Harga Minyak Anjlok Dipicu Harapan Damai AS-Iran, Brent Turun di Bawah US$ 100
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia anjlok lebih dari 4% pada perdagangan Minggu (24/5/2026) waktu AS. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz menunjukkan perkembangan positif.
Baca Juga
Trump Klaim Kesepakatan AS-Iran Hampir Rampung, Selat Hormuz Segera Dibuka?
Dikutip dari CNBC, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 5% menjadi US$92,05 per barel, sedangkan minyak acuan global Brent melemah hampir 5% ke level US$98,88 per barel.
Dalam unggahan media sosialnya, Trump menyatakan negosiasi berlangsung secara “tertib dan konstruktif”, namun ia meminta tim perunding AS tidak terburu-buru mencapai kesepakatan.
“Negosiasi berjalan secara tertib dan konstruktif, dan saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk tidak terburu-buru karena waktu berada di pihak kita,” tulis Trump.
Pernyataan tersebut memperkuat optimisme pasar bahwa jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, Selat Hormuz, akan segera dibuka kembali setelah berbulan-bulan terganggu akibat konflik Timur Tengah.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran terkait pembukaan Hormuz “hampir selesai” dan akan segera diumumkan. Namun pasar masih berhati-hati karena beberapa kali sebelumnya sinyal perdamaian justru diikuti eskalasi konflik baru yang mendorong harga minyak melonjak tajam.
Iran diketahui memberlakukan blokade ‘de facto’ terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz sejak awal Maret sebagai respons atas serangan udara AS dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah petinggi lainnya.
Baca Juga
Gangguan di Selat Hormuz telah memangkas drastis ekspor minyak dari Timur Tengah dan memicu salah satu disrupsi pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Analis energi dari Again Capital, John Kilduff, mengatakan pasar saat ini mulai memperhitungkan kemungkinan meredanya risiko geopolitik.
“Pasar minyak sebelumnya telah memasukkan premi risiko perang yang sangat besar. Ketika ada sinyal diplomasi bergerak maju, investor langsung melakukan aksi jual,” ujarnya kepada media internasional.
Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan volatilitas masih akan tinggi selama belum ada pengumuman resmi terkait pembukaan penuh Selat Hormuz.
Kepala riset komoditas ING, Warren Patterson, mengatakan pasar tetap rentan terhadap perubahan situasi politik secara mendadak. “Setiap kemajuan diplomatik memang membantu menekan harga, tetapi risiko gangguan pasokan tetap sangat tinggi sampai arus pengiriman benar-benar normal kembali,” katanya.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Penutupan jalur tersebut selama beberapa bulan terakhir telah memicu lonjakan biaya energi global, memperparah inflasi, dan menambah tekanan terhadap ekonomi dunia.
Penurunan harga minyak kali ini juga memberikan sentimen positif bagi pasar saham global dan mengurangi kekhawatiran inflasi di AS maupun Eropa. Namun investor masih mencermati perkembangan terbaru hubungan Washington-Teheran karena kegagalan diplomasi dapat kembali memicu reli harga energi dalam waktu singkat.
Media internasional seperti CNBC, Reuters, dan Bloomberg melaporkan bahwa pasar energi global kini berada dalam fase sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

