Bursa Asia Dibuka Melemah, Investor Hati-hati Sikapi Perkembangan Konflik Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar saham Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Jumat (17/4/2026), seiring sikap hati-hati investor terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah, meskipun terdapat tanda-tanda deeskalasi melalui gencatan senjata.
Baca Juga
Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari yang mulai berlaku pukul 17.00 waktu AS. Kesepakatan ini dipandang sebagai prasyarat penting untuk membuka kembali jalur negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Trump juga menyatakan bahwa putaran baru pembicaraan langsung dengan Iran kemungkinan digelar akhir pekan depan, serta menyebut konflik “hampir berakhir”. Namun, gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran dijadwalkan berakhir pada 21 April, membuat ketidakpastian tetap tinggi.
Di pasar energi, harga minyak terkoreksi. Minyak mentah West Texas Intermediate turun 1,43% ke US$93,34 per barel, sementara Brent crude melemah 1,14% ke sekitar US$98,28 per barel.
Dari Jepang, pemerintah melalui Japan Bank for International Cooperation akan membuka fasilitas investasi hingga 600 miliar yen (sekitar US$3,8 miliar) guna membantu negara-negara Asia mengamankan pasokan energi di tengah volatilitas pasar minyak. Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyebut gejolak harga energi juga mulai memengaruhi pasar valuta asing.
Sementara itu, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menegaskan pentingnya mempertimbangkan suku bunga riil Jepang yang masih rendah dalam penentuan kebijakan moneter.
Dikutip dari CNBC, indeks Nikkei 225 turun 0,7% setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi, sementara indeks Topix melemah 0,62%. Di Korea Selatan, Kospi turun 0,43% dan Kosdaq turun 0,35%. Indeks S&P/ASX 200 juga terkoreksi 0,28%.
Kontrak berjangka indeks Hang Seng Index berada di level 26.229, lebih rendah dari penutupan sebelumnya.
Baca Juga
Reli di Wall Street Berlanjut, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Pergerakan ini kontras dengan Wall Street, di mana indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite kembali mencetak rekor tertinggi pada Kamis, didorong optimisme penyelesaian konflik Iran.

