Wall Street Tembus Rekor di Tengah Optimisme Laba Emiten dan Penurunan Harga Minyak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada Selasa waktu AS atau Rabu (6/5/2026) WIB, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencetak rekor tertinggi baru seiring turunnya harga minyak dan kuatnya kinerja laba perusahaan.
Indeks S&P 500 naik 0,81% ke level 7.259,22, mencatatkan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Nasdaq Composite melonjak 1,03% ke 25.326,13, sementara Dow Jones Industrial Average naik 356,35 poin atau 0,73% ke 49.298,25.
Penurunan harga minyak menjadi katalis utama penguatan saham. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,9% ke US$102,27 per barel, sementara Brent melemah 3,99% ke US$109,87.
Meski gencatan senjata antara AS dan Iran masih rapuh, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa situasi relatif terkendali, dengan kapal dagang AS berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Baca Juga
Iran Serang Kapal dan Fasilitas UEA, AS Mulai Jalankan “Project Freedom”
Reli pasar juga didorong oleh kinerja laba perusahaan yang melampaui ekspektasi. Saham DuPont melonjak 8% setelah melaporkan hasil kuartal pertama yang kuat, sementara Anheuser-Busch InBev juga naik lebih dari 8%.
Namun, Palantir Technologies menjadi pengecualian dengan saham turun hampir 7%, meskipun mencatat pertumbuhan pendapatan tertinggi sejak IPO dan menaikkan proyeksi tahunan.
Data FactSet menunjukkan sekitar 85% perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja berhasil melampaui ekspektasi analis.
Zachary Hill, kepala manajemen portofolio di Horizon Investments, menyebut kombinasi kinerja laba yang solid dan keyakinan pasar terhadap kemungkinan resolusi konflik Iran menjadi faktor utama yang mendorong indeks ke level tertinggi.
“Kami telah melihat pendapatan yang luar biasa bukan hanya dari perusahaan teknologi berkapitalisasi besar, tetapi juga dari indeks S&P 500 yang berbasis luas, atau bahkan indeks berkapitalisasi kecil di AS,” beber Zachary Hill, seperti dikutip CNBC.
Menurut dia, pasar tampaknya sudah mulai mengabaikan risiko di Selat Hormuz. “Kecuali terjadi lonjakan harga minyak yang signifikan atau eskalasi konflik di lapangan,” ujarnya.
Baca Juga
Ketegangan Timur Tengah Hantam Pasar Saham AS, Dow Anjlok Lebih 550 Poin

