Pro-Kontra Gelar Pahlawan Soeharto
Poin Penting
|
Oleh Primus Dorimulu,
CEO Investortrust Indonesia Sejahtera
INVESTORTRUST.ID - Gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada Soeharto, Presiden kedua RI, masih menimbulkan pro-kontra yang luas di tengah masyarakat Indonesia. Ini hal wajar.
Tapi, di tengah panasnya diskusi, hendaklah kita ingat, pahlawan juga manusia. Sebagai manusia, mereka pasti punya kesalahan dan dosa. Tapi, di sisi lain, mereka juga punya kebaikan. Dosa yang mereka perbuat tidak menghapus jasa mereka. Sebaliknya, kebaikan yang mereka perbuat dapat mengurangi dampak buruk perbuatan jelek mereka.
Rasa bersalah, kegelisahan batin, atau penderitaan moral yang dirasakan seseorang —karena menyadari kesalahan masa lalunya— adalah dampak dari dosa yang mereka perbuat. Pahlawan punmengalami ini. Mereka berbuat sesuatu yang besar untuk bangsa, tapi mungkin juga pernah membuat keputusan keliru yang merugikan sesama. Namun bila mereka menyesal dan menebusnya dengan karya dan pengabdian, kebaikan itu menjadi jalan penyucian moral.Kebaikan yang mereka perbuat dapat mengurangi dampak dari dosa mereka.
Dalam falsafah Jawa ada ungkapan terkenal: “Mikul dhuwur mendhem jero”. “Mikul dhuwur” berarti mengangkat setinggi mungkin, sedang “Mendhem jero” berarti mengubur sedalam mungkin.Mengangkat tinggi-tinggi nama baik orang tua atau leluhur, dan mengubur dalam-dalam segala aib atau kesalahan mereka.
Ungkapan bijak Jawa ini mengajarkan bakti dan penghormatan kepada orang tua, guru, pemimpin, atau leluhur, baik semasa hidup maupun setelah wafat. Anak atau generasi penerus diharapkan menjaga nama baik keluarga dan tidak mengumbar kesalahan masa lalu.
Baca Juga
Surya Paloh Ucapkan Selamat atas Gelar Pahlawan Nasional Soeharto
Filosofi“Mikul dhuwur mendhem jero” mencerminkan keseimbangan antara penghormatan terhadap masa lalu dan tanggung jawab moral generasi penerus untuk menjaga martabat keluarga dan komunitasnya.
Dalam pandangan Jawa, manusia adalah makhluk yang “luput ora luput, salah ora kabeh”, artinya, setiap orang bisa salah, tapi tidak semua perbuatannya salah. Maka, ketika seseorang telah berjasa besar bagi bangsa, kita tidak menghapus jasanya hanya karena ada kesalahannya.
Dengan menyetir filosofi ini, Presiden Prabowo Subianto hendak menekankan rasa hormat terhadap jasa dan pengabdian, tanpa menafikan keharusan untuk belajar dari kekeliruan masa lalu. Kita perlu mengangkat tinggi jasa seseorang dan menguburkan dalam kekurangannya. Maknanya bukan menutup-nutupi kesalahan, melainkan mengutamakan penghormatan dan kebijaksanaan dalam menilai sejarah.
Dengan dasar pemikiran inilah Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Bapak Soeharto, presiden kedua RI, bersama sembilan tokoh bangsa lainnya pada peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). Penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh ini berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Baca Juga
Sarwo Edhie Jadi Pahlawan Nasional, AHY Ungkap Jasa Kakeknya Berantas G30S/PKI
"Marilah kita sejenak mengenang arwah dan jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan, kedaulatan, dan kehormatan bangsa Indonesia yang telah memberi segala-galanya agar kita bisa hidup merdeka dan kita bisa hidup dalam alam yang sejahtera," ucap Prabowo.
Selain Pak Harto, tokoh yang juga dianugerahi gelar pahlawan nasionaladalah Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tokoh buruh Marsinah, akademisi, diplomat, dan Menteri Kehakiman periode 1974-1978 Mochtar Kusumaatmaja, tokoh reformator pendidikan Islam sekaligus pejuang kemerdekaan Hajjah Rahma El Yunusiyyah, panglima RPKAD atau kini Kopassus, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Bima XIV, Sultan Muhammad Salahuddin,Ulama yang dikenal sebagai Bapak Pesantren Indonesia, Syaikhona Muhammad Kholil, pejuang kemerdekaan Tuan Rondahaim Saragih, dan Sultan Tidore yang juga gubernur pertama Irian Barat, Sultan Zainal Abidin Syah.
