Hingga Usia 68, Astra Tak Terkalahkan
JAKARTA, investortrust.id – Memasuki usia 68 tahun, PT Astra International Tbk (ASII) masih konsisten sebagai penguasa industri otomotif di Tanah Air dengan pangsa pasar di atas 50%. Predikat Astra sebagai produsen otomotif nomor satu di Indonesia sejak perusahaan itu didirikan hampir tujuh dekade silam tak terkalahkan.
Emiten otomotif yang dibesut pada 20Februari 1957 ini mencatatkan penjualan mobil sebanyak 482.964 unit atau dengan pangsa pasar 56% dari total 865.723 penjualan nasional secara wholesales (penjualan kepada distributor atau dealer) sepanjang tahun lalu.
Bahkan, di segmen low cost green car (LCGC) alias mobil ramah lingkungan dengan harga terjangkau, pangsa pasar Astra mencapai 74%, dengan penjualan 131.328 unit.
Terbaru, pada Januari 2025, perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 4 April 1990 dengan sandi saham ASII ini menorehkan penjualan 34.531 unit dibanding total penjualan mobil di pasar domestik yang mencapai 61.849 unit.
Baca Juga
Harga Saham Astra International (ASII) Disebut Makin Menarik Karena Potensi 'Undervalue'
Alhasil, perusahan yang didirikan Tjia Kian Long (William Soeryadjaya), Liem Pen Hong, Parulian Nainggolan, Datu Parulas Nainggolan, dan Saut Guru Pamosik Nainggolan itu masih mempertahankan pangsa pasar di angka 56%. Khusus di segmen LCGC, penjualan Astra mencapai 9.427 unit, atau 68% dari total penjualan LCGC secara nasional sebanyak 13.782 unit.
Seperti biasanya, penjualan mobil Astra pada 2024 didominasi Toyota dan Lexus yang terjual sebanyak 291.566 unit. Kemudian terbesar kedua dari Daihatsu dengan 163.032 unit, Isuzu sebanyak 26.379 unit, UD Trucks terjual 1.960 unit, dan Peugeot sebanyak 27 unit.
Bersiap Hadapi Tantangan
Meski masih mempertahankan posisinya sebagai penguasa pangsa pasar mobil di Tanah Air, Astra yang secara holding menaungi sekitar 200 perusahaan dengan 235 ribu karyawan harus bersiap menghadapi sejumlah tantangan yang ada di depan mata. Salah satunya yang sudah mulai terjadi belakangan ini adalah perlambatan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat.
Menurut pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, Astra dapat mempertahankan, bahkan meningkatkan pangsa pasarnya di industri otomotif dengan memanfaatkan keunggulan kompetitif, seperti efisiensi biaya produksi, dukungan kebijakan pemerintah, dan preferensi konsumen domestik.
Baca Juga
“Adaptasi terhadap tren global, kolaborasi internasional, serta diversifikasi produk yang berfokus mejawab kebutuhuan dan keinginan pasar paling besar di middle low segment menjadi faktor pendukung utama dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat ini,” ucap Yannes kepada investortrust.id, Jumat (21/2/2025).
Untuk mempertahankan posisi terdepan di pasar otomotif Indonesia, Astra juga perlu fokus pada adaptasi cepat, inovasi produk, dan investasi teknologi produksi yang lebih efisien, serta investasi sumber daya manusia (SDM).
Salah satu yang tengah diminati masyarakat adalah kendaraan dengan harga terjangkau. Jika tidak beradaptasi ke pasar dengan segmen kendaraan yang lebih terjangkau, pangsa pasar Astra akan semakin tergerus.
Maklum, sejumlah brand baru, terutama mobil-mobil listrik, sudah mengaspal di jalanan Indonesia, bahkan sudah mulai menyalip mobil-mobil besutan Astra. Sebut saja deretan mobil listrik dari Korea dan China, seperti BYD, Wuling, dan Hyundai. Pasar Astra di beberapa segmen diperkirakan tergerus sekitar 10% pada 2024 akibat tren tersebut.
Penjualan tertinggi mobil listrik, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang 2024 masih dipegang merek asal China, yakni Wuling sebanyak 21.923 unit. Wuling bahkan masuk ke dalam daftar 10 merek mobil terlaris di Indonesia.
Posisi selanjutnya diisi BYD. Meskipun masih terhitung sebagai “anak bawang” di industi otomotif Tanah Air, mobil merek China ini mampu menembus pasar dalam negeri dengan penjualan sebanyak 15.429 unit secara wholesales.
Baca Juga
Chery juga berhasil merebut pangsa pasar penjualan mobil di Indonesia sebesar 1,1% pada 2024. Merek mobil yang lagi-lagi buatan China ini berhasil meraup penjualan sebanyak 9.191 unit.
Meskipun demikian, dalam penilaian Yannes Pasaribu, keberhasilan jangka panjang industri otomotif saat ini bergantung pada transformasi fundamental dalam strategi bisnis, dari adopsi teknologi kendaraan listrik (electric vehicle/EV), hingga penguatan infrastruktur pendukung.
