Bagikan

Iran Merespons Proposal AS via Pakistan

Poin Penting

Iran resmi menyampaikan respons terhadap proposal perdamaian Amerika Serikat melalui mediator Pakistan.
IRGC menegaskan akan membalas setiap serangan terhadap kapal Iran dengan menyerang pangkalan militer AS dan kapal musuh di Teluk Persia serta Selat Hormuz.
Meski jalur diplomasi mulai berjalan, Israel tetap melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya 24 orang.

JAKARTA, Investortrust.id – Iran akhirnya mengirimkan respons resmi terhadap proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Timur Tengah melalui mediator Pakistan. Langkah tersebut memunculkan harapan baru bagi jalur diplomasi, meskipun situasi kawasan masih sangat tegang akibat ancaman Iran di Selat Hormuz dan serangan Israel yang terus menggempur Lebanon. Laporan tersebut disampaikan Al Jazeera Live dalam live update yang dipublikasikan Minggu (10/05/2026).

Media Iran melaporkan Teheran telah menyerahkan responsnya kepada Pakistan sebagai mediator perundingan dengan Washington. Namun sejumlah analis menyebut jawaban Iran bukan sekadar “ya” atau “tidak”, melainkan berisi penjelasan serta klarifikasi terhadap proposal Amerika Serikat.

Peneliti senior Center for Middle East Strategic Studies, Abbas Aslani, mengatakan Iran masih membuka ruang kompromi terutama terkait transparansi program nuklir dan inspeksi oleh International Atomic Energy Agency (IAEA). Namun Teheran disebut tetap keberatan terhadap tuntutan Amerika Serikat agar Iran menghentikan pengayaan uranium dalam jangka panjang atau mengekspor uranium yang telah diperkaya ke luar negeri. “Asalkan ada kesepakatan damai tahap awal, itu bisa menjadi langkah membangun kepercayaan,” kata Aslani kepada Al Jazeera.

Di sisi lain, Perdana Menteri Qatar memperingatkan Iran agar tidak menggunakan Selat Hormuz sebagai “kartu tekanan” terhadap Barat. Menurut Qatar, penggunaan jalur energi strategis tersebut sebagai alat tekanan politik hanya akan memperdalam krisis kawasan dan meningkatkan risiko konflik yang lebih besar.

Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani saat menjadi pembicara dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Selasa (20/1/2026).
Source: WEF

Baca Juga

Kapal Terbakar di Lepas Pantai Qatar, Ketegangan Iran-Israel Kembali Memanas

Peringatan itu muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali menegaskan bahwa setiap serangan terhadap kapal tanker minyak atau kapal dagang Iran akan dibalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS dan “kapal musuh” di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan tetap optimistis Iran akan merespons positif proposal damai terbaru Washington dan melanjutkan negosiasi untuk mengakhiri perang. Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya mengajukan kerangka perundingan yang mencakup memorandum 14 poin dan rencana negosiasi selama satu bulan.

Reuters sebelumnya melaporkan Pakistan memainkan peran sentral dalam komunikasi antara Washington dan Teheran setelah meningkatnya ketegangan militer di kawasan. Islamabad disebut menjadi lokasi pembicaraan penting antara pejabat AS dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Logo Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC). Foto: Antara/IRNA-OANA.

Baca Juga

President Club dan PSAPI Luncurkan Buku Chappy Hakim, Belajar dari Perang Iran-AS

Namun di tengah upaya diplomasi tersebut, eskalasi militer masih terus berlangsung. Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon selatan pada Sabtu (09/05/2026) dan Minggu (10/05/2026). Menurut laporan Al Jazeera, sedikitnya 24 orang tewas dalam serangan tersebut.

Serangan Israel juga dilaporkan menyasar sejumlah wilayah di luar basis tradisional Hizbullah, termasuk jalur utama dekat Beirut. Israel menyatakan operasi tersebut bertujuan menghancurkan infrastruktur militer Hizbullah yang disebut terus melancarkan ancaman terhadap keamanan Israel.

Sebuah gedung mengepulkan asap tebal di Selatan Lebanon setelah dihantam rudal Israel. Foto: Video amatir X @binjbeil

BBC News dan The New York Times melaporkan ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama dunia karena sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati jalur tersebut. Ancaman terhadap pelayaran internasional dinilai berpotensi memicu lonjakan harga energi dan mengguncang stabilitas ekonomi global.

Adapun CNBC sebelumnya melaporkan pasar keuangan global masih sangat sensitif terhadap perkembangan perang Iran-Israel dan negosiasi AS-Iran, terutama terkait potensi gangguan pasokan minyak dunia dari Timur Tengah.

Meski diplomasi mulai bergerak melalui jalur Pakistan dan Qatar, situasi Timur Tengah masih sangat rapuh. Respons Iran terhadap proposal AS belum menjamin tercapainya perdamaian, sementara ancaman di Selat Hormuz dan serangan Israel di Lebanon menunjukkan risiko eskalasi besar tetap membayangi kawasan tersebut.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024