Harga Minyak Brent Melesat Tembus US$ 91 per Barel
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Harga minyak mentah acuan global, Brent, mengalami lonjakan tajam setelah Amerika Serikat dan Iran meningkatkan aksi saling serang sepanjang akhir pekan. Ketegangan yang kian memuncak ini mencakup penargetan kapal-kapal dagang yang berusaha melintasi Selat Hormuz hingga serangan langsung terhadap fasilitas minyak penting di Kuwait.
Bloomberg pada Senin (20/7/2026) melaporkan patokan harga global Brent melesat lebih dari 3% hingga diperdagangkan di kisaran US$ 91 per barel, mencatatkan level tertinggi sejak pertengahan Juni.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati posisi US$ 85 per barel.
Teheran menyatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran secara efektif telah berakhir, yang berpotensi memicu gangguan lebih dalam terhadap arus pasokan energi di sepanjang selat strategis tersebut.
Angkatan Laut Iran melaporkan bahwa mereka telah menghentikan empat kapal tidak dikenal yang berupaya menggunakan "jalur tidak aman" melalui Selat Hormuz setelah mengabaikan peringatan. Pihak angkatan laut menyatakan, dua kapal di antaranya "mengalami kecelakaan dan berhasil dihentikan di jalurnya," sedangkan dua kapal sisanya "meninggalkan jalur tersebut dan berbalik arah."
Rangkaian serangan balasan yang berlangsung selama sepekan terakhir telah meluas melampaui sasaran militer murni hingga merusak jembatan, fasilitas umum, dan pelabuhan. Kondisi ini menandakan minimnya prospek untuk kembali ke kesepakatan gencatan senjata yang rapuh. Kuwait Petroleum Corp mengungkapkan bahwa Iran menyerang fasilitas minyak milik mereka pada hari Sabtu, yang mengakibatkan kerusakan signifikan.
Analis energi senior di MST Marquee, Saul Kavonic, menilai bahwa intensifikasi serangan sepanjang akhir pekan "semuanya mengarah pada potensi konflik yang meluas dalam skala maupun durasi.
Baca Juga
Waspadai Geopolitik dan Pasokan Global, ESDM Perkirakan Harga Minyak di Kisaran Ini
"Penargetan langsung terhadap infrastruktur minyak di kawasan tersebut, atau setiap upaya sukses dari kelompok Houthi untuk menghambat jalur Laut Merah, akan diperlukan untuk mempercepat kenaikan harga," ujarnya.
Kelompok militan Houthi di Yaman yang disokong Iran juga turut mengganggu pelayaran komersial di titik penyempitan Laut Merah pada periode ketegangan tinggi di Timur Tengah. Pekan lalu, pemimpin Houthi mengancam akan menyerang fasilitas minyak Arab Saudi setelah menembakkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke wilayah kerajaan tersebut.
Dalam eskalasi terbaru ini, Kuwait menanggung dampak terberat dari balasan Iran, sementara Bahrain turut menjadi sasaran serangan.
Pihak Israel menyatakan telah mencegat pesawat nirawak Iran di dekat perbatasan Israel-Suriah. Di sisi lain, media Iran melaporkan bahwa pasukan militer AS melancarkan serangan ke Pulau Qeshm di Teluk Persia serta sejumlah kota di bagian selatan seperti Shadegan, Sirik, dan Hajiabad.
AS kini kembali menerapkan blokade di Selat Hormuz, sementara rentetan serangan Iran terhadap kapal-kapal di sekitar perairan tersebut mengancam perdagangan bolak-balik yang biasa dimanfaatkan produsen Teluk Persia untuk mengangkut kargo. Menteri Energi AS Chris Wright menyampaikan bahwa jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz memang mengalami penurunan, tetapi kapal tanker berukuran lebih besar kini tetap beroperasi melintas.
