Rotasi Saham Ubah Arah Wall Street, Nasdaq Merah, Dow Melesat Lebih dari 500 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, invevstortrust.id - Indeks saham Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (29/7/2026) WIB. Dow Jones Industrial Average melonjak lebih dari 500 poin seiring turunnya harga minyak, laporan keuangan emiten yang solid, serta berlanjutnya rotasi investasi dari saham teknologi menuju sektor-sektor ekonomi tradisional.
Dow Jones menguat 537,24 poin atau 1,03% menjadi 52.747,32, sekaligus mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut.
Kenaikan Dow dipimpin oleh saham Sherwin-Williams yang melonjak 8% setelah membukukan laba kuartal kedua di atas ekspektasi analis. Coca-Cola juga menguat 5% setelah melaporkan pendapatan dan laba yang melampaui perkiraan sekaligus menaikkan proyeksi kinerja sepanjang tahun. Indeks S&P 500 naik tipis 0,21% ke level 7.428,78.
Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru turun 0,22% menjadi 24.876,91 akibat tekanan besar pada saham-saham semikonduktor.
Baca Juga
Minyak Brent Anjlok Hampir 5% Usai Iran Bahas Selat Hormuz dengan Saudi dan Oman
ETF VanEck Semiconductor (SMH) turun lebih dari 3% dan mencatat penurunan untuk hari keempat berturut-turut. Saham Micron Technology dan AMD masing-masing anjlok lebih dari 8%.
Sentimen positif pasar turut didukung oleh turunnya harga minyak setelah Iran menggelar pembicaraan dengan Arab Saudi dan Oman mengenai Selat Hormuz. WTI turun sekitar 4% menjadi US$79,26 per barel, sedangkan Brent melemah 4,8% menjadi US$84,09 per barel.
Pergerakan tersebut mencerminkan rotasi investasi yang semakin kuat dalam beberapa pekan terakhir. Investor mulai mengurangi eksposur pada saham teknologi berkapitalisasi besar dan beralih ke sektor-sektor yang lebih sensitif terhadap siklus ekonomi.
Technology Select Sector SPDR Fund (XLK) bahkan turun ke level terendah sejak 7 Mei. Sebaliknya, ETF sektor kesehatan (XLV) dan sektor keuangan (XLF) mencetak rekor tertinggi baru, didorong terutama oleh kenaikan saham-saham perusahaan asuransi.
Ahli strategi investasi di Baird, Ross Mayfield, mengatakan rotasi pasar yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi faktor teknikal dibanding perubahan fundamental ekonomi.
“Tren ini telah berlangsung selama enam hingga delapan pekan terakhir dan masih berpotensi berlanjut,” ujar Mayfield kepada CNBC.
Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan sektor-sektor seperti keuangan, industri, dan consumer discretionary akan sangat bergantung pada stabilitas harga minyak dan suku bunga.
Apabila harga minyak kembali mendekati US$100 per barel atau imbal hasil obligasi terus meningkat, rotasi tersebut berisiko kehilangan momentum.
Pelaku pasar kini menantikan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang akan diumumkan pada Rabu waktu setempat. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga, namun investor akan mencermati sinyal mengenai arah kebijakan berikutnya.
Baca Juga
Pejabat The Fed Dorong Kenaikan Suku Bunga ‘Moderat’, Lorie Logan: Inflasi Belum Terkendali
Berdasarkan CME FedWatch Tool, kontrak berjangka suku bunga masih mencerminkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Selain keputusan The Fed, perhatian investor juga tertuju pada laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi, yakni Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft, yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan Wall Street dalam beberapa hari ke depan.
