Implementasi Kesepakatan AS-Iran Masih Perlu Waktu, IEA: Krisis Hormuz Ubah Peta Energi Dunia
Poin Penting
|
ISTANBUL, investortrust.id – Krisis di Selat Hormuz yang mengguncang pasar energi global selama beberapa bulan terakhir diperkirakan akan menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah industri energi modern. Para pemimpin industri, analis, dan lembaga internasional kini sepakat bahwa dunia tidak akan kembali ke pola lama setelah perang Iran dan gangguan pasokan minyak terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Presiden Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, mengatakan krisis tersebut telah mengubah cara negara-negara memandang keamanan energi, ketahanan rantai pasok, dan kemitraan strategis internasional.
"Terlepas dari bagaimana persoalan Hormuz berakhir, saya pikir peta energi dunia akan mulai digambar ulang dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Kemitraan akan didefinisikan ulang dan kemitraan baru akan terbentuk," kata Birol dalam pertemuan Dewan Penasihat Tinggi Asosiasi Industri dan Bisnis Turkiye di Istanbul, Kamis (18/6/2026), seperti dikutip Reuters.
Baca Juga
Pernyataan itu muncul ketika pasar energi masih berusaha menyesuaikan diri setelah perang Iran menyebabkan gangguan terhadap jalur yang sebelumnya mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Meski harga minyak telah turun tajam sejak tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran, para pelaku industri menilai dampak jangka panjangnya baru mulai terlihat.
Faktor Kepercayaan
Menurut Birol, pelajaran terbesar dari krisis ini adalah bahwa keamanan pasokan tidak lagi bisa bergantung pada satu jalur atau satu negara pemasok.
Empat tahun lalu, dunia masih memiliki dua "urat nadi" energi utama: jaringan pipa Rusia-Eropa dan Selat Hormuz. Kini keduanya mengalami gangguan besar.
Akibatnya, banyak negara mempercepat strategi diversifikasi pasokan, memperluas sumber impor, membangun infrastruktur penyimpanan, dan mencari jalur perdagangan alternatif. "Kepercayaan akan menjadi faktor yang sangat penting dalam berbagai kesepakatan di dunia energi," kata Birol.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai laporan media internasional. Reuters melaporkan bahwa meskipun kesepakatan damai telah tercapai, banyak operator kapal tanker masih enggan kembali melintasi Hormuz hingga keamanan benar-benar terjamin.
Jotaro Tamura, Chief Executive Officer Mitsui O.S.K. Lines, operator tanker terbesar dunia, mengatakan perusahaan pelayaran membutuhkan bukti nyata bahwa situasi di lapangan benar-benar aman.
Baca Juga
Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali, Minyak Brent Terjun di Bawah US$ 80
"Perlu waktu setidaknya beberapa minggu, bahkan mungkin satu bulan, sebelum lalu lintas kembali normal," ujarnya kepada Financial Times sebagaimana dikutip Reuters.
Dunia Berlomba Cari Jalur Alternatif
Krisis Hormuz juga memicu perlombaan baru dalam pembangunan infrastruktur energi. Reuters melaporkan bahwa IEA memuji langkah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang selama beberapa tahun terakhir membangun jalur ekspor alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Hormuz.
Di Eropa, percepatan pembangunan terminal LNG dan jaringan energi lintas negara yang dimulai sejak krisis Rusia-Ukraina kini semakin diperkuat. Sementara di Asia, negara-negara importir besar seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan China meningkatkan fokus pada keamanan rantai pasok energi.
Menurut analis Bank of America, BNP Paribas, dan Goldman Sachs yang dikutip Reuters, pemulihan penuh produksi minyak dan arus ekspor Timur Tengah dapat memakan waktu berbulan-bulan meskipun konflik telah mereda.
Bahkan setelah Hormuz dibuka kembali, hambatan berupa ranjau laut, premi asuransi perang yang tinggi, dan antrean kapal tanker masih menjadi tantangan besar. MarketWatch melaporkan bahwa lebih dari seratus kapal tanker masih terjebak akibat gangguan pelayaran selama konflik berlangsung.
Era Listrik Datang Lebih Cepat
Selain mengubah geopolitik energi, krisis Hormuz juga mempercepat transformasi menuju sistem energi yang lebih berbasis listrik. Birol menegaskan bahwa pertumbuhan konsumsi listrik saat ini mencapai tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan konsumsi energi secara keseluruhan. "Pertumbuhan sektor listrik kini mendominasi segalanya," katanya.
Kondisi tersebut diperkirakan akan mempercepat investasi pada pembangkit energi terbarukan, tenaga nuklir, jaringan transmisi listrik, dan teknologi penyimpanan energi berbasis baterai.
Perubahan itu semakin penting ketika dunia menghadapi dua proyeksi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, IEA memperkirakan pasar minyak dapat mengalami surplus pasokan besar pada 2027 jika produksi Timur Tengah pulih dan pasokan global kembali normal.
Di sisi lain, OPEC dalam laporan jangka panjang terbarunya justru memperkirakan permintaan minyak dunia akan terus tumbuh hingga 2050 tanpa tanda-tanda mencapai puncak konsumsi, seperti dilaporkan The Wall Street Journal.
Baca Juga
Tanpa Uni Emirat Arab, OPEC+ Naikkan Produksi 188.000 Barel per Hari
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase transisi energi yang penuh ketidakpastian. Birol menilai penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim PBB COP31 di Turkiye tahun ini menjadi momentum penting untuk mengembalikan isu iklim ke pusat perhatian dunia.
Ia mendorong peningkatan tingkat elektrifikasi global dari 25% menjadi 35% pada 2035, pengurangan limbah hingga 50% dalam satu dekade, serta perluasan akses teknologi memasak bersih di Afrika.
Menurut Birol, COP31 bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan bagian dari strategi besar membangun sistem energi yang lebih tangguh dan tidak rentan terhadap guncangan geopolitik seperti yang terjadi di Hormuz. "Bagi Turkiye, ini adalah peluang bersejarah sekaligus tanggung jawab bersejarah," ujarnya.
Bagi pasar global, pesan yang muncul semakin jelas: krisis Hormuz mungkin mulai mereda, tetapi dampaknya terhadap geopolitik energi, arus investasi, dan strategi keamanan pasokan dunia baru saja dimulai. Negara yang paling cepat beradaptasi terhadap perubahan ini berpeluang menjadi pemenang dalam tatanan energi global yang baru.
