Pendekatan Ekosistem Bikin Bank Mandiri Jadi Perusahaan Beraset Terbesar di Tanah Air
JAKARTA, Investortrust.id – Memasuki tahun 2025, manajemen PT Bank Mandiri (Persero) Tbk merasa optimistis akan mampu mencatatkan kinerja lebih baik dibanding secara rerata industri. Tingginya pertumbuhan kucuran kredit yang didukung oleh menebalnya dana pihak ketiga yang dikelola Bank Mandiri juga berujung pada tingginya tingkat laba bersih yang diraup, sebesar Rp 51,14 triliun (bank only).
“Pertumbuhan kredit Bank Mandiri (tahun 2024) sebesar 20,7%, sementara rata-rata industri hanya 10,4%. Berikutnya saving kita tumbuh selama 4 tahun ini tertinggi. Kita tumbuh 13,4%, sedangkan secara industri hanya 6,8%. Tidak ada ruang lain yang tumbuh lebih besar dari 13,4% untuk saving, yang merupakan cost of fund terendah dari produk dana masyarakat,” ujar Direktur Utama PT Bank Mandiri (persero) Tbk, Darmawan Junaidi dalam kesempatan berbuka puasa bersama para pemimpin media massa di Jakarta, Rabu (5/3/2025).
Jika mengacu pada tingkat pertumbuhan kredit secara industri, sejatinya dengan pertumbuhan kucuran kredit Bank Mandiri yang relatif signifikan, perseroan telah memberikan kontribusi yang cukup material untuk pertumbuhan secara rerata industri.“Secara industri kalau dikeluarkan (pertumbuhan kredit) Bank Mandiri, maka pertumbuhan industri yang 10,5% menjadi hanya 8,4%,” kata Darmawan.
Tren pertumbuhan kucuran kredit bank berkode bursa BMRI ini pun masih berlanjut. Setidaknya pada Januari tahun ini kredit Bank Mandiri masih mencatatkan pertumbuhan 19,03%, dibandingkan rerata industri sebesar 10,27%.
Disampaikan Darmawan, pertumbuhan Bank Mandiri bersumber dari ekosistem yang sudah dikembangkan secara internal, yakni nasabah wholesale yang memang core competence dari Bank Mandiri. Tak semata dari wholesale, BMRI kini juga mulai melepaskan predikatnya sebagai urban bank dengan mulai memperbesar rambahannya ke nasabah ritel.
“Kita memang wholesale bank. Tetapi kita punya kekuatan ataupun punya resources untuk tumbuh juga di retail transaction. Untuk tumbuh juga di lower segment lewat pembiayaan pada aktivitas ekonomi yang ada di seluruh Indonesia,” kata Darmawan.
Langkah merambah segmen ritel tak lantas memaksa Bank Mandiri melakukan pembukaan cabang secara masif seperti layaknya sebuah bank yang memang fokus di bisnis ritel. Tapi cukup dengan memanfaatkan teknologi, yakni dengan menggunakan layanan telekomunikasi via satelit low earth orbit atau orbit rendah, kini Bank Mandiri sudah mampu memberikan layanan pada pasar ritel tanpa harus membuka kantor cabang di seluruh pelosok.
Baca Juga
Dirut Bank Mandiri Yakin Danantara Akan Ciptakan Pertumbuhan
“Kini masyarakat bisa mengakses layanan dan produk Mandiri dimanapun berada. Kita tidak bilang Mandiri ada di seluruh Indonesia. Tetapi sepanjang ada internet connection, masyarakat bisa mengakses layanan dan produk dari Bank Mandiri,” ujar Darmawan.
Ia menyebut Bank Mandiri selain melayani nasabah wholesale sektor perkebunan lewat kantor pusatnya, denngan teknologi Low Earth Orbit Satellite tadi, Bank Mandiri bisa ikut melayani para pekerja perkebunan di lokasi perkebunan langsung. Kini, kata Darmawan, Bank Mandiri ikut melayani ratusan bahkan hampir seribu pegawai perkebunan, yang selama ini merupakan pasar yang dimanfaatkan oleh bank lain.