Soeharto adalah pahlawan di bidang perjuangan yang menonjol sejak masa kemerdekaan. Salah satunya, Soeharto sebagai wakil Komandan BKR Yogyakarta memimpin pertempuran Kota Baru pada 7 Oktober 1945.
Abdurrahman atau Gus Dur merupakan pahlawan dalam bidang perjuangan politik dan pendidikan Islam. Sepanjang hidupnya, Gus Dur mengabdikan diri memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.
Baca Juga
Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Fadli Zon Sebut Tak Ada Masalah Hukum
Marsinah merupakan pahlawan bidang perjuangan sosial dan kemanusian. Marsinah adalah simbol keberanian, moral, dan perjuangan hak asasi manusia dari kalangan rakyat biasa. Lahir di Desa Ngunjo, Nganjuk, Jawa Timur, Marsinah tumbuh dalam keluarga petani miskin yang menanamkan nilai kerja dan keadilan sosial.
Mochtar Kusumaatmadja merupakan pahlawan dalam bidang perjuangan hukum dan politik. Riwayat perjuangan Mochtar Kusumaatmadja yang paling menonjol adalah gagasannya dengan konsep negara kepulauan yang digunakan oleh Djuanda Kartawidjaja dalam mendeklarasikan Djuanda tahun 1953.
Hajjah Rahmah El Yunusiyyah adalah pahlawan dalam bidang perjuangan pendidikan Islam. Hajjah Rahmah El Yunusiyyah adalah ulama, pendidik, dan pejuang kemerdekaan yang dedikasinya paling menonjol dalam memelopori pendidikan perempuan Islam di Indonesia.
Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo merupakan pahlawan dalam bidang bersenjata. Perjuangan militer dari Sarwo Edhie dimulai sebagai komandan kompi dalam TKR selama periode perang kemerdekaan 1945 sampai dengan 1949.
Sultan Muhammad Salahuddin merupakan tokoh dari Provinsi Nusa Tenggara Barat yang berjasa dalam bidang perjuangan pendidikan dan diplomasi. Sultan Muhammad Salahuddin berperan besar di bidang pendidikan dengan mendirikan HIS, sekolah kejuruan wanita, sekolah agama dan umum di Raba, Bima.
Baca Juga
Marsinah Jadi Pahlawan Nasional, Presiden KSPSI Andi Gani: Prabowo Tepati Komitmennya
Syaikhona Kholil Muhammad Kholil adalah tokoh dari Jawa Timur yang menjadi pahlawan dalam bidang perjuangan pendidikan Islam. Syaikhona Muhammad Kholil merupakan ulama karismatik yang menempuh jalur pendidikan kultural, sosial, dan agama.
Tuan Rondahaim Saragih merupakan tokoh dari Sumatera Utara yang menjadi pahlawan bidang perjuangan bersenjata. Dikenal sebagai Napoleon dari Batak. Tuan Rondahaim Saragih dan pasukan Batak di Simalungun mencatatkan riwayat perjuangan menonjol melawan kolonialisme Belanda dengan fokus pada pertahanan kemerdekaan yang berhasil. Kemenangan signifikan terutama setelah pertempuran Dolok Merawan dan Dolok Sagala.
Zainal Abidin Syah adalah tokoh dari Maluku Utara yang menjadi pahlawan bidang perjuangan politik dan diplomasi. Zainal Abidin Syah adalah Sultan ke-37 Tidore yang memimpin sejak tahun 1946 hingga wafatnya pada tahun 1967.
Arti Pahlawan Nasional
Menurut UU No 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, pahlawan nasional adalah seseorang yang berjasa luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan atau pengabdian kepada negara, dengan semangat pengorbanan dan nilai perjuangan yang patut diteladani.
Tidak ada satu pun pasal yang mensyaratkan bahwa pahlawan harus tanpa cacat atau tanpa dosa. Jika syaratnya kesempurnaan, maka tidak akan ada satu pun manusia yang layak menjadi pahlawan.
Baca Juga
Pahlawan adalah manusia biasa yang melakukan hal luar biasa, sering kali dalam situasi yang sulit, penuh risiko, dan dengan keberanian moral melampaui kebanyakan orang. Mereka bisa saja memiliki kekurangan pribadi, keputusan yang keliru, atau sikap yang kontroversial. Namun jasa, pengorbanan, dan nilai perjuangan mereka tetap dikenang karena dampaknya yang besar bagi bangsa dan kemanusiaan.
