BCA Tatap 2026 dengan Optimisme di Tengah Dinamika Global, Perkokoh Likuiditas dan Transformasi Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA menyatakan kesiapannya dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi di tahun 2026. Meski dibayangi ketidakpastian global seperti tarif resiprokal hingga kebijakan suku bunga The Fed, perseroan tetap memandang prospek bisnis ke depan dengan nada positif.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menegaskan bahwa perusahaan senantiasa mencermati setiap dinamika yang terjadi, baik di level domestik maupun internasional. Strategi ini diambil guna memastikan langkah bisnis perseroan tetap relevan dan tangguh dalam mendukung perekonomian nasional.
“BCA senantiasa mencermati perkembangan dan dinamika di dalam dan luar negeri untuk mendukung pelaksanaan bisnis perseroan. Kami optimistis memandang 2026,” ujar Hendra Lembong kepada Investortrust.id, dikutip Kamis (12/3/2026).
Menurut Hendra, kinerja perbankan tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi secara umum. Ia meyakini bahwa pertumbuhan bisnis BCA akan bergerak selaras dengan indikator makroekonomi yang ada. “Pada prinsipnya, perkembangan bisnis perbankan akan sejalan dengan perkembangan ekonomi secara makro,” tambahnya.
Guna menjaga stabilitas, BCA berkomitmen penuh untuk mempertahankan fundamental bisnis yang selama ini telah terbangun dengan kuat. Langkah pruden atau kehati-hatian menjadi kunci utama bagi BCA dalam mengarungi dinamika ekonomi saat ini. Perseroan tidak ingin gegabah dalam mengambil kebijakan, terutama yang berkaitan dengan penyaluran dana ke masyarakat.
“Kami berkomitmen menjaga fundamental bisnis, serta tetap mengambil langkah pruden dalam menghadapi dinamika makroekonomi saat ini dan ke depannya,” tegas Hendra.
Baca Juga
Fokus utama perseroan tetap pada penyaluran kredit yang berkualitas di berbagai segmen. Didukung oleh posisi likuiditas yang sangat memadai, BCA berencana untuk terus mendorong pertumbuhan kredit. Hal ini dilakukan dengan tetap mempertimbangkan profil risiko dari setiap sektor yang dibiayai.
“Ditopang likuiditas yang memadai, BCA akan terus mendorong penyaluran kredit di berbagai segmen dan sektor dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian mengikuti ketentuan yang berlaku serta sesuai dinamika makroekonomi domestik maupun global,” jelasnya.
Di sisi lain, BCA melihat pergerakan NIM ke depan akan sejalan dengan permintaan kredit, pergerakan suku bunga, dan kondisi likuiditas perbankan. Cost of fund BCA relatif terjaga sehubungan dengan keunggulan perbankan transaksi yang dimiliki BCA. "BCA juga senantiasa mengelola biaya operasional secara efektif dan efisien dalam mendukung pertumbuhan bisnis," tutur Hendra.
Pengelolaan operasional yang efisien salah satunya dilakukan dengan optimalisasi transaksi melalui layanan perbankan digital. Cost to Income Ratio (CIR) BCA terjaga sebesar 30,7% per akhir 2025. "BCA akan terus mengoptimalkan pendapatan non bunga. Cara ini ditempuh dengan ekspansi produk dan layanan digital untuk mempertahankan posisi BCA di pasar," tegas Hendra.
Terkait mitigasi risiko pasar, Hendra menjelaskan bahwa BCA telah menyiapkan protokol yang komprehensif. Salah satu instrumen yang rutin digunakan adalah pengujian ketahanan atau stress test.
“BCA juga telah mempersiapkan berbagai langkah untuk mengantisipasi risiko, termasuk untuk risiko pasar. BCA juga konsisten melakukan stress test dalam mengukur risiko,” kata Hendra.
Menyokong Pertumbuhan Ekonomi
Menanggapi isu domestik seperti gelombang PHK dan pelemahan daya beli, Hendra menyatakan bahwa BCA akan tetap mendukung pertumbuhan sektor ekonomi. Penyaluran kredit akan dilakukan secara selektif namun tetap produktif. “Pada prinsipnya, BCA berkomitmen mendukung pertumbuhan berbagai sektor ekonomi dengan menyalurkan kredit secara pruden dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hendra menyebut, perseroan tetap berpegang pada proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang positif. "BCA optimistis perekonomian Indonesia pada 2026 akan tumbuh positif, sebagaimana proyeksi pemerintah, berbagai lembaga dan ekonom. Hal ini diharapkan dapat sejalan dengan prospek penyaluran kredit pada 2026,” ungkap Hendra.
Dari sisi kualitas aset, BCA menunjukkan performa yang solid hingga akhir tahun 2025. Rasio pencadangan untuk kredit bermasalah tetap berada pada level yang sangat aman.
“Terkait Non-Performing Loan (NPL) dan Loan at Risk (LaR), BCA memiliki rasio pencadangan NPL dan LAR yang solid hingga akhir 2025. Rasio masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%,” ucapnya.