Sejak dua tahun terakhir, Bank Mandiri telah membangun hampir 80 titik point of service di lokasi-lokasi tanpa koneksi internet, yang fungsinya nyaris sama seperti kantor cabang pembantu dengan skala layanan yang lebih minim. “(Point of Services) dia melayani masyarakat yang mungkin tidak punya smartphone. Tapi kita sediakan sarananya di point of service tersebut. Sehingga pertumbuhan bisnis Bank Mandiri ini kita lihat bisa tumbuh di seluruh wilayah NKRI,” kata Darmawan.
Dengan sejumlah langkah ekspansi yang didukung oleh digitalisasi ini, Darmawan pun merasa optimistis pertumbuhan kucuran kredit sebesar 20% di tahun 2024 masih akan bsia diakselerasi oleh manajemen di tahun ini.
Dalam kesempatan yang sama Darmawan juga memaparkan pertumbuhan kredit yang mentereng di sejumlah wilayah. Ia menyebut kucuran kredit di Sumatera BMRI mampu mencatatkan pertumbuhan 13,9% dibanding rerata kredit industri di kawasan yang sama sebesar 10%. Berikutnya di Kalimantan kredit bertumbuh 22,4% dibanding rerata industri 11,7%, lalu di Jakarta, Banten kredit bertumbuh 15,9% dibanding industri yang sebesar 12,1%.
“Di Jawa dan DIY lebih tinggi. Bali, Nusra bahkan hampir tiga kali lipat dari industri,” ujarnya.
Namun diakuinya di Sulawesi pertumbuhan kredit BMRI hanya terkerek tipis, karena di kawasan ini ekspansi industri lebih banyak dilakukan di sektor-sektor yang terkait dengan hilirisasi sumber daya alam. Begitu juga di Papua.
Baca Juga
Bos Bank Mandiri Tepis Isu Dana Nasabah Bakal Digerus Danantara
“Tapi overall seluruh Indonesia kita sudah shaping the nation's economic trajectory. Itu yang kita capai di 2024,” ujarnya.
Berikutnya untuk tahun ini, kendati diakuinya tak akan lebih mudah dibandingkan tahun 2024, ia memastikan bahwa pertumbuhan kredit perseroan akan terus diakselerasi. Ia pun menyebut manajemen punya rasa percaya diri yang baik bahwa di tahun ini BMRI akan mampu memberikan kinerja yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Tak semata menggeber kucuran kredit sehingga mampu bertumbuh di atas rerata industri, Bank Mandiri juga tetap menjaga prudential banking demi menjaga kualitas asetnya. Saat ini secara bank only Bank Mandiri mampu menjaga tingkat kualitas aset yang terukur dari rasio kredit bermasalah (NPL) di kisaran 0,97%.
“Karena secara bank only, NPL gross ratio kita ada di kisaran 0,97%. Yang dulu bank ini pernah bercita-cita juga untuk go forward. Mendekati satu saja susah,” tutur Darmawan.
“Jadi ini Alhamdulillah itu bisa kita capai dan Insyaallah akan terus kita pertahankan. Karena pertumbuhan kita itu tidak lagi yang sifatnya shot gun approach, tapi lebih kepada ecosystem approach. Yang lebih sehat, yang lebih bisa kita monitor,” imbuhnya.
Kini, Bank Mandiri pun bertumbuh menjadi sebuah entitas bisnis dengan jumlah aset terbesar di Tanah Air. Sebagaimana disebutkan Darmawan, pada tahun 2024, aset perseroan tercatat sebesar Rp2.427 triliun.
“Jadi tidak hanya bank terbesar dengan total aset, tapi juga perusahaan terbesar di Indonesia. Karena tidak ada perusahaan di Indonesia yang memiliki total aset melebihi Rp2.427 triliun sampai dengan posisi akhir 2024,” tandasnya.

