Potensi Panas Bumi PLTP Patuha Nyalakan Listrik Jawa, Bali, dan Madura
JAKARTA, investortrust.id - Jalan itu berkelok-kelok. HiAce yang jadi tumpangan terasa seperti wahana Bianglala di arena taman hiburan di Dunia Fantasi. Suspensinya tak mampu melawan aspal yang telah berubah menjadi berangkal batu. Keindahan hamparan kebun teh berwarna hijau pun tak bisa jadi obat penawar rasa mual.
Setelah sekitar 1,5 jam perjalanan terombang ambing, jalan beton mengakhiri. Mulus. Tak jauh darinya mulai terlihat pipa berwarna perak. Pipa tersebut layaknya mengular di tepi jalan.
Tak hanya lurus, pipa perak tersebut sesekali dibuat naik turun atau membelok menyerupai aksara N dan U. Dibuat demikian untuk menghindari pemuaian.
Jalan semakin menanjak. Menuju ke Desa Sugihmukti, Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Pipa perak bertuliskan “7,1 barg dan 175 derajat Celcius terlihat.” Sesekali, terlihat simbol arah berwarna merah menjadi penanda tujuan utama. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Patuha unit 1. Spanduk selamat datang di sebelah kiri jalan menegaskan siapa pengelolanya: PT Geo Dipa Energi.
Pagar besi menjadi batas mencolok area tersebut. Penjaga mulai terlihat. Tak jauh dari pos pemeriksaan, bertuliskan “Patuha Golden Rules: The Special” terlihat. The Special merupakan akronim. Toxic gasses, height, energy isolation, safety driving, permit to work, environment, confined space, in good health, access control, dan lifting.
Satu bangunan yang difungsikan sebagai ruang kontrol dan administrasi. Siang itu, di halaman telah terpasang tenda. Dua layar LCD yang terpasang mengapit panggung.
Seorang pria berjaket baseball dengan bordir Patuha di punggung naik ke atas panggung.
“PLTP Patuha beroperasi kurang lebih mendekati 100% selama satu tahun,” kata General Manager PT Geo Dipa Energi unit Patuha Ruly Husnie Ridwan, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (8/11/2024).
PLTP Patuha unit 1 terletak di sekitar Gunung Patuha, Kabupaten Bandung. Tingginya sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
PLTP Patuha ini dibangun dengan biaya dari PT Bank Nasional Indonesia Tbk (persero). Menjadi salah satu proyek pertama yang dibiayai menggunakan bank pemerintah. Pada 9 September 2014, PLTP Patuha beroperasi dengan kapasitas maksimal 60 megawatt (MW).
Kapasitas listrik dari PLTP Patuha unit 1 tersebut bersumber dari pipa berisi uap panas yang berasal dari 12 sumur produksi. Uap panas itu kemudian dialirkan ke dalam pipa perak.
Power Plant Operation Superintendent unit Patuha Rizal Sofyan menjelaskan, terdapat dua jalur pipa perak. Pipa di jalur Barat memiliki panjang 1,5 kilometer dan pipa di jalur Timur sepanjang 3 kilometer.
Uap panas tersebut, kata Rizal, kemudian dialirkan ke diffuser untuk memisahkan antara uap panas dan air. Uap panas yang telah terpisah kemudian dialirkan untuk menggerakkan turbin yang terhubung ke generator.
“Dari sinilah terjadi perubahan dari energi mekanik menjadi energi listrik,” kata Rizal.
Rizal menjelaskan keluaran tegangan dari generator ini sebesar 15 kilo Volt. Energi listrik yang keluar akan dialirkan melewati trafo dan akan dinaikkan menjadi 150 kilo Volt yang terkoneksi dengan jaringan listrik Jawa, Madura, dan Bali (Jamali).
“Untuk pengaturan pemakaiannya akan diserahkan ke PLN,” ujar dia.
Selain mengalirkan tegangan listrik ke PT PLN (Persero), listrik yang dihasilkan juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan PLTP Patuha unit 1. Besarannya 6,3 kilo Volt.
“Jadi ada beberapa motor yang menggunakan tegangan 6,3 kilo Volt. Sementara itu untuk penggunaan operasional diturunkan kembali ke 380 Volt untuk penggunaan pompa dan operasional baik dari sisi pembangkit dan administrasinya,” tuturnya.
Sementara itu, air yang terpisah dimasukkan ke kondensor untuk dinormalkan di menara pendingin. Air yang suhunya sekitar 45 derajat Celcius diubah menjadi sekitar 20 derajat Celcius.
Air yang sudah didinginkan diinjeksi kembali ke reservoir sehingga bisa dimanfaatkan kembali sebagai penguapan geothermal. Uap panas dari sumur PLTP Patuha memiliki karakteristik temperatur hingga 225 derajat Celcius hasil dari pengeboran sedalam 1.500 meter hingga 2.000 meter.
