Menyusuri Rencana Besar Transportasi Massal Jabodetabek
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Di bawah langit metropolitan yang setiap pagi menyemburkan debu dan asap kendaraan, ribuan manusia bergegas dalam diam, mencari tempat di antara rel dan roda. Jakarta dan kota-kota penyangganya — Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek) — terus tumbuh bersama kemacetan yang menua, dengan kesabaran yang mulai kehilangan makna.
Di tengah itu, pemerintah menggulirkan janji baru, yaitu pembangunan jaringan transportasi massal terpadu yang melibatkan sektor swasta, mulai dari proyek MRT Lebak Bulus – Serpong, feeder LRT Harjamukti – Mekarsari, hingga perluasan layanan Transjakarta menjadi Transjabodetabek.
Bagi Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, ini bukan sekadar rencana teknis. Ia adalah ujian keseriusan negara untuk menata ulang hubungan manusia dengan kotanya.
“Kalau itu terwujud, bagus sekali. Karena ada keterlibatan swasta di situ. Modelnya kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), jadi tidak mengandalkan APBN. Tinggal nanti dihitung masa konsesinya berapa tahun. Tapi kalau realistis, mungkin butuh 4-5 tahun untuk benar-benar berjalan,” kata Djoko kepada investortrust.id, Sabtu (25/10/2025).
Baca Juga
Begini Perkembangan Sektor Transportasi di 1 Tahun Pemerintahan Prabowo Subianto
Rencana proyek MRT Lebak Bulus – Serpong digagas melalui kerja sama antara PT MRT Jakarta (Perseroda) dan Sinar Mas Land yang ditandatangani pada pertengahan Oktober 2025. Jalur sepanjang 20 km itu diharapkan menjadi koridor baru penghubung kawasan selatan Jakarta hingga BSD City, Tangerang Selatan — pusat pertumbuhan ekonomi baru di penyangga ibu kota.
Menurut manajemen MRT Jakarta, studi kelayakan proyek ini ditargetkan rampung kurang dari setahun, dengan skema tanpa dana APBN melalui pola pembiayaan KPBU.
Namun bagi Djoko Setijowarno, kemegahan rel tak akan berarti tanpa jembatan kecil yang menghubungkan rumah-rumah rakyat ke stasiun terdekat.
“Jangan lupa feeder-nya ke perumahan, itu kata kuncinya. Karena 95% perumahan di Bodetabek tidak difasilitasi angkutan umum,” imbuh dia.
Djoko menekankan, moda pengumpan tidak harus mewah. “Bus saja cukup. Tidak perlu halte besar, cukup bus stop sederhana. Kalau peminatnya banyak, swasta bisa bangun halte melalui KPBU,” jelas Djoko.
Solusi Warga Cibubur-Cimanggis
Gagasan itu bukan tanpa dasar. Di kawasan Cibubur, proyek feeder LRT Harjamukti – Mekarsari yang digarap PT Minsky Cakrawala Nusa (MCN) telah memasuki tahap studi kelayakan. Rute ini bisa menjadi solusi first mile dan last mile bagi warga Cibubur dan Cimanggis yang selama ini masih bergantung pada kendaraan pribadi.
Baca Juga
Menhub dan Gubernur Dedi Bahas Integrasi Transportasi Jabar, dari LRT hingga Kereta Cepat
“Last mile-nya di Jakarta sudah lumayan. Tapi di asal Bodetabek-nya masih buruk. Makanya first mile-nya harus diperbaiki dengan fasilitas transportasi umum ke semua kawasan perumahan, baik komersial maupun subsidi,” terang Djoko.
Sementara itu, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) tengah mempersiapkan rencana besar, yakni ekspansi Transjabodetabek yang akan menjangkau hingga Cikarang Raya.
Rencana ini, sebagaimana diberitakan investortrust.id, merupakan bagian dari strategi menghadapi pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta yang berdampak pada subsidi tarif bus Transjakarta.
“Pemotongan itu harusnya juga men-support subsidi di daerah. Pemerintah pusat bisa menyiapkan dana alokasi khusus transportasi umum di luar Jakarta. Harus diciptakan itu,” tegas Djoko.
Baca Juga
Integrasikan 4 Moda Transportasi, TOD Dukuh Atas Ditargetkan Rampung 2027
Di sisi lain, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan kawasan transit oriented development (TOD) di simpul-simpul transportasi, seperti stasiun dan terminal utama.
Inisiatif ini penting, tetapi harus disertai perencanaan matang. “Biasanya di simpul-simpulnya, terutama stasiun, itu dibangkitkan TOD karena sudah menjadi kebutuhan. Tapi perhitungannya berat dan mahal,” tutur Djoko.
Menurut Wakil Ketua MTI, jalur darat Bogor – Jakarta adalah koridor dengan kepadatan simpul lalu lintas masyarakat tertinggi, diikuti rute MRT North – South (Lebak Bulus – Bundaran HI) yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi titik-titik TOD baru.
Kawasan di sepanjang jalur ini diyakini memiliki potensi ekonomi tinggi, namun juga berisiko meningkatkan harga properti dan menyingkirkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Harga Lebih Terjangkau
Di antara rencana dan rapat, ada mereka yang setiap pagi menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai ke tempat kerja. Salah satunya Ayu (26), pekerja lepas asal Citayam yang tiap hari melintasi batas kota menuju Jakarta.
“Rumah saya jauh, dan transportasi umum lebih terjangkau dari segi harga. MRT Lebak Bulus – Serpong mungkin tidak akan langsung mengurai macet, tapi setidaknya memberi pilihan baru bagi pengguna transportasi umum,” kata dia.
Baca Juga
Menhub Tegaskan Pentingnya Akses Transportasi Umum ke Perumahan Subsidi
Bagi Ayu, moda-moda baru bukan sekadar alat angkut, melainkan cara untuk hidup lebih wajar di kota yang tak pernah tidur.
“Saya suka berkelana dengan transportasi umum. Harapan saya, sistemnya makin terkoneksi dan ramah perempuan, juga difabel. Di transportasi umum, kita belajar jadi warga yang setara,” ujarnya, lirih.
Di setiap proyek besar, selalu terselip doa kecil manusia biasa agar perjalanan mereka tak lagi menjadi perjuangan. Transportasi massal bukan hanya urusan beton dan rel, tapi tentang cara sebuah bangsa memperlakukan waktunya sendiri.
Sebab, di negara yang belajar menepati janji — rel kereta bukan sekadar baja yang membelah tanah, melainkan urat nadi yang menghidupkan peradaban. ***