“Saat ini, fokus pada kendaraan hybrid merupakan langkah yang logis, tetapi Astra tidak boleh mengabaikan pergeseran menuju BEV (battery electric vehicle) di tengah disrupsi preferensi pasar yang masih berlansgung dengan cepat dan penuh ketidakpastian ini,” tutur Yannes.
Astra sendiri memilih tidak mengikuti tren industri otomotif saat ini, yaitu dengan menggarap pasar mobil listrik. Astra lebih memilih fokus pada kendaraan hybrid dan hidrogen, yang dinilai lebih realistis dan sesuai kondisi pasar Indonesia saat ini dan ke depan.
“Dengan strategi ini, Astra dapat mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar otomotif sambil beralih secara bertahap ke teknologi yang lebih ramah lingkungan,” ungkap Yannes.
Kebijakan pemerintah yang mendukung kendaraan listrik dengan memberikan insentif kepada BEV dan hybrid electric vehicle (HEV) jelas dapat menjadi katalis positif.
“Astra harus bergerak lebih cepat lagi dalam berinovasi dengan menawarkan value for money melalui kendaraan HEV harga terjangkau atau bahkan BEV dengan skema pembiayaan menarik,” ujar Yannes.
Dalam analisis Yannes, dengan memanfaatkan peluang insentif pemerintah untuk kendaraan ramah lingkungan dan memperluas portofolio produknya, Astra dapat mengoptimalkan keunggulan kompetitifnya di mesin yang compatible dengan biofuel (bietanol-biodiesel), teknologi hybrid, dan bergerak cepat ke BEV.
“Kolaborasi internasional dan strategi diversifikasi produk juga penting untuk menghadapi persaingan global yang sudah masuk ke pasar lokal Indonesia saat ini. Harusnya Astra unggul di sini. Kolaborasi antara pemerintah, produsen, dan lembaga pembiayaan sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem otomotif berkelanjutan,” papar dia.
Baca Juga
Astra Sebut Terbantu dengan Rantai Pasok Otomotif Dalam Negeri
Beberapa faktor pun disebutkan Yannes di balik alasan Astra yang cenderung tidak menggarap pasar mobil listrik secara agresif. Hal itu terkait dengan infrastruktur yang belum memadai, harga kendaraan listrik yang tinggi, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan perilaku konsumen yang lebih memilih solusi yang lebih praktis, seperti kendaraan hybrid.
“Selain itu, Astra melihat potensi besar dalam teknologi hidrogen serta teknologi ICE (internal combustion engine) bioetanol dan biodiesel sebagai alternatif ramah lingkungan yang lebih menjanjikan di masa depan. Namun, tidak boleh lengah terhadap pergeseran tren di pasar yang berlangsung cepat sekarang ini untuk short term,” beber Yannes.
Tingkatkan Ekspor
Selain fokus menggarap pasar kendaraan yang ramah lingkungan dengan segmen harga terjangkau masyarakat, Astra perlu meningkatkan ekspor di tengah perlambatan ekonomi yang membawa pengaruh besar terhadap permintaan mobil, baik secara pasar domestik maupun internasional.
Jika dilihat dari laporan International Monetary Fund (IMF) pada 2023,pertumbuhan ekonomi global diprediksi melambat dari 6,0% pada 2021 menjadi 3,0% pada 2023, dan sekitar 2,6% pada 2024, lalu diperkirakan naik rata-rata menjadi 2,7% pada periode 2025-2026.
Di tengah perlambatan ekonomi global, Astra tampaknya berupaya mempertahankan ekspor mobil dengan fokus ke pasar yang masih tumbuh, seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam. Juga pasar nontradisional, seperti Afrika dan Timur Tengah yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.
Baca Juga
Market Share Naik, Astra (ASII) Kuasai 56% Pasar Mobil Semua Segmen dan 75% Mobil LCGC
“Astra tentunya perlu cepat melakukan diversifikasi rantai pasok, pemenuhan standar regulasi, dan inovasi teknologi untuk menjaga daya saingnya. Realisasinya kita belum tahu, dunia begitu penuh disrupsi multi aspek saat ini,” tandas Yannes.
Astra memang harus terus “bergerak”. Sebab, jika tidak jeli melihat peluang, salah-salah, Astra bisa “kehilangan” lini otomotifnya. Bukan apa-apa. Dari tujuh lini bisnis Astra, yaitu otomotif, jasa keuangan, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, properti, serta alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi, lini otomotif paling diandalkan dengan kontribusi sekitar 32,4% terhadap total laba Astra keseluruhan.
Yang pasti, para petinggi Astra sudah mafhum betul mengenai hal itu. "Terlepas dari tantangan-tantangan yang ada, dengan bisnis grup yang terdiversifikasi, kami tetap optimistis terhadap pertumbuhan jangka panjang Indonesia dan kemampuan kami mempertahankan posisi terdepan pada berbagai portofolio bisnis," tegas Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk, Djoni Bunarto Tjondro kepada pers, baru-baru ini.

