Cadangan Minyak Dunia Menipis
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Cadangan minyak global terancam turun ke level terendah dalam sejarah modern apabila Selat Hormuz tetap tertutup dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi itu berpotensi memicu lonjakan harga energi dan kontraksi ekonomi global yang serius. Laporan CNBC yang dipublikasikan Sabtu (16/05/2026) pukul 09.25 EDT atau sekitar pukul 20.25 WIB menyebut persediaan minyak dunia kini turun dengan kecepatan tercepat dalam sejarah untuk menutup gangguan pasokan akibat perang Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz.
International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulanannya pekan ini memperingatkan harga minyak dan bahan bakar kemungkinan masih akan naik menjelang puncak permintaan musim panas. “Cadangan penyangga yang menyusut cepat di tengah gangguan pasokan berkelanjutan dapat memicu lonjakan harga di masa depan,” tulis IEA.
CEO Exxon Mobil Darren Woods mengatakan pasar minyak sejauh ini belum sepenuhnya merasakan dampak hilangnya pasokan Timur Tengah karena dunia masih ditopang stok komersial perusahaan energi, cadangan strategis pemerintah, dan kapal tanker yang masih berada dalam perjalanan.
Baca Juga
Namun Woods memperingatkan cadangan komersial pada akhirnya akan turun ke level yang tidak lagi mampu menopang pasokan global. “Ketika itu terjadi dan Selat Hormuz tetap tertutup, harga di pasar akan terus meningkat,” ujar Woods dalam paparan kinerja kuartal pertama Exxon Mobil.
Bank Swiss UBS memperkirakan stok minyak global yang pada akhir Februari masih berada di atas 8 miliar barel telah turun menjadi sekitar 7,8 miliar barel pada akhir April 2026. UBS memperingatkan cadangan tersebut dapat turun mendekati rekor terendah sekitar 7,6 miliar barel pada akhir Mei apabila permintaan tetap tinggi dan Selat Hormuz belum dibuka kembali.
Menurut analis JPMorgan Chase, level tersebut akan mulai memberikan tekanan serius terhadap rantai pasok energi global. Meski angka miliaran barel terlihat besar, JPMorgan menegaskan hanya sekitar 800 juta barel yang benar-benar tersedia tanpa mengganggu sistem distribusi energi dunia. Sisanya diperlukan untuk menjaga pipa, terminal, dan tangki tetap beroperasi normal.
Kepala strategi komoditas global JPMorgan, Natasha Kaneva, menggambarkan situasi itu seperti sistem peredaran darah manusia. “Masalah utamanya adalah sirkulasi. Sistem tidak gagal karena minyak habis, tetapi karena jaringan distribusi tidak lagi memiliki volume kerja yang cukup,” ujarnya.
JPMorgan memperkirakan stok minyak dunia dapat turun ke level kritis sekitar 6,8 miliar barel pada September apabila Selat Hormuz masih tertutup hingga saat itu.
Sementara lembaga konsultan energi Rapidan Energy Group memperingatkan persediaan produk bahan bakar bisa mencapai level kritis bahkan lebih cepat, yakni pada Juli atau Agustus 2026.
Rapidan menilai ekonomi global berisiko “macet total” apabila infrastruktur transportasi penting tidak lagi mampu memperoleh bahan bakar pada harga berapa pun. Namun para analis juga menilai pasar kemungkinan tidak akan membiarkan stok benar-benar jatuh ke titik kritis tersebut. Sebelum itu terjadi, harga minyak diperkirakan akan melonjak tajam untuk menekan permintaan global.
Lonjakan harga energi itu justru dapat memicu perlambatan ekonomi dunia yang berat. “Kontraksi ekonomi yang parah kemungkinan terjadi sebelum kuartal III 2026,” tulis analis Rapidan dalam catatan tertanggal 7 Mei 2026.
Perkembangan tersebut memperlihatkan semakin besarnya dampak perang Iran terhadap ekonomi global. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama perdagangan energi dunia dengan sekitar 20% pasokan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari.
Baca Juga
Reuters sebelumnya melaporkan berbagai negara mulai mengkhawatirkan ketahanan energi dan pasokan bahan bakar apabila konflik Iran terus berlanjut hingga semester kedua 2026.
Sementara Bloomberg menilai tekanan energi global saat ini berpotensi lebih berbahaya dibanding krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina karena gangguan Hormuz langsung menyentuh jantung perdagangan minyak dunia.
Media Inggris BBC News juga menyoroti bahwa penutupan Hormuz tidak hanya mengancam negara Barat, tetapi juga Asia, termasuk China, Jepang, Korea Selatan, dan India yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.
Di tengah ancaman tersebut, dunia kini menunggu apakah jalur energi paling penting di dunia itu dapat segera dibuka kembali atau justru berubah menjadi pusat krisis ekonomi global baru.

