalan utang dan defisit anggaran pemerintah AS.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu mengumumkan rencana untuk meningkatkan pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah. Namun, pelaku pasar masih meragukan sejauh mana langkah tersebut mampu memberikan dampak signifikan terhadap imbal hasil Treasury.
