Catatan Akhir Tahun: Dana Asing Masuk Lagi bila Kelas Menengah Tumbuh
JAKARTA, investortrust.id – Kapan dana asing akan kembali mengalir masuk ke pasar keuangan Indonesia? Aliran modal asing ini tak hanya penting untuk menggairahkan kembali pasar modal Indonesia dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Aliran modal ke pasar keuangan itu juga akan menghantarkan investasi besar-besaran di sektor rill (foreign direct investment/FDI), guna menyediakan lapangan kerja bagi angkatan kerja baru kita yang tiap dua tahun jumlahnya sudah sama dengan penduduk Singapura. Pasalnya, investor asing mau memasukkan dana besar -- misalnya untuk proyek hilirisasi mineral dan industrialisasi -- juga dengan mempertimbangkan adanya kemudahan untuk exit yakni lewat pasar modal yang likuiditasnya besar dan kredibel.
Berdasarkan data Bank Indonesia, pekan ini adalah pekan kedua berturut-turut di mana asing mencatatkan capital outflow baik di pasar saham, surat utang pemerintah RI Surat Berharga Negara (SBN), maupun instrumen Bank Indonesia Sekuritas Rupiah BI (SRBI) meski suku bunganya sudah dinaikkan kembali.
“Berdasarkan data transaksi 23-24 Desember 2024, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 4,31 triliun. Ini mencakup jual neto sebesar Rp 0,63 triliun di pasar saham, Rp 0,86 triliun di pasar SBN, dan Rp 2,82 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, Jumat (27/12/2024) sore.
Berdasarkan data transaksi periode sama pekan lalu, 16-19 Desember 2024, non-resident mencatatkan jual neto mencapai Rp 8,81 triliun, yakni net sell Rp 3,67 triliun di pasar saham, Rp 4,43 triliun di SBN, dan Rp 0,71 triliun di SRBI. Padahal, periode sama sepekan sebelumnya, 9-12 Desember 2024, investor asing masih mencatatkan beli neto Rp 7,33 triliun, terdiri atas beli neto Rp 8,84 triliun di pasar SBN, jual neto Rp 1,31 triliun di pasar saham, dan jual neto Rp 0,20 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
Sedangkan selama 2024, berdasarkan data setelmen hingga 24 Desember, lanjut Ramdan Denny, non-resident tercatat masih beli neto sebesar Rp 15,61 triliun di pasar saham dan Rp 37,94 triliun di pasar SBN. Selain itu, net buy sebesar Rp 167,83 triliun di SRBI.
Seiring capital outflow, kinerja indeks harga saham Bursa Efek Indonesia menjadi yang terburuk di ASEAN dan terburuk kedua di Asia Pasifik. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI tercatat terkontraksi year to date 3,25%. Hal ini berlawanan dengan indeks harga saham bursa Cina yang terangkat 14% lebih berkat stimulus besar-besaran yang digelontorkan pemerintah komunis tersebut, termasuk untuk memperkuat likuiditas pasar modalnya.
Suku bunga di Cina juga dipangkas menjadi yang terendah dalam sejarah negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia itu. Suku bunga dasar pinjaman satu tahun (loan prime rate/LPR) per tanggal 20 Desember 2024 turun menjadi 3,1%. LPR satu tahun ini memengaruhi sebagian besar pinjaman rumah tangga dan korporasi.
Bank Sentral Cina juga memangkas giro wajib minimum (GWM) bank, berbeda dengan Bank Indonesia yang masih menahan GWM tinggi sejak dinaikkan menjadi 9% per 1 September 2022. Dengan pelonggaran tersebut, likuiditas bank di RRT meningkat dan bisa digunakan untuk penyaluran kredit lebih ekspansif, sehingga keuntungan bank naik sekaligus mendorong laju pertumbuhan ekonomi.
Rupiah Merosot
Dalam periode tersebut, nilai tukar rupiah terus merosot, kembali menembus level psikologis di atas Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat. BI menyebut hal itu dipengaruhi dinamika perekonomian global dan domestik terkini.
