Iran Serang Kapal dan Fasilitas UEA, AS Mulai Jalankan “Project Freedom”
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah serangkaian serangan terjadi di Selat Hormuz, mempertegas rapuhnya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Washington agar tidak “terseret kembali ke dalam kubangan konflik,” menyusul eskalasi militer terbaru di jalur pelayaran energi paling vital dunia tersebut.
Laporan langsung yang disunting oleh Ben Hatton dan Owen Amos, dipublikasikan BBC, Selasa (05/05/2026), menyebutkan bahwa ketegangan memuncak setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah kapal militer dan komersial pada Senin, 4 Mei 2026 waktu setempat. Serangan ini terjadi di tengah operasi militer Amerika Serikat bertajuk “Project Freedom,” yang diumumkan Presiden Donald Trump untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak keluar dari Selat Hormuz.
Menurut otoritas AS, sekitar 2.000 kapal sempat tertahan di perairan tersebut akibat blokade de facto. Dua kapal berbendera AS dilaporkan berhasil keluar sehari kemudian, sementara perusahaan pelayaran global Maersk menyatakan salah satu kapalnya juga berhasil melintas dengan pengawalan militer AS.
Namun, Iran menegaskan bahwa pihaknya tetap mengendalikan Selat Hormuz —jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia— dan membantah klaim Washington. AS sebelumnya menyatakan telah menembak jatuh tujuh kapal cepat Iran, klaim yang langsung dibantah Teheran.
Eskalasi juga berdampak langsung pada negara kawasan. Korea Selatan dan Uni Emirat Arab melaporkan kerusakan pada kapal komersial mereka. Bahkan, sebuah serangan yang diduga dilakukan Iran memicu kebakaran di depot minyak di wilayah UEA pada hari yang sama.
Baca Juga
AS Bantah Kapal Perangnya Diserang, Iran Hantam UEA, Selat Hormuz Memanas
Pejabat Liga Arab, Hossam Zaki, yang juga pernah bertugas di Kementerian Luar Negeri Mesir, menyebut insiden tersebut sebagai perkembangan yang “sangat disayangkan” dan memperingatkan bahwa tindakan Iran dapat membahayakan gencatan senjata yang sudah rapuh. Dalam wawancara dengan Radio 4 BBC pada 5 Mei 2026, ia menegaskan bahwa negara-negara Arab menginginkan jaminan keamanan bagi seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz, meski tidak terlibat langsung dalam perundingan AS-Iran yang dimediasi Pakistan.
Informasi senada juga dilaporkan oleh Reuters dan Al Jazeera dalam laporan terpisah pada 4–5 Mei 2026, yang menyebutkan bahwa konflik di Selat Hormuz telah memasuki fase paling berbahaya sejak awal perang pada akhir Februari lalu. Kedua media tersebut menyoroti meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global serta ancaman terhadap stabilitas ekonomi dunia, seiring belum adanya titik temu dalam negosiasi antara Washington dan Teheran.
Dengan situasi yang terus memanas, Selat Hormuz kembali menjadi episentrum krisis global—di mana setiap eskalasi militer tidak hanya berdampak pada geopolitik kawasan, tetapi juga langsung mengguncang pasar energi dan rantai pasok dunia.

