Bagikan

China Masuk Hormuz, AS Dekati Xi

Poin Penting

Iran memberikan izin khusus kepada kapal-kapal China untuk melintasi Selat Hormuz di bawah protokol pengelolaan Garda Revolusi Iran.
Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk membahas kerja sama dalam menjaga stabilitas jalur energi global.
AS mulai menggunakan pendekatan diplomatik agar China bersedia menekan Iran menggunakan pengaruh ekonominya guna mencegah krisis pasokan minyak.

JAKARTA, Investortrust.id — Iran mengizinkan puluhan kapal, termasuk kapal milik perusahaan China, melintas di Selat Hormuz di bawah “protokol pengelolaan” Tehran, di tengah pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang turut membahas jalur energi paling strategis di dunia tersebut.

Informasi itu disampaikan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan dilaporkan Al Jazeera Live dalam laporan yang dipublikasikan Rabu (14/05/2026). Perkembangan tersebut terjadi saat Trump dan Xi menggelar pembicaraan tingkat tinggi di Beijing mengenai perang Iran, keamanan energi global, perdagangan, dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Reporter Al Jazeera di Tehran, Tohid Asadi, mengutip pejabat terkait IRGC yang menyebut sedikitnya 30 kapal telah diberi lampu hijau untuk melintasi Selat Hormuz sejak malam sebelumnya. Sebagian kapal disebut dimiliki perusahaan-perusahaan China. “Iran mengatakan Selat Hormuz tidak sepenuhnya terbuka dan tidak sepenuhnya tertutup. Selat itu terbuka bagi semua pihak kecuali musuh-musuh mereka,” lapor Al Jazeera.

Langkah Iran itu dinilai menunjukkan strategi baru Tehran dalam mengelola akses pelayaran di Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip Al Jazeera pada Rabu (14/05/2026) pukul 16.30 GMT atau Kamis (15/05/2026) pukul 23.30 WIB, Trump mengatakan Xi Jinping menawarkan bantuan untuk membantu membuka Selat Hormuz di tengah ketegangan antara Washington dan Tehran.

Baca Juga

Xi Buka Pintu China untuk Bos Teknologi AS

“Dia mengatakan, ‘Jika saya bisa membantu, saya ingin membantu,’” kata Trump mengutip pernyataan Xi. Trump juga menyinggung ketergantungan China terhadap minyak Iran sebagai alasan Beijing berkepentingan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

“Siapa pun yang membeli minyak sebanyak itu tentu memiliki hubungan tertentu dengan mereka. Xi ingin Selat Hormuz tetap terbuka,” ujar Trump.

Blokade di Selat Hormuz oleh Iran (garis tipis) dan blokade yang dilakukan oleh militer AS di arah masuk Selat Hormuz dari Samudera Hindia (garis tebal). Foto: @IraninHyderabad

Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan tidak ada solusi militer terhadap persoalan Iran dan negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan Amerika Serikat maupun Israel. “Kami sudah terbiasa dengan ancaman-ancaman ini. Mereka tahu ancaman dan perang tidak akan menghasilkan apa pun,” kata Araghchi kepada kantor berita IRNA seperti dikutip Al Jazeera.

Araghchi juga menuduh AS dan Israel melakukan ekspansionisme dan perang yang justru menciptakan ketidakstabilan berkepanjangan di Timur Tengah. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington tidak membutuhkan bantuan China untuk menghadapi Iran, meskipun ia mengakui Trump dan Xi menemukan “common ground” atau titik temu terkait pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

Reuters dalam laporan terpisah Kamis (15/05/2026) menyebutkan Washington mulai meningkatkan pendekatan diplomatik terhadap Beijing guna mendorong China menggunakan pengaruh ekonominya terhadap Iran. China selama ini menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran sekaligus mitra strategis utama Tehran di tengah sanksi Barat.

Reuters juga melaporkan perang Iran telah meningkatkan kekhawatiran global terhadap gangguan pasokan energi dan lonjakan harga minyak dunia, terutama jika Selat Hormuz benar-benar ditutup penuh oleh Iran.

Sementara itu, Financial Times yang dikutip Al Jazeera melaporkan Arab Saudi sedang mendorong pembentukan pakta “non-aggression” atau non-agresi di Timur Tengah setelah perang Iran berakhir. Pakta tersebut disebut akan meniru model Helsinki Accords 1975 antara blok Barat dan Uni Soviet pada era Perang Dingin.

Namun sejumlah diplomat Timur Tengah menilai gagasan itu sulit diwujudkan tanpa keterlibatan Israel, yang saat ini masih dipandang banyak pihak sebagai sumber utama konflik kawasan setelah Iran.

Di Lebanon selatan, situasi keamanan juga terus memburuk. Al Jazeera melaporkan kelompok Hezbollah melancarkan serangkaian serangan terhadap posisi militer Israel, termasuk tank Merkava dan fasilitas militer di wilayah perbatasan.

Baca Juga

Trump Puji Xi, China Ancam AS soal Taiwan

UNICEF menyebut sedikitnya 200 anak tewas di Lebanon sejak konflik kembali pecah antara Israel dan Hezbollah pada 2 Maret 2026.

Sementara itu, Reuters dan Bloomberg melaporkan pertemuan Trump-Xi di Beijing menunjukkan bahwa rivalitas AS-China kini semakin terkait dengan dinamika perang Iran dan keamanan energi global. Washington sebelumnya berharap tekanan terhadap Iran dapat sekaligus memperlemah posisi geopolitik China, namun kini AS justru membutuhkan bantuan Beijing untuk menjaga stabilitas kawasan dan arus energi dunia.

Analis Center for Middle East Strategic Studies, Abas Aslani, kepada Al Jazeera mengatakan saat ini terjadi dua mekanisme paralel: AS menekan China agar menjauh dari Iran, sementara di sisi lain Washington juga meminta bantuan Beijing untuk memengaruhi Tehran.

“Mereka sekarang meminta bantuan China untuk menekan Iran,” kata Aslani. Menurut dia, Tehran kini semakin memperkuat hubungan dengan negara-negara BRICS seperti China, Rusia, dan India guna mengimbangi tekanan Barat dan menjaga kelangsungan ekonomi di tengah perang serta sanksi internasional.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024