“BI menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah terkini, terkait perkembangan nilai tukar 23-27 Desember 2024. Pada akhir Selasa, 24 Desember, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.185 per dolar AS, yield SBN 10 tahun turun ke 7,019%, DXY (indeks dolar AS) menguat ke 108,13, dan yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke 4,583%. Pada pagi hari Jumat, 27 Desember, rupiah dibuka pada level Rp 16.180 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun turun ke 7,00%,” ujar Ramdan Denny.
Kurs Jisdor BI mencatat, transaksi spot valas antarbank Jumat sore (27/12/2024) ditutup di level Rp 16.251 per dolar AS. Ini melemah 312 poin dibanding pada 12 Desember 2024 yang masih di bawah Rp 16.000 per dolar AS, tepatnya Rp 15.939. Ini berarti rupiah sudah terdepresiasi 2% hanya dalam rentang waktu 2 minggu.
Sementara itu, premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 26 Desember 2024 sebesar 76,02 bps, naik dibanding dengan 20 Desember 2024 sebesar 75,86 bps. CDS adalah kontrak keuangan yang digunakan untuk mengalihkan risiko kredit dari satu pihak ke pihak lain.
Kapan Dana Asing Masuk Lagi?
Kembali ke pertanyaan kapan dana asing akan kembali mengalir masuk ke pasar keuangan Indonesia? Para analis sepakat hal ini akan sangat tergantung faktor eksternal dan kebijakan pemerintah Indonesia sebagai faktor internal.
“Dana asing bisa masuk lagi (ke pasar keuangan Indonesia). Di akhir tahun, di bulan Desember ini, (tekanan dari) data global cukup kencang, terutama pasca-Bank Sentral Amerika menurunkan suku bunga 25 basis poin, kemudian pasar merespons negatif pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, yang kemungkinan besar di tahun 2025 tidak akan menurunkan suku bunga sesuai ekspektasi sebelumnya. Itu faktor pertama,” kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi kepada Investortrust, Selasa (24/12/2024).
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka ini menuturkan, Powell kemungkinan besar di tahun 2025 tidak akan menurunkan suku bunga sesuai ekspektasi sebelumnya, yaitu 4 kali atau total 100 basis poin. Tetapi, kemungkinan hanya 1-2 kali atau berarti 50 bps. Saat ini, Fed Funds Rate berada di level 4,25-4,50% setelah dipangkas 100 bps sejak September 2024, sementara Bank Indonesia baru memangkas 25 bps BI Rate menjadi 6% periode yang sama.
“Prospek FFR itu juga dengan melihat kondisi pemerintahan Presiden Terpilih AS Donald Trump. Kalau memang pemerintahan Trump sedikit lebih kondusif, bisa saja akan menurunkan suku bunga,” ucapnya.
Tetapi, kata Ibrahim, kalau Trump sendiri ekspresif atau melakukan penyerangan terus terhadap negara-negara lain dengan memicu perang dagang, kemungkinan besar ia juga akan mempertimbangkan untuk mendorong mempertahankan suku bunga. Bahkan, bisa saja Bank Sentral Amerika akan menaikkan suku bunganya.
Yang kedua, konflik geopolitik seperti di Timur Tengah juga masih terus memanas. Pascaterbunuhnya jenderal bintang tiga Rusia oleh intelijen dari North Atlantic Treaty Organization (NATO), juga sedikit memicu ketegangan tersendiri di akhir tahun 2024, ditambah salah satu wilayah Rusia juga dihajar dengan menggunakan drone bunuh diri dari Ukraina.
Ketiga, permasalahan perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang merupakan salah satu mesin utama pertumbuhan global dan menjadi tujuan ekspor terbesar Indonesia. Perlambatan terindikasi dari data penjualan retail dan perumahan di Negeri Panda itu, yang menurun cukup drastis. Ini mengindikasikan perekonomian negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar kedua tersebut sedang mengalami permasalahan cukup serius, walau pemerintah Cina sudah berjanji akan mengelontorkan stimulusnya.
Faktor-faktor tersebut menjadi sentimen negatif yang mendorong arus modal asing keluar secara besar-besaran dari pasar keuangan Indonesia. “Ini pada 24 Desember, diawali dengan saham-saham teknologi berbasis teknologi yang berguguran, dana asing kembali keluar. Sementara kita lihat memang di dalam negeri ada gonjang-ganjing tentang masalah kenaikan PPN (pajak pertambahan nilai) dari 11% ke 12% mulai Januari, yang menjadi satu alasan bagi investor keluar dari pasar,” tandas Ibrahim.
