Stok Senjata AS Menipis
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Persediaan senjata Amerika Serikat dilaporkan berada dalam tekanan sangat berat hingga Mei 2026 akibat kombinasi dukungan militer ke Ukraina, bantuan persenjataan untuk Israel, serta keterlibatan langsung Washington dalam perang melawan Iran. Meski AS masih mempertahankan kapasitas militer globalnya, sejumlah inventaris kritis seperti rudal presisi tinggi dan sistem pertahanan udara disebut mulai terkuras dan berpotensi memengaruhi kesiapan menghadapi konflik besar lain, termasuk di kawasan Pasifik.
Isu menipisnya stok senjata AS bahkan memicu perseteruan politik terbuka antara Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth dan Senator Partai Demokrat Mark Kelly Laporan BBC News yang tayang pada Senin (11/05/2026) menyebut kontroversi bermula setelah Kelly tampil dalam program Face The Nation di CBS News pada Minggu (10/05/2026). Dalam wawancara tersebut, Kelly mengungkap kekhawatirannya terhadap cadangan amunisi Amerika pascaperang Iran. Ia mengatakan dirinya “terkejut melihat seberapa dalam persediaan amunisi telah terkuras” setelah menerima pengarahan Pentagon mengenai stok berbagai jenis munisi strategis.
Pernyataan itu memicu kemarahan Hegseth. Dalam unggahan di platform X pada Minggu malam (10/05/2026), Hegseth menuding Kelly “asal bicara di TV” mengenai pengarahan Pentagon yang dianggap sensitif dan meminta Pentagon meninjau apakah senator tersebut telah membocorkan informasi rahasia negara. Namun Kelly membantah keras tuduhan tersebut.
Senator asal Arizona itu menegaskan pembahasan mengenai menipisnya stok persenjataan sudah pernah disampaikan secara terbuka dalam sidang Senat sepekan sebelumnya. “Anda sendiri yang mengatakan butuh waktu bertahun-tahun untuk mengisi kembali stok senjata itu,” kata Kelly melalui unggahan di X sambil membagikan video sidang Senat bulan April 2026.
Perseteruan tersebut memperlihatkan semakin seriusnya kekhawatiran di Washington terkait kesiapan persenjataan AS di tengah perang berkepanjangan. Laporan CNBC yang dipublikasikan Jumat (15/05/2026) menyebut penggunaan besar-besaran rudal jelajah Tomahawk, sistem pertahanan Patriot, dan berbagai rudal pencegat dalam perang Iran telah memberi tekanan serius terhadap stok senjata AS. Salah satu laporan bahkan memperkirakan lebih dari 850 rudal Tomahawk digunakan hanya dalam bulan pertama perang Iran.
Baca Juga
Menurut pembaruan International Energy Agency (IEA) yang dirilis pekan ini, konflik Iran telah memicu gangguan energi dan keamanan terbesar dalam beberapa dekade terakhir, termasuk meningkatnya kebutuhan perlindungan militer terhadap jalur energi global. Istilah “Winchester” yang dalam terminologi militer berarti kehabisan amunisi mulai muncul dalam diskusi para analis pertahanan Amerika. Mereka menilai stok amunisi serangan darat dan sistem pertahanan rudal sebenarnya sudah berada dalam kondisi terbatas bahkan sebelum konflik Iran meningkat tajam.
The New York Times dalam laporan yang tayang Selasa (13/05/2026) menyebut pemerintah AS menghadapi dilema besar dalam membagi pasokan senjata antara Ukraina, Israel, dan kebutuhan operasi sendiri di Timur Tengah. Pentagon bahkan disebut mulai mempertimbangkan pengalihan sebagian perlengkapan yang sebelumnya dialokasikan untuk Ukraina ke kawasan Timur Tengah demi menopang operasi menghadapi Iran. Langkah tersebut memicu kekhawatiran di Eropa karena berpotensi mengurangi dukungan militer Washington terhadap Ukraina dan sekutu NATO di tengah ancaman Rusia yang belum mereda.
Tekanan juga datang dari sisi industri pertahanan. Meski perusahaan pertahanan seperti Lockheed Martin telah meningkatkan kapasitas produksi secara agresif, laju produksi berbagai rudal strategis masih dinilai belum mampu mengejar tingkat penggunaan dalam perang modern.
Beberapa analis menyebut produksi rudal Patriot dan interceptor canggih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali ke level aman apabila konsumsi perang tetap tinggi. Kondisi ini memperlihatkan keterbatasan basis industri pertahanan AS meski negara tersebut memiliki anggaran militer terbesar di dunia.
Reuters dalam laporan pekan ini juga menyebut tingginya penggunaan amunisi presisi di Timur Tengah membuat Pentagon semakin khawatir terhadap keberlanjutan stok senjata untuk menghadapi potensi konflik di Indo-Pasifik, khususnya terkait Taiwan dan China.
Sementara CNN dalam laporan yang tayang Rabu (14/05/2026) menyebut perang Iran telah menguras sistem pertahanan udara dan rudal pencegat AS dalam jumlah signifikan, termasuk untuk melindungi pangkalan militer dan kapal perang Amerika di kawasan Teluk Persia. Laporan Fortune juga menyoroti bahwa perang berkepanjangan telah memaksa Washington menggunakan cadangan strategis persenjataan lebih cepat dibanding kemampuan industri pertahanan menggantikannya.
Namun Gedung Putih dan Pentagon membantah situasi tersebut telah mengganggu kemampuan tempur AS secara keseluruhan. Pemerintahan Presiden Donald Trump menegaskan militer AS tetap mampu mempertahankan wilayah domestik dan menjalankan operasi di seluruh kawasan strategis dunia.
Meski demikian, perdebatan mengenai ketahanan industri pertahanan AS kini menjadi isu besar di Washington. Banyak pengamat menilai perang Iran memperlihatkan bahwa bahkan negara dengan kekuatan militer terbesar dunia pun dapat menghadapi tekanan logistik serius ketika harus mendukung beberapa konflik besar sekaligus dalam waktu bersamaan.

