Tekanan di Hormuz Meningkat, Harga Minyak Melonjak di Tengah Upaya Damai di Islamabad
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Upaya diplomasi untuk meredakan konflik Iran–AS kembali bergerak ke jalur tidak langsung, di tengah ketegangan militer yang masih tinggi di Selat Hormuz dan front Lebanon. Tiga perkembangan utama —negosiasi di Islamabad, blokade maritim AS, dan perpanjangan gencatan senjata Israel–Lebanon— menunjukkan perang memasuki fase “abu-abu” yang kompleks dan berlarut.
Abbas Araghchi tiba di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (24/04/2026) sebagai bagian dari tur diplomatik regional, disambut pejabat tinggi Pakistan termasuk Menteri Luar Negeri Ishaq Dar dan Panglima Angkatan Darat Asim Munir. Kedatangan ini memicu harapan baru terhadap kemungkinan pembicaraan Iran–AS, meski peluangnya dinilai sangat tipis.
Menurut laporan Al Jazeera yang dipublikasikan Sabtu (25/04/2026), Gedung Putih mengonfirmasi bahwa utusan khusus AS, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan berangkat ke Islamabad pada hari yang sama. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan “tidak ada pertemuan langsung yang direncanakan” antara Teheran dan Washington. Posisi Iran tetap mengandalkan Pakistan sebagai mediator untuk menyampaikan pesan.
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$ 105 Akibat Blokade Selat Hormuz dan Ketegangan di Timur Tengah
Koresponden Al Jazeera di Islamabad menyebut mediator Pakistan “berhati-hati namun tetap optimistis” terhadap peluang dialog, meskipun formatnya kemungkinan besar tetap tidak langsung. Dengan kata lain, diplomasi masih berjalan, tetapi belum mencapai tahap negosiasi substantif.
Blokade Hormuz Makin Keras
Selat Hormuz tetap menjadi episentrum konflik ekonomi dan militer. Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap jalur pelayaran Iran, sementara Teheran berupaya menunjukkan ketahanan dengan tetap mengoperasikan sebagian aktivitas ekspor.
Laporan NBC News yang diperbarui pada Jumat (24/04/2026) pukul 23.04 EDT menyebutkan bahwa sebuah supertanker yang dikenai sanksi AS berhasil melintasi Hormuz, menurut klaim kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim. Ini menunjukkan bahwa blokade belum sepenuhnya efektif, meski lalu lintas kapal disebut “sangat lambat”.
Di sisi lain, Washington meningkatkan tekanan melalui sanksi baru terhadap jaringan ekspor minyak Iran, termasuk kilang independen besar di China dan hampir 40 kapal serta entitas terkait. Departemen Luar Negeri AS menyebut langkah ini sebagai bagian dari “kampanye tekanan maksimum” untuk memutus sumber pendanaan Iran.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$100 per barel dan sempat menembus US$105 per barel dalam perdagangan awal, mencerminkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan jangka panjang akibat ketidakpastian di Hormuz.
Gencatan Senjata Rapuh
Di front lain, konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon memasuki fase gencatan senjata yang diperpanjang, namun tetap rapuh. Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa militernya memiliki “kebebasan penuh untuk bertindak” di Lebanon, menandakan bahwa operasi militer masih berlangsung di lapangan.
Menurut laporan Al Jazeera (25/04/2026), pasukan Israel mengklaim telah menewaskan enam pejuang Hizbullah di Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat total korban tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret mencapai 2.491 orang, dengan 7.719 lainnya luka-luka.
Baca Juga
Trump Ancam Tembak Kapal Iran dan Klaim Kendalikan Selat Hormuz
Data yang dikutip NBC News juga menunjukkan eskalasi korban yang luas di kawasan: hampir 3.400 orang tewas di Iran sejak serangan dimulai 28 Februari, sementara korban di Lebanon mendekati 2.500 jiwa. Angka ini menegaskan bahwa meskipun ada gencatan senjata formal, kekerasan masih terus berlangsung.
Ketiga perkembangan ini memperlihatkan pola yang sama: tidak ada eskalasi total, tetapi juga belum ada de-eskalasi nyata. Negosiasi berjalan tanpa pertemuan langsung, blokade tetap diberlakukan meski tidak sepenuhnya efektif, dan gencatan senjata diperpanjang namun dilanggar di lapangan.
Dalam konteks ini, konflik Iran–AS dan sekutunya tampaknya memasuki fase berkepanjangan, fase di mana tekanan militer, ekonomi, dan diplomatik berjalan paralel tanpa titik temu yang jelas. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga merembet ke pasar energi global dan stabilitas ekonomi dunia.