Hal ini, lanjut Ibrahim, juga dikarenakan ada salah satu partai yang dulunya mendukung atau yang menginisiasi rencana kenaikan PPN menjadi 12%, kemudian belakangan melakukan penyerangan atau penolakan terhadap rencana pemerintah, walau kini sudah ada win-win solution. Meski sebenarnya kondisi perpolitikan di Indonesia cukup stabil, tandas dia, tetapi banyak sekali intrik-intrik yang membuat pasar ketakutan dan melihat kondisi belum pulih 100% pascaketegangan Pilpres dan Pilkada.
Hal itu membuat rupiah melemah cukup tajam dan arus modal asing begitu besar keluar. Selain itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pun cenderung terus melemah.
“Nah, pertanyaannya kapan modal asing akan masuk lagi? Modal asing kemungkinan masuk itu adalah di awal-awal Januari, karena bursa baru aktif kemungkinan besar tanggal 5 Januari, dan di situlah mungkin baru kelihatan investor akan kembali masuk,” ucap Ibrahim.
Selain itu, ia melihat strategi pemerintah yang kemungkinan besar akan segera kembali menggelontorkan stimulus. Ini baik berupa bantuan sosial (bansos) seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang sekarang sudah mulai berjalan melalui Pos Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia Bank (BRI). Selain itu, pembagian sembako sedang diusahakan di Desember akhir, yang kemungkinan besar akan sedikit mengangkat sentimen positif.
Perizinan Dipersulit
Sementara Ekonom NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama mengatakan, keluarnya dana asing itu lantaran perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat dan ditambah kondisi Indonesia yang kurang kondusif. “Jika kondisi Amerika Serikat itu tidak terlalu aman, atau growth rate-nya itu tidak terlalu bagus, investor akan melihat untuk ke elsewhere,” ujarnya kepada Investortrust, Selasa (24/12/2024).
Tapi, lanjut dia, AS nanti dalam administrasi Donald Trump ada banyak ketidakpastian dan ada banyak venturing out (menjelajah ke luar). Ini seperti presiden terpilih berlatar belakang pengusaha itu berniat mengambil balik Terusan Panama, dan beberapa inisiatif seperti tariff trade war.
Trump bulan lalu menyatakan akan mengenakan tambahan tarif baru sebesar 10% atas barang Cina segera setelah ia menjabat. Dalam kampanyenya, ia bahkan melontarkan gagasan pengenaan tarif hingga 60% untuk semua barang Tiongkok. Sementara itu, hampir 80% mainan AS misalnya, diproduksi di Negeri Tirai Bambu, menurut The Toy Association.
Kalau melihat growth momentum di AS di bawah administrasi Trump mulai 20 Januari, lanjut dia, memang kuat. “Sedangkan bila dilihat di Indonesia, apakah ada insentif atau katalis untuk mendorong negara kita ke depan atau konsumen ke depan? Memang tidak. Contoh PPN dinaikkan, jadi konsumen sudah ditekan lagi. Pemerintah sekarang bilang ini cuma naik 1%, dari 11% ke 12%. Ini rakyat juga sudah tahu bahwa itu cuma naik 1%, tapi orang-orang butuh cash on hand right now, dalam kondisi banyak orang shifting dari longer term bonds ke shorter term bonds atau longer term securities ke shorter term. Kita lihat money supply sudah mulai meroket atau meningkat, tapi deflasi dan disinflasi year on year juga mulai menjadi tantangan untuk negara,” tuturnya.
Mungkin muncul pertanyaan mengapa ada deflasi atau disinflasi tapi cash on hand secara tahunan meningkat. Hal ini, lanjut Eza, kemungkinan Pilkada serentak pada November menjadi salah satu faktor, dan harga komoditas -- soft commodities makanan -- sudah mulai lebih mahal. Meski tidak semuanya, tapi mayoritas harganya lebih mahal, termasuk di supermarket atau di general trade stores.
