BRI 130 Tahun: Menyalakan Mesin-Mesin Pendapatan Baru (1)
INVESTORTRUST.ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) merayakan 130 tahun usia pada 16 Desember ini. Di tengah tekanan yang mendera sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai basis utama bisnis, BRI menyiapkan “seribu amunisi”, menempuh transformasi lanjutan, dan menyalakan mesin-mesin sumber pendapatan baru.
BRI tidak sendirian berjuang membangkitkan UMKM. Kita menyaksikan, pemerintah dan korporasi sejatinya sudah all out memajukan UMKM, dengan beragam program, kebijakan, insentif, dan inisiatif yang tak terhitung. Semuanya bergandeng tangan untuk membangkitkan, mendorong pertumbuhan, dan menaikkan kelas UMKM. Penguatan UMKM selama ini tidak hanya ditangani oleh satu kementerian/lembaga. Apalagi korporasi, baik BUMN maupun swasta, sudah berpuluh dekade menggelar program binaan dan kemitraan dengan UMKM. Memperkuat dan membangkitkan bisnis UMKM menjadi keniscayaan untuk mengembalikan kejayaan BRI.
Demikian penting dan strategisnya UMKM, sehingga Presiden Prabowo Subianto pun dalam pidatonya di forum APEC Economic Leaders’ Meeting (AELM) di Korea, akhir Oktober lalu, menegaskan upaya habis-habisan Indonesia untuk menggerakkan sektor UMKM. Indonesia telah menempuh berbagai langkah nyata melalui program nasional pemberdayaan UMKM dan koperasi. Pemerintah dan korporasi juga meningkatkan akses digital dan keuangan yang membantu UMKM terintegrasi ke dalam rantai nilai global.
Komitmen pemerintah dan swasta terwujud dalam sejumlah kebijakan dan program untuk mengakselerasi kinerja UMKM, baik yang sudah berjalan maupun yang akan diimplementasikan ke depan. Berikut ini sekadar beberapa contoh.
Pertama, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyebut bahwa mulai 2026, bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) akan ditetapkan flat selama beberapa kali pengajuan. Sebelumnya, bunga KUR ke UMKM dikenakan dengan tingkatan yang berbeda. Pada tahun pertama, bunga KUR dipatok 6% per tahun, setelah itu pada tahun kedua naik menjadi 7% per tahun hingga tahun keempat menjadi 9% per tahun.
Pemerintah juga menghapus batas maksimal pengambilan KUR oleh UMKM. Selama ini, sektor produksi hanya bisa mengakses KUR maksimal empat kali dan sektor perdagangan dua kali. Tahun 2026, pemerintah memasang target penyaluran KUR untuk UMKM sebesar Rp 320 triliun, naik dari target tahun ini Rp 286 triliun yang diharapkan menyasar 2,34 juta debitur UMKM.
Kedua, Presiden Prabowo Subianto segera menerbitkan instruksi presiden (inpres) sebagai landasan hukum penggunaan aset tidur atau idle milik pemerintah untuk aktivitas UMKM. Menurut Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar, pilot project pertama dimulai dari Laswi Heritage Bandung yang merupakan aset milik PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Ketiga, pemerintah merancang program Pasar 1001 Malam sebagai pusat bisnis serta kolaborasi antara UMKM dan pelaku ekonomi kreatif. Program ini bertujuan mempercepat peningkatan skala UMKM dan memperluas akses pasar yang selama ini menjadi salah satu kendala utama UMKM. Akan ada seribu titik sebagai proyek percontohan pusat-pusat bisnis baru UMKM, guna memperkuat sektor ini dari aspek pembiayaan, peningkatan kapasitas, hingga pemasaran.
Keempat, Bank Indonesia (BI) memberikan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor UMKM, koperasi, dan inklusi minimal sebesar 1,5% dari dana pihak ketiga (DPK). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, insentif yang berlaku mulai 1 Desember 2025 ini diberikan kepada bank yang mengalokasikan kredit UMKM minimal 30% dari total kredit. Selain itu, perbankan juga mengembangkan bisnis model UMKM di daerah, terutama untuk sektor pertanian dan komoditas ekspor.