Baca Juga
Simak, Ini Jadwal Operasional BCA pada Libur dan Cuti Bersama Idulfitri 2026
Mengenai ketatnya persaingan likuiditas dengan instrumen investasi lain seperti SBN, Hendra menekankan pentingnya permodalan yang kuat. BCA terus berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keamanan dana nasabah.
“BCA senantiasa mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang solid untuk memberikan landasan bagi pertumbuhan kredit berkesinambungan dan berkualitas dalam jangka panjang,” paparnya.
Menurut Hendra, manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama dalam pengelolaan likuiditas. “Kami juga berkomitmen mengelola likuiditas secara pruden serta mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam penerapan manajemen risiko,” lanjut Hendra.
Posisi Loan to Deposit Ratio (LDR) perseroan pun berada pada angka yang sehat. Dimana, posisi likuiditas BCA yang solid tercermin dari LDR sebesar 76,8% per Desember 2025.
Ia juga menyoroti kekuatan merek atau brand equity BCA sebagai faktor pembeda di pasar. Menurutnya, brand equity BCA memperkokoh ketahanan likuiditas BCA yang solid. "Franchise transaksi BCA yang andal, didukung kepercayaan nasabah terhadap BCA, menghasilkan dana CASA berbiaya rendah,” kata Hendra.
Data per Desember 2025 menunjukkan pertumbuhan dana murah yang sangat signifikan. Hal ini mencerminkan tingginya ketergantungan dan kepercayaan nasabah pada ekosistem transaksi BCA.
Per Desember 2025, CASA BCA tumbuh solid 13,1% YoY menjadi Rp 1.045 triliun. Pertumbuhan CASA tidak lepas dari total frekuensi transaksi BCA yang naik 17% YoY mencapai 42 miliar pada periode yang sama.
BCA terus berinvestasi pada platform digital untuk memastikan relevansi layanan bagi nasabah. Keandalan sistem menjadi kunci dalam mempertahankan loyalitas pemegang rekening.
“BCA senantiasa memastikan hadirnya platform perbankan transaksi yang aman dan andal, sekaligus dapat menjadi solusi yang selalu relevan bagi kebutuhan nasabah, sehingga dapat mempertahankan pertumbuhan transaksi dan CASA secara berkelanjutan,” tambah Hendra.
Penentuan Suku Bunga
Melihat tren penurunan suku bunga ke depan, Hendra mengapresiasi kebijakan Bank Indonesia (BI). Ia meyakini langkah regulator akan memberikan dampak positif bagi stabilitas nilai tukar.
“Kami mengapresiasi setiap langkah Bank Indonesia (BI) dalam mengelola suku bunga acuan. BCA melihat bahwa kebijakan BI akan selaras dengan fundamental perekonomian untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Dalam menetapkan bunga kredit dan simpanan, BCA selalu melihat berbagai parameter makro. Kondisi pasar dan daya beli masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.
“Dalam menentukan suku bunga, BCA senantiasa mencermati perkembangan suku bunga acuan, parameter makroekonomi lain, potensi risiko, serta kondisi likuiditas sektor perbankan dan pasar yang dipengaruhi faktor permintaan dan penawaran,” jelas Hendra.
Di sisi lain, perseroan terus berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekspansi dan kecukupan dana. Hal ini bertujuan agar pertumbuhan kredit tetap berada di jalur yang sehat.
“Seiring dengan itu, BCA senantiasa mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat,” katanya.
Baca Juga
Analis: Laba BBCA Diprediksi Lanjut Tumbuh di 2026, Potensi Dividen dan Harga Saham Menguat
Secara bersamaan, BCA senantiasa melakukan review berkala dan memperhatikan tingkat suku bunga pada level yang dapat diterima pasar dan memperhatikan daya beli masyarakat. Dari sisi pendapatan, BCA menargetkan optimalisasi dari seluruh lini bisnis. Pendapatan bunga dan non-bunga diharapkan dapat tumbuh beriringan.
“Pada prinsipnya, BCA senantiasa mengoptimalkan pendapatan dari segala lini bisnis, baik dari pendapatan bunga maupun pendapatan selain bunga,” jelasnya.
Hendra mengatakan, pendapatan bunga bersih akan sejalan dengan volume permintaan kredit, kondisi perekonomian, hingga pergerakan suku bunga. Sementara itu, pendapatan selain bunga ditopang oleh peningkatan total frekuensi transaksi yang diproses BCA.
Fokus sektor pembiayaan di tahun 2026 akan diarahkan pada pilar-pilar ekonomi nasional. Selain itu, pembiayaan hijau juga menjadi prioritas besar bagi BCA.
“Untuk tahun 2026, BCA optimistis menjaga penyaluran kredit ke berbagai sektor, terutama yang menjadi pilar ekonomi nasional. Pembiayaan yang kami salurkan ke berbagai sektor termasuk ke 9 sektor Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL), untuk mendukung kredit berkelanjutan,” paparnya.
