Bursa Asia Melemah, Ancaman Trump terhadap Iran Guncang Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar saham Asia-Pasifik melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026). Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Iran memicu kekhawatiran baru atas eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan minyak global.
Baca Juga
Investor bereaksi hati-hati setelah Trump melalui platform Truth Social memperingatkan Iran agar segera “bergerak cepat.” Ia menyebut “waktu terus berjalan” dan memperingatkan bahwa “tidak akan ada yang tersisa” jika langkah tertentu tidak segera diambil.
Pernyataan keras tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama karena ketegangan antara Washington dan Teheran masih tinggi meskipun gencatan senjata rapuh tercapai pada awal April lalu.
Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, harga minyak dunia kembali melonjak. Minyak Brent kontrak Juli naik 1,34% menjadi US$110,72 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Juni menguat 1,75% ke level US$107,26 per barel.
Pasar juga mencermati dampak lanjutan dari blokade pelabuhan Iran oleh AS serta penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak konflik berlangsung. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia sehingga ancaman gangguan pasokan memicu kekhawatiran inflasi energi global.
Di kawasan Asia Pasifik, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,76%. Dikutip dari CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,2%, sedangkan Topix masih mampu naik tipis 0,1%.
Pasar Korea Selatan mengalami tekanan lebih besar. Indeks Kospi dan Kosdaq masing-masing anjlok lebih dari 2% akibat aksi jual pada saham teknologi dan pertumbuhan.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak lebih dari 8 basis poin menjadi 2,785%, memperpanjang tekanan jual di pasar obligasi global akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi.
Kontrak futures indeks Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan pelemahan, diperdagangkan di level 25.733, lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di 25.962,73.
Di Amerika Serikat, futures Wall Street bergerak relatif datar cenderung melemah setelah pekan sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru. Investor kini menanti laporan keuangan emiten teknologi besar seperti Nvidia serta sejumlah peritel utama AS.
Baca Juga
Wall Street Waspada Pekan Ini, Pasar Menanti Laporan Kinerja Nvidia
Futures Dow Jones turun sekitar 100 poin atau 0,2%, sementara futures S&P 500 dan Nasdaq-100 bergerak di sekitar level stagnan.
Pada perdagangan Jumat lalu di Wall Street, indeks utama AS ditutup melemah dipicu aksi ambil untung pada saham teknologi dan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS.
Sentimen pasar juga dibebani hasil pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berakhir tanpa terobosan kebijakan besar, sehingga memicu kekhawatiran investor terhadap arah hubungan dagang dan ekonomi global.
Indeks S&P 500 turun 1,24% menjadi 7.408,50, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1,54% ke 26.225,14. Dow Jones Industrial Average kehilangan 537,29 poin atau 1,07% dan berakhir di level 49.526,17.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Terseret Saham Teknologi, Dow Jones Anjlok Lebih 500 Poin
Aksi ambil untung paling besar terjadi di sektor teknologi setelah reli tajam dalam beberapa pekan terakhir. Saham Intel turun lebih dari 6%, sementara Advanced Micro Devices dan Micron Technology masing-masing merosot 5,7% dan 6,6%.
Saham Nvidia juga melemah 4,4%, sedangkan Cerebras Systems — yang sempat melonjak 68% setelah debut di Nasdaq — terkoreksi 10%.