Terdapat dua kebijakan KLM untuk mendorong target tersebut. Pertama yaitu pemberian insentif likuiditas atas komitmen dalam menyalurkan kredit atau pembiayaan kepada sektor tertentu atau lending channel. Kedua, BI juga menetapkan suku bunga kredit atau pembiayaan yang sejalan dengan arah suku bunga kebijakan BI melalui interest rate channel.
Besaran insentif KLM terdiri atas insentif lending channel sebesar 5% dari DPK dan interest rate channel maksimal 0,5% dari DPK, sehingga total insentif paling besar 5,5% dari DPK.
Sektor yang mendapat insentif lending channel adalah pertanian, industri, hilirisasi, sektor jasa, ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, dan inklusi, yang menjadi sektor prioritas pemerintah.
Kelima, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mendorong perbankan mengakselerasi kredit UMKM. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyebut bahwa per Oktober 2025, kredit UMKM justru terkontraksi 0,11%, jauh tertinggal dibanding kredit korporasi yang tumbuh 11,02%. “Penguatan kapasitas pelaku usaha sekaligus memperluas akses keuangan bagi kelompok menengah bawah menjadi fokus utama OJK,“ kata dia.
Untuk itu, OJK telah menerbitkan aturan khusus mengenai pembiayaan UMKM melalui Peraturan OJK (POJK) 19 Tahun 2025. Regulasi itu menjadi dasar penguatan kapasitas lembaga keuangan, baik bank maupun nonbank, dalam menyalurkan pembiayaan yang lebih inklusif.
Menurut Mahendra, pemerintah telah menyiapkan kebijakan untuk memperluas akses keuangan melalui program penghapusan buku dan penghapusan tagih bagi pembiayaan UMKM. Namun, implementasi kebijakan tersebut belum optimal sehingga mesti diperkuat.
Keenam, Kementerian UMKM sedang menyiapkan Super apps SAPA UMKM sebagai basis data yang mengintegrasikan 57 juta pengusaha UMKM di seluruh Indonesia. Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengakui selama ini sektor UMKM berjalan sendiri tanpa adanya pendampingan optimal dari pemerintah. Ketiadaan pangkalan data yang up to date menjadi faktor sulitnya pemerintah memberikan program-program yang tepat sasaran. "Akibatnya, pola kebijakan yang dilakukan pemerintah itu sporadis, tidak ter-planning, tidak terintegrasi, dan tidak terpola," jelas Maman.
Ketujuh, Kementerian UMKM meluncurkan program Acces (Accelerating Capital Resources for Medium Enterprises), sebuah inisiatif strategis untuk memberikan kemudahan pembiayaan bagi pengusaha menengah. Melalui program ini, usaha menengah akan difasilitasi untuk memperkuat ekosistem kemitraan berbasis klaster. Usaha menengah berperan sebagai operator Holding UMKM yang menghubungkan usaha mikro dan kecil ke dalam rantai pasok industri. Program ini juga memperkuat intermediasi usaha menengah ke berbagai lembaga keuangan. Intinya, Acces adalah membangun ekosistem kolaboratif.
Kedelapan, Kementerian Keuangan telah mendukung sektor UMKM melalui APBN sebesar Rp 56,4 triliun pada 2025 yang tersebar di sejumlah kementerian/lembaga (K/L). Di 2026, menurut Direktur Sistem Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, Subandono, pemerintah juga mengalokasikan anggaran pembangunan Koperasi Merah Putih dan UMKM senilai Rp 83 triliun. Dengan anggaran ini, pelaku UMKM bisa mengajukan pinjaman hingga Rp 3 miliar dengan tenor maksimum 6 tahun dan bunga 6%.
Kesembilan, Kadin meluncurkan Kampung Digital dan Pojok UMKM agar UMKM masuk dalam ekosistem digital. “Kadin yakin strategi ini akan mengubah wajah UMKM dan bisa mendorong UMKM masuk ekosistem global. Kadin Indonesia, Kadin daerah, dan pemerintah daerah harus berkolaborasi memajukan UMKM Indonesia sebagai wujud semangat Indonesia Incorporated,“ tutur Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie.
