Harga Minyak Bergejolak, Pasar Ragu Terobosan Negosiasi Damai Iran-AS
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Gejolak harga minyak dunia kembali meningkat setelah pasar mulai meragukan peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Optimisme awal yang sempat menekan harga minyak kini berbalik menjadi kehati-hatian, seiring belum adanya kepastian mengenai pembukaan Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Teheran.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Usai Trump Sebut Negosiasi Iran Masuki ‘Tahap Akhir’
Pada perdagangan Kamis (21/5/2026) waktu AS, harga minyak sempat turun tajam karena investor berharap Washington dan Teheran segera mencapai kesepakatan yang dapat mencegah pecahnya kembali perang terbuka di Timur Tengah. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat ditutup turun hampir 2% ke level US$96,35 per barel, sedangkan Brent melemah lebih dari 2% menjadi US$102,58 per barel.
Namun pada perdagangan Jumat di Asia dan Eropa, harga minyak kembali bergerak naik setelah pelaku pasar mulai meragukan adanya terobosan cepat dalam negosiasi damai. Reuters melaporkan harga WTI sempat kembali mendekati US$ 98 per barel, sementara Brent naik di atas US$ 106 per barel.
Keraguan pasar muncul setelah Iran disebut masih meninjau proposal terbaru dari AS. Sejumlah isu utama masih menjadi hambatan besar, terutama terkait status uranium yang diperkaya, sanksi ekonomi, dan pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz. (GMA Network)
Pemerintah Iran sejauh ini belum memberikan jawaban final terhadap proposal Washington. Media internasional melaporkan Teheran masih menggunakan jalur mediasi Pakistan untuk menyampaikan respons diplomatiknya. (GMA Network)
Presiden AS Donald Trump di sisi lain tetap mempertahankan tekanan terhadap Iran, namun mengatakan dirinya masih memberi waktu beberapa hari bagi proses diplomasi.
“Jika saya bisa mencegah perang dengan menunggu beberapa hari, maka itu hal yang baik,” kata Trump kepada wartawan di Maryland pekan ini.
Meski demikian, Trump juga memperingatkan bahwa aksi militer dapat kembali dilanjutkan apabila Iran tidak memberikan “jawaban 100% memuaskan” terkait negosiasi tersebut.
Pasar energi global kini menempatkan perhatian utama pada Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi urat nadi sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Hingga kini, jalur tersebut belum sepenuhnya kembali normal meski menurut Wall Street Journal, ada beberapa kapal tanker yang mulai melintas secara terbatas.
Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan pasar minyak dunia dapat memasuki “zona merah” pada Juli atau Agustus jika Selat Hormuz tidak segera dibuka penuh.
Baca Juga
IEA Peringatkan Pasar Minyak Masuk “Zona Merah” pada Juli-Agustus
Menurut Birol, kombinasi antara menipisnya cadangan minyak global dan meningkatnya permintaan energi selama musim panas berpotensi menciptakan tekanan baru pada harga energi dunia.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, yang memperkirakan arus penuh minyak melalui Selat Hormuz kemungkinan baru dapat pulih pada 2027, bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat.
Kepala strategi ekuitas Eropa Barclays, Lydia Rainforth, menyebut situasi pasar minyak saat ini sebagai kondisi yang “sangat sulit” karena gangguan pasokan sudah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Pasar bergerak seolah kesepakatan sudah selesai, padahal kenyataannya belum,” kata salah satu analis pasar yang dikutip CNBC, menggambarkan perubahan sentimen investor yang sangat cepat terhadap setiap perkembangan diplomasi Iran-AS.
Pelaku pasar kini menunggu apakah negosiasi dapat menghasilkan kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz, atau justru kembali memicu eskalasi baru yang dapat mendorong harga minyak menembus level psikologis US$100 per barel dalam waktu dekat.