Sektor konsumer juga tidak luput dari perhatian melalui berbagai ajang promo besar. BCA ingin memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga melalui penawaran yang menarik.
“Kami juga akan terus memberikan penawaran terbaik bagi nasabah untuk mendukung daya beli masyarakat dan mendorong kredit konsumer. Salah satunya melalui berbagai rangkaian acara seperti BCA Expoversary pada Februari, dan BCA Expo pada Agustus,” kata Hendra.
Pemberdayaan UMKM juga diperkuat melalui ekosistem digital. BCA ingin membantu pelaku usaha kecil agar mampu meningkatkan skala bisnisnya. “Selain itu, kami terus memperkuat dukungan bagi UMKM agar dapat naik kelas melalui penyaluran kredit yang pruden serta ekosistem digital terintegrasi milik BCA,” jelasnya.
Komposisi kredit pun tetap dijaga agar seimbang antara produktif dan konsumtif. “BCA senantiasa menjaga keseimbangan yang sehat antara kredit segmen produktif dan konsumtif guna mendukung stabilitas kinerja serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan,” ungkap Hendra.
Segmen korporasi masih menjadi motor utama pertumbuhan kredit perseroan. Hingga akhir tahun lalu, angka penyaluran ke korporasi menunjukkan kenaikan yang impresif. Kredit korporasi tumbuh 11,5% YoY menjadi Rp 478,9 triliun per Desember 2025, dan merupakan kontributor utama pertumbuhan total kredit BCA.
Di sisi lain, komitmen pada sektor hijau terus diperluas. Hingga akhir Desember 2025, total kredit BCA ke sektor berkelanjutan tumbuh 11,7% menjadi Rp 255 triliun, setara 25,8% dari total portofolio kredit BCA. Segmen UKM juga mendapatkan stimulus melalui berbagai program khusus.
“Pada saat yang sama, pembiayaan segmen UKM tumbuh 5,7% menjadi Rp 130,9 triliun. Untuk mendorong kredit sektor UMKM, BCA memiliki berbagai program dan penawaran menarik bagi pelaku usaha kecil dan menengah,” tuturnya.
Hendra juga menyoroti kesuksesan program tematik seperti Kredit Multiguna Usaha Kartini. Program ini ditujukan khusus untuk memberdayakan perempuan pengusaha di Indonesia. “Salah satunya, pada perayaan Hari Kartini tahun lalu BCA menghadirkan program Kredit Multiguna Usaha Kartini dengan bunga spesial mulai 3,21% eff. p.a. untuk perempuan pengusaha atau usaha dengan mayoritas karyawan perempuan,” jelasnya.
Untuk sektor properti dan konstruksi, BCA meluncurkan inovasi melalui produk KMU MerDeKa. Produk ini terbukti mendapatkan respon positif dari para pelaku industri. KMU MerDeKa diluncurkan pada Agustus 2025, dan hingga akhir 2025 pembiayaan yang disalurkan melalui program ini mencapai Rp 98,48 miliar.
“BCA juga memiliki produk Kredit Multiguna Usaha atau KMU MerDeKa (Material, Developer, dan Kontraktor) khusus bagi calon debitur/debitur di sektor properti, konstruksi, serta bahan bangunan,” kata Hendra.
Mengenai transformasi digital, Hendra menegaskan bahwa hal tersebut merupakan kunci peningkatan kinerja. Saat ini, hampir seluruh transaksi di BCA dilakukan melalui kanal digital. "Pertumbuhan CASA BCA ditopang oleh frekuensi transaksi BCA yang naik 17% YoY mencapai 42 miliar per akhir 2025. Kenaikan tersebut ditopang transaksi mobile dan internet banking yang tumbuh 19% YoY. Saat ini, hampir seluruh transaksi yang diproses BCA merupakan digital,” paparnya.
Keberhasilan digitalisasi ini juga berdampak pada akuisisi nasabah baru yang sangat masif. BCA kini melayani puluhan juta rekening di seluruh Indonesia. “Inovasi layanan dan produk serta ekspansi ekosistem transaksi perbankan secara konsisten juga berkontribusi bagi pertumbuhan jumlah nasabah yang mencapai 43 juta rekening nasabah per akhir Desember 2025,” ungkap Hendra.
Aplikasi mobile banking BCA terus dikembangkan untuk mengikuti tren gaya hidup digital. Hal ini menjadikan BCA sebagai bank pilihan utama bagi generasi muda.
Hendra menambahkan, aplikasi myBCA dan BCA Mobile menjadi lini terdepan solusi mobile banking BCA. Kedua aplikasi ini hadir untuk memenuhi beragamnya kebutuhan transaksi dan jenis nasabah, serta akan terus dikembangkan sesuai gaya hidup dan tren digital,” jelasnya.
“Dengan berbagai layanan dan inovasi digital, tidak mengherankan jika BCA menjadi bank pilihan utama Gen Z. Hal ini didasarkan pada survei CGS International yang mengungkapkan sebanyak 69% responden Gen Z menempatkan BCA sebagai pilihan mereka,” tutup Hendra Lembong.