Selain itu, Wakil Ketua Umum Bidang Kewirausahaan UMKM Kadin Indonesia Tedy Aliudin mengungkapkan bahwa Kadin akan meluncurkan buku digital (e-book) tutorial berkomunikasi untuk meningkatkan penjualan dan naik kelas. Kadin juga membuat roadmap jangka panjang UMKM naik kelas menuju Indonesia Emas 2045. Kajian Kadin memprediksi bahwa pada 2045 akan ada 122 ribu UMKM yang naik kelas jadi pengusaha besar.
Sekjen Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat dan menjaga sektor UMKM. “Kalau UMKM-nya ambruk, ekonomi Indonesia kemungkinan akan kolaps,” ujarnya.
Strategi-Transformasi Lanjutan BRI
Sementara itu, Direktur Utama BRI Hery Gunardi langsung bikin gebrakan saat mendapat mandat di kursi nomor satu bank tersebut. Situasi perekonomian terkini yang turut menekan bisnis UMKM membuat dia mendesain transformasi lanjutan untuk mengakselerasi kinerja.
Mengusung konsep BRIvolution Initiatives, Hery Gunardi menyebut strategi tersebut menjadi bagian dari transformasi berkelanjutan untuk memperkuat daya saing dan memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholder BRI. “Transformasi ini bukan sekadar perubahan sistem, tapi juga perubahan cara berpikir,” tegas Hery, saat peluncuran BRIvolution Initiatives Phase 1 pada 3 Juli 2025 lalu.
Fokus utama perseroan adalah menjalankan transformasi di berbagai aspek bisnis dan operasional. Strategi ini merupakan komitmen BRI untuk tumbuh secara sehat, berkelanjutan, dan inklusif, sekaligus menjawab tantangan serta peluang di seluruh segmen pasar.
“Inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam mengarahkan BRI menuju horizon baru yang lebih visioner, kolaboratif, dan berdampak. Inisiatif ini bertujuan memperkuat posisi BRI sebagai bank terbesar dan paling inklusif di Tanah Air,” tutur Hery.
BRIvolution ditandai dengan dimulainya implementasi lima inisiatif strategis, yakni Area Head, Commercial Business Center, New Sales Coverage Model, Joint Financing, dan Remodelling Mantri.
Peluncuran fase pertama BRIvolution ini menjadi fondasi awal dari rangkaian transformasi berkelanjutan yang akan dijalankan BRI, seiring dengan upaya perusahaan untuk menjawab dinamika industri keuangan dan kebutuhan nasabah yang terus berkembang.
Merujuk momentum peringatan HUT BRI ke-130, BRI mengusung tema ‘Satu Bank Untuk Semua’. Tema ini merepresentasikan komitmen BRI untuk senantiasa hadir melayani seluruh lapisan masyarakat. Tema tersebut juga merefleksikan karakter BRI yang modern, relevan dan inklusif, sejalan dengan transformasi berkelanjutan yang tengah dijalankan perseroan.
“Berakar pada mandat dan misi nasional, semangat ‘Satu Bank Untuk Semua’ menegaskan tekad BRI untuk mendukung setiap ambisi, mendorong pemerataan ekonomi, serta menjadi mitra finansial terpercaya bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegas Hery Gunardi.
Mesin Pendapatan Baru
Sementara itu, sebagai upaya untuk mendongkrak pendapatan ke depan, BRI kini sedang menyalakan mesin-mesin baru sebagai sumber pendapatan. Menurut Hery Gunardi, perseroan akan mengembangkan bisnis inti kedua (second core business) di segmen konsumer. Ini dilakukan simultan dengan tetap memperbaiki mesin bisnis inti existing di UMKM.
“Kita sedang membangun new core atau second core business yang berkelanjutan. Ini adalah bisnis yang memang menjanjikan, yaitu consumer banking,” ujarnya.
Banyak new core yang diincar BRI. Pertama, memperluas basis nasabah payroll. Selama ini BRI sangat kuat di payroll ASN, TNI, dan Polri. Ke depan, BRI memperluas payroll ke korporasi besar.
