Bagikan

Donald Trump Tolak Proposal Damai Baru Iran, Negosiasi Mandek Meski Harga Minyak Turun

Poin Penting

Donald Trump nyatakan belum puas dengan proposal damai terbaru Iran yang dikirim melalui mediator Pakistan.
Harga minyak dunia anjlok hingga 5% merespons dinamika negosiasi dan harapan stabilitas pasokan energi global.
Ketegangan di Lebanon meningkat menyusul serangan udara Israel meski gencatan senjata formal masih berlaku.

JAKARTA, Investortrust.id — Upaya diplomasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak puas dengan proposal damai terbaru yang diajukan Teheran, memunculkan keraguan baru atas peluang tercapainya kesepakatan penghentian konflik.

Dalam laporan langsung Al Jazeera yang ditulis Stephen Quillen dan Mariamne Everett serta dipublikasikan Jumat (01/05/2026), Trump menegaskan bahwa ia “tidak yakin kita akan mencapai kesepakatan” untuk mengakhiri perang. Pernyataan itu disampaikan setelah Iran mengirimkan proposal baru melalui mediator Pakistan guna memecah kebuntuan negosiasi yang telah berlangsung beberapa pekan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tetap membuka ruang diplomasi. Namun, Iran mensyaratkan perubahan sikap Washington, khususnya penghentian pendekatan yang dinilai “ekspansionis” dan retorika yang bersifat ancaman.

Situasi keamanan di kawasan juga belum menunjukkan perbaikan signifikan. Dalam hari yang sama, dua serangan Israel di kota Haboush, Lebanon selatan, dilaporkan menewaskan enam orang, termasuk perempuan dan anak-anak, menurut kantor berita nasional Lebanon. Militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi paksa di wilayah lain, meski secara formal gencatan senjata yang didukung AS masih berlaku sejak awal April 2026.

Perkembangan ini sejalan dengan laporan CNBC yang dipublikasikan 30 April 2026 waktu AS, yang menyebut Iran telah mengirim proposal damai terbaru kepada mediator di Pakistan. Proposal tersebut kemudian diteruskan ke Washington, memicu kembali harapan akan kemungkinan penyelesaian konflik.

Baca Juga

Saat Senjata Dikubur Kembali Digali: Iran Siapkan Serangan Baru di Tengah Gencatan Senjata, Trump Pertimbangkan Opsi Militer

Namun, pasar merespons secara hati-hati. Harga minyak dunia justru mengalami penurunan di tengah harapan baru tersebut. Minyak mentah AS tercatat turun hampir 5% ke level sekitar US$100 per barel, sementara Brent melemah hampir 3% ke kisaran US$107 per barel. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa pasokan energi global dapat kembali stabil jika negosiasi berhasil, meski risiko geopolitik tetap tinggi.

Di tengah dinamika tersebut, pemerintahan Trump juga menghadapi tekanan domestik. Berdasarkan laporan CNBC, Gedung Putih berada di bawah tenggat 60 hari sesuai War Powers Resolution terkait operasi militer di Iran. Namun, pemerintah berargumen bahwa gencatan senjata yang dicapai pada 7 April 2026 telah “mengakhiri permusuhan”, sehingga tidak lagi memerlukan persetujuan Kongres.

Argumen ini sebelumnya juga disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sidang di Kongres, yang menyebut gencatan senjata efektif menghentikan konflik aktif, meskipun ketegangan di lapangan masih terus terjadi.

Sejumlah laporan media internasional lain seperti BBC dan Reuters juga menyoroti bahwa negosiasi AS–Iran masih berada dalam kondisi rapuh. Kedua pihak tetap mempertahankan posisi keras, sementara eskalasi di Lebanon dan kawasan sekitar menjadi pengingat bahwa konflik belum benar-benar mereda.

Dengan sikap Trump yang belum puas terhadap proposal terbaru Iran, prospek perdamaian jangka pendek kembali dipertanyakan. Gencatan senjata yang ada saat ini semakin terlihat sebagai jeda taktis, bukan solusi permanen, sementara pasar energi global dan stabilitas kawasan tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024