Selain itu, menurut Eza, maintaining living standards orang sudah lumayan lebih mahal. “Nah, dengan PPN 12% ini memang menjadi salah satu tantangan untuk konsumen, bahkan menjadi tantangan untuk produsen juga. Memang, ada yang bilang ini tidak akan berdampak ke konsumen, cuma akan berdampak ke produsen soalnya it's business to business transaction. That's not entirely true juga, itu yang pertama,” ucapnya,
Kedua, jika pejabat dan beberapa badan pemerintahan narasinya mereka tidak menaikkan PPN dari dari 0% ke 12%, tapi hanya akan menaikkan dari 11% ke 12%, itu juga tidak sepenuhnya benar. Hal ini seperti memanipulasi psikologi.
“Itu seperti gaslighting (manipulasi psikologi) orang-orang, soalnya memang konsumen sudah merasa tertekan, dan mereka bilang cuma naikin 1% dari 11% ke 12%. Tapi, itu kenyataannya berbeda ke beberapa jasa dan ke beberapa produk untuk maintaining people's lifestyle, seperti layanan kesehatan rumah sakit dan sekolah swasta yang dianggap premium (dari PPN 0% ke 12%). Padahal, itu memang maintaining lifestyle dan good standard of quality pendidikan dan kesehatan. Artinya, better standards of healthcare, semula orang bisa di-afford, kemudian menjadi make it harder to achieve or make it harder to attain, karena pajak lebih mahal,” ucapnya.
Ketiga, beberapa tahun sebelumnya, investor banyak masuk ke Indonesia karena ada growing middle class. Pertumbuhan kelas menengah ini yang banyak diincar investor.
“Growing middle class kita itu memang ditaksirin banyak investor untuk masuk, karena mereka mau have a piece of the pie, soalnya Indonesian consumers sangat bagus, high quality. Tapi, ternyata itu kemudian tidak benar, karena our high standard consumers mulai merosot ke bawah, because we have a shrinking middle class problem saat ini, we're not growing anymore,” paparnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah kelas menengah di Indonesia menyusut dari 61,5 juta tahun 2018 menjadi 47,85 juta pada 2024. Jika sebelumnya 23% populasi masuk kelas menengah, kini tinggal 17,1%. Hal ini makin menjauhkan dari realisasi program pemerintah mencapai Indonesia Emas Tahun 2045, atau menjadi negara maju dengan penduduk berpenghasilan tinggi pada 100 tahun RI merdeka.
Menyusutnya jumlah kelas menengah di Indonesia ini juga tercermin pada penjualan mobil yang kian anjlok. Penjualan mobil di Indonesia terus menyusut dibanding tahun 2018 atau enam tahun lalu, berdasarkan data Gaikindo. Tahun ini, penjualan mobil diperkirakan tidak akan mencapai lagi 1 juta unit, setelah dalam 10 bulan pertama hanya sebanyak 708.305, merosot 15,3% year on year.
Salah satu masalah lain, lanjut Eza, ada banyak investor asing ingin masuk, tapi foreign investors ini akhirnya tidak mau masuk. Hal itu karena birokrasi ataupun perizinannya dipersulit.
“Saya beberapa kali ke acara kedutaan besar, dan ngomong sama orang dari banyak negara, mau bikin bisnis seperti membuat obat di Indonesia harus ada perizinan dan mereka sudah keliling-keliling ke kementerian/lembaga beda-beda. Mereka harus ke BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), mereka harus ke Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, harus ke BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), jadi ini menjadi salah satu halangan yang Presiden Prabowo Subianto harus address. Guidelines-nya tidak harus dipersingkat, tapi harus lebih jelas, biar bisa investasi masuk secara real investment,” tandasnya.
Sedangkan untuk masalah net foreign sell di pasar saham dalam negeri, lanjut Eza, sentimen terbesar adalah dari kebijakan The Fed. Bank Sentral AS ini sentimennya less dovish untuk tahun depan, sehingga kemungkinan interest rate tidak turun sejauh yang diantisipasi sebelumnya oleh banyak orang.
“Jadi, pengaruhnya adalah dari The Fed untuk net foreign sell. Selain itu, dari sentimen ekonomi atau makroekonomi untuk dalam negeri kita,” paparnya.