Kedua, bisnis kredit pemilikan rumah (KPR), dengan menggandeng pengembang tier satu dan dua serta refinancing untuk pasar properti sekunder. Ketiga, menaikkan bisnis pembiayaan kendaraan bermotor, baik mobil maupun sepeda motor.
“Itulah mainan BRI yang selama ini belum terlalu menjadi perhatian ya. Pengembangan bisnis inti baru ini ditempuh dengan memanfaatkan sinergi perusahaan anak,“ kata Hery.
Bisnis lain adalah optimalisasi fee based income (FBI) yang bersumber dari wealth management. Hal ini untuk mengakomodasi kebutuhan nasabah di kota-kota besar yang membutuhkan layanan priority banking.
Sumber pendapatan lain yang sangat diharapkan adalah jasa bullion (emas). BRI akan memperkuat ekosistem emas bersama Pegadaian yang sudah unggul di bisnis tersebut.
Terobosan jitu lainnya adalah membangun platform LinkUMKM, aplikasi wadah pelatihan digital yang memperkuat daya saing UMKM di seluruh Indonesia. Saat ini, terdapat enam fitur utama yang tersedia dengan beragam fasilitas dan produk pendukung, yaitu UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register Nomor Induk Berusaha (NIB).
Menurut Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya, hingga akhir September 2025, lebih dari 13,6 juta pelaku UMKM telah memanfaatkan platform ini untuk memperluas pasar, meningkatkan kapasitas usaha, dan mempercepat proses naik kelas. LinkUMKM menyediakan lebih dari 690 modul pelatihan guna mendukung pelaku usaha dalam mengelola bisnis secara lebih profesional dan berkelanjutan.
“Melalui LinkUMKM, setiap pelaku usaha berkesempatan mengikuti pelatihan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan bisnisnya. LinkUMKM juga dirancang sebagai jawaban atas tantangan utama pengusaha UMKM, yakni keterbatasan akses terhadap informasi, pelatihan, dan dukungan pengembangan yang sesuai dengan tahapan usaha mereka,” ujar Akhmad.
Ke depan, BRI akan terus memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha dengan menyediakan akses pembelajaran, pendampingan, dan akses pasar yang saling terhubung. Melalui ekosistem digital dan program pemberdayaan yang terintegrasi, BRI terus berkomitmen untuk mendorong pelaku UMKM dapat tumbuh lebih adaptif, berdaya saing, dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Dalam konteks itu, BRI membangun ekosistem ekonomi desa berupa Desa BRILiaN. Program ini berfungsi sebagai inkubasi yang berfokus pada pengembangan desa melalui empat pilar utama: penguatan BUMDes, digitalisasi, inovasi, dan keberlanjutan. Hingga akhir 2024, BRI telah membina 4.327 desa BRILiaN.
Prospek Makin Kuat
Berbekal komitmen kuat seluruh pemangku kepentingan untuk memajukan UMKM serta strategi-transformasi internal BRI, Hery Gunardi optimistis prospek pertumbuhan ke depan akan semakin kuat. Keyakinan itu ditopang oleh penurunan biaya dana (cost of fund), perbaikan likuiditas, serta peningkatan permintaan kredit di sektor produktif dan konsumtif. Terlebih lagi, kondisi makro perekonomian Indonesia dan kebijakan moneter cukup positif sehingga berdampak terhadap stabilitas industri perbankan nasional.
Hery melihat bahwa kinerja BRI selama ini tidak hanya tumbuh secara sehat, tetapi juga merefleksikan keberpihakan nyata terhadap sektor produktif dan ekonomi rakyat. Untuk itu, BRI akan terus memperkuat fundamental bisnis dengan menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi pendanaan, serta memperdalam transformasi yang dijalankan secara terstruktur dan terintegrasi melalui BRIVolution Reignite.
“Didukung oleh semangat seluruh Insan BRILiaN dan kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh, BRI optimistis dapat mempertahankan kinerja yang positif, berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” tegasnya.
Intinya, membangkitkan, menguatkan, memandirikan, dan mengakselerasi kinerja UMKM menjadi kunci untuk memoles performa BRI ke depan. Dirgahayu BRI. ***