Bung Karno sudah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Proklamator pada tahun 1986 melalui Keputusan Presiden Nomor 81/TK/1986. Presiden Soeharto yang menandatangani Keppres tersebut meski hubungan politiknya dengan Bung Karno sangat rumit. Sedang gelar pahlawan nasional diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 November 2012 melalui Keputusan Presiden Nomor 83/TK/Tahun 2012.
Soeharto, yang naik ke tampuk kekuasaan setelah “mengakhiri” kekuasaan Bung Karno, tetap menghormati jasa besar pendiri bangsa itu dengan falsafah yang sama, yakni mikul dhuwur mendhem jero. Ia mengakui bahwa apa pun kekurangan Bung Karno di akhir masa pemerintahannya, jasa dan pengorbanannya bagi Indonesia jauh lebih besar.
Jasa Besar vs Dosa Besar
Fakta sejarah mencatat dua sisi besar dari Soeharto. Ia menyelamatkan Indonesia dari kekacauan politik pasca-G30S dan membangun stabilitas nasional. Pak Harto melahirkan Orde Baru yang membawa pertumbuhan ekonomi tinggi, swasembada pangan, dan pembangunan infrastruktur masif. Ia menegakkan kembali peran militer dalam menjaga persatuan dan keamanan nasional.
Baca Juga
Rahmah El Yunusiyah Jadi Pahlawan Nasional, Keluarga: Gigih Perjuangkan Pendidikan bagi Perempuan
Namun, kekurangannya tidak bisa ditutupi. Pak Harto disebut sebagai pelaku pelanggaran HAM, terutama terkait tragedi 1965–66, Tanjung Priok, Timor Timur, hingga reformasi 1998. Ia dinilai melakukan pembiaran terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang mengakar dalam hingga akhir masa kekuasaannya. Presiden kedua RI itu juga dikenang sebagai pemimpin yang mengekang demokrasi dan kebebasan pers.
Karena itu, gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada Pak Harto memicupro-kontra yang cukup luas, dan itu semua adalah hal wajar. Kubu yang satu menilai berdasarkan hasil pembangunan dan stabilitas nasional, sedangkubu yang lain menolak karena rekam jejak pelanggaran HAM dan otoritarianisme.
Mana yang benar? Bagi saya, ketika Presiden Prabowo memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto, itu dapat dibaca sebagai upaya rekonsiliasi sejarah dan penghormatan pada jasa pembangunan nasional.Selain menantu, Prabowopernah menjadi bagian dari Orde Baru, menempuh pendidikan dan berkarya selama Orde Baru. Ia tahu, baik sisi strategis maupun sisi kelam Pak Harto.
Banyak juga orang sukses saat ini berkat perjuangan dan pergumulan hidup mereka selama Orde Baru. Para petani di perdesaan merasakan pembangunan pada masa Soeharto. Sebaliknya, banyak pula yang masih merasa perih karena menjadi korban kebijakan Pak Harto.
Baca Juga
Ini Jasa Soeharto dan 9 Tokoh yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional oleh Prabowo
Keputusan itu tidak berarti menghapus dosa, tetapi mengakui bahwa bangsa harus berani berdamai dengan masa lalunya dengan tetap mengingat seluruh pelajarannya. Dalam kerangka “mikul dhuwur mendhem jero,” Prabowo ingin bangsa ini menjaga martabat sejarah tanpa menumbuhkan dendam.
Jawaban terhadap pertanyaan “apakah Soeharto layak diberi gelar pahlawan?” tidak bisa hitam putih. Yang jelas, Pak Harto bukan manusia sempurna, bahkan banyak dosa, tetapi jasanya sangat besar bagi bangsa dan negara. Ia punya kesalahan, tetapi juga memberikan warisan besar yang membentuk Indonesia modern.
Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang berani mengakui dua-duanya, tanpa fanatisme, tanpa dendam. Dalam konteks kebijaksanaan Jawa, langkah Prabowo dapat dimaknai sebagai tindakan simbolik untuk “mikul dhuwur —mengangkat jasa sang tokoh—, sementara “mendhem jero” berarti mengubur luka lama dengan doa dan pelajaran sejarah, bukan dengan pelupaan.***