Pada 2027 mendatang, Ruly menjelaskan, PLTP Patuha akan menambah kapasitas listrik hingga 110 MW. Kapasitas listrik tambahan ini berasal dari PLTP Unit 2.
Saat ini, progres pembangunan PLTP Unit 2 sudah mencapai 50%. Geo Dipa, ujar Ruly, akan terus mengembangkan PLTP Patuha untuk memenuhi Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PT PLN (Persero) dengan total kapasitas 400 MW. Total konsesi ini dapat terpenuhi dengan pembangunan lanjutan hingga delapan unit PLTP.
“Kita berharap for the next 10 years beberapa unit selanjutnya akan terbangun,” ujar Ruly.
Proses pembangunan memiliki tahapan. Ruly mengatakan unit 2 hingga unit 6 dalam pembangunan awal rencananya akan memiliki kapasitas listrik hingga 55 MW. Adapun unit 7 dan unit 8 berikutnya akan menghasilkan kapasitas listrik 35 MW.
Masih menurut Ruly, penambahan unit pada PLTP Patuha diinisiasi oleh Clean Techonology Fund (CTF), dengan bunga pinjaman yang sangat ringan. “Kalau ADB (Asian Development Bank) bunga pinjamannya di angka 0,5%, CTF mungkin lebih ringan lagi,” tutur dia.
Selain dari CTF, pembangunan PLTP Unit 2 Patuha juga bersandar pada pinjaman ADB sebesar US$ 300 juta atau Rp 4,6 triliun. Tak hanya untuk PLTP Unit 2 Patuha, dana itu juga digunakan untuk membangun PLTP Dieng 2.
Untuk mendanai sejumlah proyek energi baru dan terbarukan yang digarapnya, Geo Dipa Energi sebelumnya juga telah menerima Penyertaan Modal Negara (PMN) sebanyak dua kali. PMN diberikan pada 2015 dan 2020. Pada 2015, pemerintah mengucurkan pendanaan sebesar Rp 607,307 miliar dan, lima tahun kemudian, kucuran dana segar pemerintah naik menjadi Rp 700 miliar.
Potensi Energi Baru Terbarukan
Secara operasional, PLTP Patuha beroperasi 8.760 jam atau setahun penuh. Selama 10 tahun beroperasi PLTP Patuha unit 1 telah memberikan penyaluran listrik sebesar 4.018.100 KiloWatt hour (KWh).
Sumber listrik dari panas bumi menjadi salah satu jawaban upaya pemerintah mengurangi emisi yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbasis batu bara.
Saat ini, target penggunaan energi baru terbarukan (EBT) nasional sebesar 19,5% di seluruh Indonesia. Sementara, realisasinya sampai dengan September 2024 baru tercapai 13,93%.
Berdasarkan data, EBT yang digunakan untuk menyuplai listrik dihasilkan dari sumber energi yang berasal dari pembangkit listrik tenaga air, panas bumi, dan surya. Khusus untuk Pulau Jawa dan Bali, komposisi tiga EBT ini tercatat menghasilkan daya listrik sebesar 1.494,8 GWh.
Tenaga hidro atau air, memiliki komposisi sebesar 3,24% dari total pasokan listrik atau sebesar 657,5 GWh. Panas bumi menyumbang 3,98% atau 808,3 GWh. Adapun energi surya baru menyumbang sebesar 0,14% atau 29 GWh.
Bandingkan komposisi ini dengan suplai yang berasal dari batu bara dan gas, serta Marine Fuel Oil (MFO) dan High Speed Diesel (HSD). Batu bara masih menjadi penyumbang terbesar pasokan listrik dengan komposisi 72,41% atau 14.691 GWh. Sementara gas sebesar 10,54% atau 2.138,3 GWh.
Adapun LNG komposisinya sebesar 8,83% atau sebesar 1.792 GWh. Sementara untuk MFO dan HSD masing-masing berkontribusi sebesar 0,13% atau sebesar 26,4 GWh dan 0,72% atau sebesar 172,16 GWh.
Reforminer Institute mencatat potensi pemanfaatan panas bumi di Indonesia sebesar 23.765,5 MW. Tetapi, pemanfaatannya yang baru sekitar 10,3% dari total tersebut. Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro berharap terhadap sokongan pemerintah untuk sokongan awal pengembangan PLTP.
“Biaya investasi awal yang tinggi serta kesulitan dalam menemukan sumber panas bumi yang tepat menjadi kendala,” kata Komaidi, Agustus lalu.
