Bagikan

AS-Iran Dekati Damai

Poin Penting

AS dan Iran menunjukkan sinyal kemajuan dalam perundingan damai, namun masih berselisih tajam terkait cadangan uranium dan tarif tol di Selat Hormuz.
Donald Trump dan Marco Rubio tegas menolak rencana sistem tol Selat Hormuz, sementara Iran menolak menyerahkan uranium yang mendekati tingkat senjata ke luar negeri.
Konflik yang melumpuhkan Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026 ini telah memicu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran inflasi global.

JAKARTA, investortrust.id — Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memberi sinyal kemajuan dalam perundingan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Namun, kedua pihak masih berselisih tajam terkait cadangan uranium Iran dan rencana pengenaan sistem pembayaran atau toll di Selat Hormuz.

Laporan tersebut dipublikasikan CNBC pada Jumat (22/05/2026) waktu Amerika Serikat atau Jumat sore WIB, mengutip pernyataan pejabat Washington dan Teheran. Konflik AS-Israel melawan Iran sendiri dimulai sejak serangan militer pada 28 Februari 2026.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan terdapat “tanda-tanda positif” menuju kesepakatan damai. Namun Rubio menegaskan kesepakatan akan sulit tercapai jika Iran tetap berupaya mengontrol permanen jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga

Harga Minyak Bergejolak, Pasar Ragu Terobosan Negosiasi Damai Iran-AS

“Tidak ada negara di dunia yang mendukung sistem toll di Selat Hormuz. Itu tidak bisa diterima,” ujar Rubio kepada wartawan di Miami, Kamis (21/05/2026) waktu setempat.

Presiden Donald Trump juga menolak gagasan kerja sama Iran dan Oman untuk membangun sistem pembayaran pelayaran di Selat Hormuz. Trump menegaskan AS ingin jalur tersebut tetap terbuka dan bebas karena merupakan jalur internasional.

Blokade di Selat Hormuz oleh Iran (garis tipis) dan blokade yang dilakukan oleh militer AS di arah masuk Selat Hormuz dari Samudera Hindia (garis tebal). Foto: @IraninHyderabad

“Kami ingin Selat Hormuz tetap terbuka dan bebas. Kami tidak ingin ada toll. Itu jalur air internasional,” kata Trump.

Dari pihak Iran, kantor berita semi-resmi ISNA menyebut proposal terbaru Washington telah mempersempit perbedaan posisi kedua negara. Namun Teheran menegaskan kemajuan lebih lanjut hanya mungkin terjadi jika AS menghentikan ancaman perang.

Selain isu Selat Hormuz, cadangan uranium Iran masih menjadi hambatan utama dalam negosiasi. Washington meminta Teheran menyerahkan uranium yang telah diperkaya karena khawatir digunakan untuk pengembangan senjata nuklir. Iran menolak tuntutan tersebut dan menyatakan program nuklirnya bertujuan damai.

Reuters melaporkan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bahkan telah mengeluarkan arahan agar uranium Iran yang mendekati tingkat senjata tidak dikirim ke luar negeri.

Sementara itu, militer AS melalui CENTCOM menyatakan kapal induk USS Abraham Lincoln tetap berada dalam kondisi siaga penuh di Laut Arab untuk mendukung blokade terhadap pelabuhan Iran.

Baca Juga

Wall Street Menguat di Tengah Harapan Negosiasi Iran-AS, Dow Cetak Rekor Baru

Di sisi lain, Pakistan juga mulai terlibat dalam upaya mediasi. Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dilaporkan mengunjungi Teheran pada Kamis (21/05/2026) sebagai bagian dari diplomasi antara Washington dan Teheran.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG global biasanya melewati kawasan tersebut. Namun sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, lalu lintas pelayaran di kawasan itu praktis lumpuh akibat blokade Iran dan meningkatnya risiko militer.

Berbagai media internasional seperti Reuters, AP, dan CNBC menyebut ketegangan di Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak dunia, memperbesar premi risiko energi global, serta meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi dunia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024