Draft Iran Larang Kapal AS-Israel Lewati Hormuz, Washington Tolak Keras
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Iran menyusun rancangan aturan baru untuk lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang melarang kapal Amerika Serikat dan Israel melintas. Washington menolak keras usulan tersebut dengan menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang tidak dapat dikendalikan oleh satu negara.
Media pemerintah Iran, Fars, melaporkan adanya rancangan aturan baru yang akan melarang kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Laporan itu muncul ketika Amerika Serikat, Iran, dan Oman dikabarkan semakin dekat mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah berminggu-minggu dilanda konflik.
Baca Juga
AS Sebut Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz Segera Tercapai, Bessent: Bisa Hari Ini atau Besok
Seorang pejabat Amerika Serikat langsung menolak isi rancangan tersebut. Kepada CNBC, pejabat itu menegaskan bahwa jalur pelayaran sementara nantinya tidak akan memerlukan izin, persetujuan maupun pembayaran biaya apa pun.
"Selat Hormuz adalah perairan internasional dan tidak ada satu pihak pun yang mengendalikan jalur pelayaran maupun hak transit di sana," ujar pejabat tersebut, dikutip Jumat (7/8/2026).
Menurut Fars yang mengutip seorang anggota parlemen Iran, rancangan aturan tersebut juga melarang kapal kargo Israel beserta kapal-kapal terkait. Pembatasan juga akan diberlakukan terhadap negara maupun individu yang dianggap telah merugikan Iran hingga kerugian tersebut memperoleh kompensasi.
Baca Juga
Harapan Kesepakatan Hormuz Menguat, Harga Minyak Merosot Lebih dari 5%
Iran bahkan berencana mengenakan sanksi hingga 20% dari nilai muatan kapal bagi pihak yang melanggar aturan tersebut.
Di sisi lain, sejumlah pejabat kawasan menyatakan Iran dan Oman hampir menyelesaikan kesepakatan pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Seorang pejabat pemerintah Iran yang mengetahui proses negosiasi mengatakan kepada MS NOW bahwa kesepakatan sementara itu tidak akan mengenakan biaya maupun tarif bagi kapal yang melintas.
Dalam skema tersebut, kapal yang masuk akan menggunakan perairan teritorial Iran, sementara kapal keluar diarahkan melalui jalur yang lebih dekat dengan wilayah Oman.
Kesepakatan itu disebut bertujuan menghidupkan kembali gencatan senjata dan memorandum of understanding (MoU) yang disepakati Amerika Serikat dan Iran pada pertengahan Juni, sekaligus membuka kembali putaran negosiasi selama 60 hari.
Pejabat tersebut juga mengatakan Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa serta pemerintah Amerika Serikat akan terlibat dalam pengumuman resmi kesepakatan. Seorang pejabat negara Teluk lainnya menyebut seluruh anggota Gulf Cooperation Council (GCC) telah memberikan dukungan.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Amerika Serikat siap "kembali pada komitmennya", meski ia membantah adanya negosiasi langsung yang sedang berlangsung antara kedua negara.
Pernyataan tersebut diduga merujuk pada kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni, di mana Iran membuka akses kapal komersial melintasi Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari, sementara Washington berkomitmen mencabut blokade terhadap kapal-kapal Iran.
Namun Gharibabadi menegaskan bahwa jalur penyelesaian saat ini berlangsung antara Iran dan Oman, bukan melalui pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat.
Ia juga menyatakan jalur pelayaran lama sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi keamanan saat ini sehingga Iran mengusulkan perubahan rute pelayaran di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyebut pembicaraan damai tetap berlangsung, "apakah Iran mengakuinya atau tidak", sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperkirakan kesepakatan dapat diumumkan dalam waktu dekat.