Setali tiga uang, Direktur Pengembangan dan Eksplorasi Geo Dipa Energi Ilen Kardani menyadari biaya mahal pengembangan PLTP ini. Dia menyontohkan eksplorasi untuk sumber panas bumi di Wae Sano, Nusa Tenggara Timur dan Jailolo, Maluku Utara. Meski mendapat penugasan dari pemerintah, biaya investasi untuk menemukan sumber uap panas di wilayah ini butuh biaya yang tak murah.
“Risiko pengeboran itu paling tinggi, karena satu pengeboran sumur itu membutuhkan investasi sekitar US$ 5 juta. Kalau satu sumur tidak memenuhi, itu menjadi sunk cost,” ujar Ilen.
Meski demikian, dia bersyukur. Sebab, sumur milik Patuha menuai berkah. Alasannya sederhana. Dia membandingkan dengan uap panas yang dihasilkan di China. “Di China dengan kedalaman 5.500 meter baru dapat suhu 190 derajat Celcius,” kata Ilen.
Selain Patuha, dia juga membanggakan panas bumi yang didapat dari kawasan Dieng, Jawa Tengah. Menurutnya, sumber panas bumi di Dieng mampu menghasilkan suhu lebih dari 300 derajat Celcius.
Beri Setoran ke Kas Negara
Panas bumi memiliki kinerja yang efisien. Dengan operasional yang berlangsung selama setahun penuh, PLTP bisa melakukan pemeliharaan terjadwal selama dua hingga tiga tahun sekali.
Ilen menyatakan tarif listrik yang dipasarkan Geo Dipa Energi sejauh ini kompetitif. Tarif listrik yang diterima oleh Geo Dipa Energi dari PLTP Patuha sebesar US$ 7 sen per kilowatt hour (KWh). Tarif tersebut lebih murah jika dibandingkan dengan sumber listrik yang berasal dari energi baru terbarukan lainnya di kisaran US$ 9-10 sen per KWh.
Kinerja yang efisien ini membuat pendapatan PLTP Patuha tinggi. Ilen berkelakar, kemampuan ini bikin pendapatan dan keuntungan dari PLTP Patuha bisa menghasilkan setoran yang besar buat pemerintah. “Dalam setahun kita memberikan setoran ke negara sekitar Rp 200 miliar,” ujar dia.
Ruly menjelaskan PLTP Patuha punya dua setoran. Pertama berupa pajak yang ditransfer ke pemerintah pusat. Kedua, bonus produksi yang dialirkan dananya ke daerah penghasil. Dari pemda, dana dari bonus produksi diberikan ke tingkat desa yang terdampak proyek pembangkit panas bumi.
Aturan setoran ini sesuai Keppres Nomor 49 Tahun 1991 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pungutan-pungutan Lainnya Terhadap Pelaksanaan dan Izin Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi untuk Membangkitkan Energi Listrik. Lewat beleid ini pengusaha panas bumi berkewajiban menyetor bagian pemerintah atau setoran bagian pemerintah (SBP) sebesar 34% dari penerimaan bersih usaha (Net Operating Income) ke dalam rekening panas bumi di Bank Indonesia. Dalam SBP ini disetorkan semua kewajiban pembayaran pajak dan pungutan lain, kecuali pajak pribadi.
Geo Dipa Energi juga memberikan Bonus Produksi sebesar 0,5% dari pendapatan kotor dari penjualan listrik langsung kepada pemerintah daerah penghasil Panas Bumi tempat wilayah kerja panas bumi (WKP) yang berada di Dieng dan Patuha. Setoran Bonus Produksi ini diberlakukan sesuai dengan Permen ESDM Nomor 23 Tahun 2017.
Geo Dipa Energi memproyeksikan dapat berkontribusi melalui SBP tahun 2024 sekitar Rp 140 miliar. Angka ini belum termasuk dividen yang akan dibayarkan tahun 2024 atas kinerja tahun 2023 sebesar kurang lebih Rp 21 miliar, serta bonus produksi yang diberikan langsung kepada daerah penghasil panas bumi.
Selain berdampak bagi lingkungan, pemanfaatan panas bumi juga mampu menguatkan ekonomi masyarakat lokal. Misalnya, PLTP Patuha telah berkontribusi bagi UMKM lokal, beasiswa, penguatan BUMDes, hingga pariwisata lokal yang setara Rp 5,07 miliar.
Melihat potensinya, tak salah rasanya terus memaksimalkan potensi panas bumi yang ada di Indonesia. Seperti kisah Pangeran Jaya Pakuan yang melakukan perjalanan dari Pulau Jawa ke Bali dalam naskah legendaris Bujangga Manik, kini Gunung Patuha juga menawarkan kisah serupa. Memberikan manfaat energi listrik untuk Jawa, Madura, dan Bali.

